Jatengvox.com – Semangat kemerdekaan berpadu dengan lantunan doa syukur dalam malam tirakatan yang digelar warga RT 01/RW 02 Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, Sabtu malam (16/8/2026).
Mahasiswa KKN Kolaborasi UIN Saizu Purwokerto 2026 turut hadir dan larut dalam kehangatan tradisi tahunan yang sarat makna ini.
Malam tirakatan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Indonesia untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus.
Namun yang membuat malam ini terasa istimewa adalah perpaduan apik antara nilai nasionalisme dan nilai religius yang mengalir secara natural dalam setiap rangkaian acaranya.
Acara dimulai dengan pembukaan yang khidmat, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Suara warga berpadu mengisi malam, mengingatkan semua yang hadir bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan, melainkan tanggung jawab yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Rangkaian sambutan kemudian menjadi momen yang paling berkesan. Ketua kelompok KKN menyampaikan apresiasinya atas kehangatan warga Desa Selokerto yang telah menerima kehadiran mahasiswa dengan tangan terbuka.
Sambutan dilanjutkan oleh perwakilan DPRD yang turut hadir memberikan dukungan dan semangat kepada warga.
Puncak sambutan datang dari Kepala Desa Selokerto, Pak Paino, yang menyampaikan pesan penuh makna kepada seluruh warga yang hadir.
“Kemerdekaan yang didapat dengan tidak gampang jangan disia-siakan. Jangan lupa kobarkan semangat nasionalisme, salah satu yang paling gampang dengan bersyukur bersama dan mengisi HUT RI ini dengan kegiatan positif,” tegasnya di hadapan warga.
Pesan tersebut disambut hangat dan menjadi pengingat bersama bahwa malam tirakatan bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk kembali menghayati arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan doa bersama — memanjatkan syukur atas nikmat kemerdekaan sekaligus memohon keberkahan bagi bangsa dan desa.
Di sinilah letak keunikan tirakatan: nasionalisme dan religiusitas bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu keping yang sama.
Acara kemudian ditutup dengan sesi ramah tamah yang penuh canda dan keakraban. Salah satu pemandangan paling hangat malam itu adalah meja panjang yang penuh sesak dengan aneka makanan.
Setiap keluarga membawa satu hidangan dari rumah masing-masing — tradisi sederhana yang justru melahirkan kelimpahan luar biasa. Tidak ada yang kekurangan, semua berbagi, semua menikmati.
Nilai kebersamaan hadir bukan dalam pidato, melainkan dalam sepiring makanan yang diangsurkan ke tetangga sebelah.
Bagi mahasiswa KKN Kolaborasi UIN Saizu 2026, malam tirakatan di Desa Selokerto bukan hanya pengalaman budaya, tetapi ruang belajar yang sesungguhnya.
Dalam satu malam, mereka menyaksikan bagaimana masyarakat desa mampu merawat nasionalisme, menjaga spiritualitas, dan mempererat kebersamaan tanpa memisah-misahkan ketiganya. Semoga semangat malam tirakatan ini terus menyala, bukan hanya setiap 16 Agustus, tetapi dalam keseharian hidup bermasyarakat.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar