Sepeda dari Ayah

waktu baca 1 menit
Minggu, 4 Okt 2026 10:06 5 jatengvox

Pagi itu Ayah membawa sepeda,

dua rodanya baru, bel kecil di setangnya.

“Ini untukmu,” kata Ayah sambil tersenyum,

Iklan

hatiku ingin melompat kegirangan.

Ayah membawaku ke halaman rumah,

tangannya memegang bagian belakang sepeda.

Aku menggenggam setang dan mulai mengayuh,

perlahan roda bergerak ke depan.

Satu putaran, dua putaran,

aku ingin melaju semakin jauh.

Namun tiba-tiba bruk! Aku terjatuh,

lututku perih dan mataku berkaca.

Ayah segera datang menghampiriku,

Baca juga:  Duduk Santai di Rosali, Irham Kahfi dan Puthut EA Bahas "Mentalitet Korea" ala Bambang Pacul

“Tidak apa-apa, ayo coba lagi.”

Aku mengangguk dan berdiri kembali,

lalu mencoba mengayuh sekali lagi.

Kali ini aku mengayuh lebih berani,

angin pagi menyapaku di perjalanan.

Seolah berkata, “Ayo, jangan berhenti!”

Aku terus melaju melewati halaman.

Tanpa kusadari, tangan Ayah terlepas,

tetapi sepedaku tetap melaju.

Aku menoleh dan berteriak gembira,

“Yah! Aku bisa!”

Ayah tersenyum dari ujung halaman,

sambil mengangkat tangannya tinggi.

Bel sepedaku berbunyi, “kring… kring…”

seperti ikut bernyanyi.

Sejak hari itu aku sering bersepeda,

setiap sore di depan rumah.

Baca juga:  Idealisme Titipan Senior: Peneguk Syahwat Kekuasaan dan Pembunuh Mata Air Perkaderan HMI

Sepeda itu menjadi teman kecilku,

menemaniku bermain hingga senja.

Kini setiap bel sepedaku berbunyi,

“kring… kring…” terdengar di jalan.

Aku selalu teringat pagi itu,

saat Ayah mengajariku mengayuh.

 

 

Karya: Nova Paradhita Wulandari

Instagram: @antheanva_

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA