Jatengvox.com – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mencatat sejumlah kemajuan penting dalam penyelesaian persoalan perbatasan sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut mencakup perbatasan Indonesia dengan Malaysia, Timor-Leste, dan Vietnam—wilayah yang selama ini menjadi perhatian strategis dalam diplomasi kawasan.
Di tengah situasi geopolitik global yang semakin dinamis dan sulit diprediksi, Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga kedaulatan nasional melalui pendekatan diplomasi yang aktif, terukur, dan berorientasi pada stabilitas jangka panjang.
Menteri Luar Negeri Sugiono menekankan bahwa menjaga kedaulatan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga pada kerja sama strategis dengan negara mitra.
Hal tersebut disampaikan dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Menurut Sugiono, sepanjang satu tahun terakhir Indonesia telah menyepakati tujuh kerja sama di bidang pertahanan serta 16 perjanjian penegakan hukum dengan berbagai negara mitra.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kepastian kerja sama regional dan meningkatkan interoperabilitas di kawasan.
“Pertahanan dan keamanan kita terus dibangun melalui jaringan strategis yang saling menguatkan dengan mitra-mitra kunci,” ujar Sugiono.
Selain kerja sama formal, Indonesia juga aktif membuka ruang dialog tingkat tinggi. Sepanjang 2025, pemerintah menggelar empat dialog 2+2 bersama negara mitra utama, yakni Tiongkok, Jepang, Australia, dan Turki. Forum ini melibatkan kementerian luar negeri dan pertahanan dari masing-masing negara.
Sugiono menyebut, intensitas pertemuan tersebut mencerminkan kesadaran bersama bahwa stabilitas kawasan harus dijaga melalui komunikasi terbuka, terlebih di tengah meningkatnya risiko salah persepsi dan salah perhitungan antarnegara.
Diplomasi, dalam konteks ini, menjadi instrumen penting untuk mencegah eskalasi dan menjaga kepercayaan antarnegara.
Pemerintah menilai ketahanan nasional tidak dibangun melalui unjuk kekuatan semata. Sebaliknya, kepastian hukum, pencegahan konflik, serta dialog berkelanjutan menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas.
Pendekatan ini sejalan dengan posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mengedepankan prinsip perdamaian, non-konfrontasi, dan kerja sama regional.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Malaysia, termasuk dalam penyelesaian berbagai isu perbatasan yang masih memerlukan pembahasan teknis lanjutan.
Presiden menyampaikan bahwa kedua negara memiliki kesamaan pandangan untuk mencari solusi yang adil dan saling menguntungkan, meskipun proses penyelesaiannya membutuhkan waktu.
“Prinsipnya kita sepakat untuk mencari penyelesaian yang menguntungkan kedua pihak,” kata Presiden Prabowo.
Editor : Murni A













