Jatengvox.com – Potensi pertanian bunga melati di wilayah pesisir dan pedesaan kerap menyisakan residu organik berupa bunga afkir atau sisa sortiran yang belum termanfaatkan secara optimal.
Melihat peluang tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro periode 2026 melaksanakan program kerja multidisiplin kedua berupa pembuatan video tutorial edukatif pembuatan pupuk organik berbahan dasar limbah bunga melati dengan format dua bahasa (bilingual) di Desa Depok, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang.
Program ini diinisiasi untuk memberikan solusi praktis atas penumpukan limbah organik perkebunan melati sekaligus menyediakan panduan terstruktur yang mudah dipraktikkan oleh warga sekitar.
Ketiadaan panduan visual yang praktis dan terstandarisasi selama ini membuat sebagian petani dan masyarakat hanya membuang sisa melati begitu saja, padahal kandungan organiknya bernilai guna tinggi jika diolah menjadi pupuk kompos atau nutrisi tanaman.
Melalui integrasi keilmuan Bahasa Asing Terapan dan pendekatan multidisiplin, mahasiswa menerapkan teknik audio-visual translation serta subtitling (takarir dwibahasa Indonesia – Inggris). Fokus utama perancangan video ini ditekankan pada penyampaian instruksi menggunakan plain language (bahasa yang lugas dan tidak berbelit-belit) serta visualisasi tahapan fermentasi limbah secara rinci dan terstruktur.
Pendekatan ini bertujuan memastikan transfer pengetahuan dapat berlangsung efektif bagi masyarakat lokal, sekaligus tetap aksesibel dan informatif apabila diakses oleh audiens eksternal, seperti wisatawan maupun peneliti luar daerah.

Dalam proses produksinya, mahasiswa mendokumentasikan setiap langkah pengolahan, mulai dari pencacahan limbah melati, pencampuran aktivator mikroorganisme, hingga masa pematangan pupuk. Video hasil akhir kemudian ditayangkan dan dibagikan kepada perwakilan kelompok tani serta warga setempat untuk menguji kemudahan pemahaman konten instruksional tersebut.
Salah seorang warga yang menyaksikan video tutorial tersebut memberikan respon positif terhadap kejelasan panduan yang disajikan.
“Penjelasannya cukup jelas dan mudah ditiru karena ada tulisan terjemahannya dan langkah-langkahnya langsung diperlihatkan dari awal sampai jadi. Bahan tambahannya juga sederhana, jadi kami di rumah ada gambaran untuk mencoba memanfaatkan sisa melati daripada cuma dibuang,” ungkapnya setelah sesi pemutaran materi.
Melalui peluncuran video tutorial dwibahasa ini, Tim KKN Undip berharap masyarakat Desa Depok dapat secara mandiri mengolah limbah melati menjadi produk pupuk yang bermanfaat bagi lahan pekarangan maupun pertanian lokal, sekaligus memperkaya arsip media edukasi desa yang ramah teknologi dan berwawasan lingkungan.
Penulis: Tim KKN UNDIP
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar