Jatengvox.com – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan pendampingan desa pada Senin, 6 Januari 2026, bertempat di Desa Limbangan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.
Kegiatan ini mengusung tema “Desa Sehat Religius: Pemberdayaan Masyarakat melalui Program Kesehatan Desa Berbasis Nilai Keagamaan.”
Pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat desa dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dan pendekatan kesehatan masyarakat.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Mahmud Yunus Mustofa, M.Pd. dengan judul “Kesehatan sebagai Amanah Ilahiah: Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Mewujudkan Desa Sehat Religius.”
Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa kesehatan bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dipelihara.
Dr. Mahmud menjelaskan bahwa konsep kebersihan dan kesehatan memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam, seperti nilai thaharah (kesucian) dan prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya dalam menjaga jiwa (hifz al-nafs), akal, keturunan, harta, dan agama. Menjaga kebersihan lingkungan, air, serta pola hidup sehat dipandang sebagai bagian dari ibadah dan wujud keimanan.
Dalam konteks desa, beliau mendorong lahirnya gerakan Desa Sehat Religius melalui aksi nyata, seperti kerja bakti kebersihan, edukasi sanitasi, pengelolaan sampah, penghijauan lingkungan masjid (green mosque), serta perubahan pola hidup sehat berbasis nilai Islam.
Materi kedua disampaikan oleh Giyantolin, S.Si., M.Epid, dengan judul “Penguatan Kesehatan Masyarakat Desa: Edukasi dan Partisipasi Komunitas sebagai Fondasi Desa Sehat.”
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa konsep desa sehat harus dibangun secara komprehensif dan partisipatif, melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Giyantolin menjelaskan bahwa desa sehat ditandai dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), lingkungan yang bersih dan aman, pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau, serta kondisi gizi masyarakat yang baik.
Salah satu fokus utama yang disoroti adalah pencegahan stunting, khususnya pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), melalui pemenuhan gizi, ASI eksklusif, MPASI sehat, imunisasi, serta pemantauan rutin di Posyandu.
Selain itu, ia juga memaparkan pentingnya edukasi kesehatan, pemberdayaan kader desa, dukungan infrastruktur sanitasi, serta kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Berbagai program inovatif berbasis Education for Sustainable Development (ESD) dipandang mampu mendukung keberlanjutan desa sehat.
Melalui kegiatan pendampingan ini, LP2M UIN Walisongo Semarang berharap konsep Desa Sehat Religius dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat desa yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan fisik, tetapi juga penguatan nilai spiritual, sosial, dan lingkungan.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat Desa Limbangan, yang diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai dan program yang telah disampaikan untuk mewujudkan desa yang sehat, religius, dan berdaya secara berkelanjutan.
Editor : Murni A













