Pagi itu Ayah membawa sepeda,
dua rodanya baru, bel kecil di setangnya.
“Ini untukmu,” kata Ayah sambil tersenyum,
hatiku ingin melompat kegirangan.
Ayah membawaku ke halaman rumah,
tangannya memegang bagian belakang sepeda.
Aku menggenggam setang dan mulai mengayuh,
perlahan roda bergerak ke depan.
Satu putaran, dua putaran,
aku ingin melaju semakin jauh.
Namun tiba-tiba bruk! Aku terjatuh,
lututku perih dan mataku berkaca.
Ayah segera datang menghampiriku,
“Tidak apa-apa, ayo coba lagi.”
Aku mengangguk dan berdiri kembali,
lalu mencoba mengayuh sekali lagi.
Kali ini aku mengayuh lebih berani,
angin pagi menyapaku di perjalanan.
Seolah berkata, “Ayo, jangan berhenti!”
Aku terus melaju melewati halaman.
Tanpa kusadari, tangan Ayah terlepas,
tetapi sepedaku tetap melaju.
Aku menoleh dan berteriak gembira,
“Yah! Aku bisa!”
Ayah tersenyum dari ujung halaman,
sambil mengangkat tangannya tinggi.
Bel sepedaku berbunyi, “kring… kring…”
seperti ikut bernyanyi.
Sejak hari itu aku sering bersepeda,
setiap sore di depan rumah.
Sepeda itu menjadi teman kecilku,
menemaniku bermain hingga senja.
Kini setiap bel sepedaku berbunyi,
“kring… kring…” terdengar di jalan.
Aku selalu teringat pagi itu,
saat Ayah mengajariku mengayuh.
Karya: Nova Paradhita Wulandari
Instagram: @antheanva_
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar