Harga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Tetap Aman

Rabu, 4 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) mulai terasa di pasar global. Namun, pemerintah memastikan kondisi tersebut belum menjadi ancaman serius bagi keuangan negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam posisi terkendali meskipun harga minyak dunia merangkak naik hingga menyentuh 80 dolar AS per barel.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3). Ia menilai, pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup fleksibel untuk menghadapi fluktuasi harga energi global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Purbaya, lonjakan harga minyak memang menjadi salah satu kanal utama dampak konflik geopolitik terhadap ekonomi Indonesia. Namun, selama harga minyak masih dalam rentang tertentu, APBN tetap dapat dikelola.

Baca juga:  Prestasi Atlet Demak Bikin Heboh di Kejurnas Atletik 2025, Pulang Bawa Medali Perak dan Perunggu

“Harga minyak sudah ke 80 dolar AS per barel. Saya hitung sampai 92 dolar AS pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujarnya.

Artinya, pemerintah telah mengantisipasi potensi kenaikan harga minyak dalam perhitungan fiskal. Selama tidak melampaui batas toleransi tersebut, tekanan terhadap subsidi energi maupun defisit anggaran dinilai masih bisa diredam.

Purbaya juga menegaskan dirinya tidak terlalu khawatir terhadap gejolak harga dalam jangka pendek. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan global sebelum menentukan langkah lanjutan.

Salah satu strategi utama untuk menjaga stabilitas fiskal adalah memperkuat penerimaan negara. Purbaya menekankan pentingnya memastikan tidak ada kebocoran dalam pengumpulan pajak dan cukai.

Baca juga:  AgenBRILink Jadi Tulang Punggung Inklusi Keuangan, Transaksi Tembus Rp1.145 Triliun hingga Agustus 2025

Menurutnya, optimalisasi penerimaan bisa menjadi bantalan untuk menekan potensi pelebaran defisit akibat kenaikan harga minyak.

“Pengumpulan pajak kita dan cukai tidak ada yang bocor. Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa, baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” jelasnya.

Dalam konteks APBN, kenaikan harga minyak memang bisa berdampak ganda. Di satu sisi, penerimaan negara dari sektor energi berpotensi naik. Namun di sisi lain, beban subsidi dan kompensasi energi juga bisa meningkat jika harga global terus melonjak.

Karena itu, keseimbangan antara pendapatan dan belanja menjadi kunci.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Israel melancarkan serangan yang disebut sebagai “operasi tempur besar” terhadap Iran pada Sabtu (28/2). Sejak itu, kedua pihak terlibat aksi saling serang yang memicu kekhawatiran pasar global.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 21 Dorong Minat Belajar Siswa SD Islam Gintungan Melalui Program Gogik Library

Kawasan regional ikut terdampak. Jalur pelayaran di sekitar Teluk dilaporkan mengalami gangguan. Sejumlah kapal niaga tertahan, sementara beberapa perusahaan pelayaran global memilih menghentikan operasional demi alasan keselamatan awak dan kargo.

Di pasar Asia, harga minyak mentah Brent pada Senin (2/3/2026) melonjak ke kisaran 80–81,5 dolar AS per barel. Dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp1,35–1,37 juta per barel.

Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

BRI Finance Perkuat Awareness Pembiayaan Komersial di Ajang LiuGong Customer Gathering 2026
Rupiah Kembali Tertekan Ke-level Terendah Rp17.300 per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC di Bittime Melonjak dalam 24 Jam
Perkuat Konektivitas Menuju Kawasan Wisata Unggulan, Jasa Marga Pastikan Kesiapan Akses Ratu Boko Jalan Tol Jogja-Solo
Tunjukkan Kiprah Nyata melalui Inovasi Berkelanjutan Terobosan Pertama di Indonesia, Srikandi Jasa Marga Raih Anugerah Kartini Infrastruktur 2026
KAI Terapkan Sistem Kelistrikan Berlapis untuk Menjamin Keandalan Operasional LRT Jabodebek
Peringati Hari Kartini, Frontliner BRI Kantor Cabang Khusus Tampil Beda dengan Pakaian Nasional
E-Wallet Makin Jadi Andalan: Cara Kerja, Tren Pengguna, dan Biayanya
Inaugurasi Horison IJ Kudus, Hadir Sebagai Ikon Baru Business & Lifestyle di Kota Kretek

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 22:03 WIB

BRI Finance Perkuat Awareness Pembiayaan Komersial di Ajang LiuGong Customer Gathering 2026

Kamis, 23 April 2026 - 20:03 WIB

Rupiah Kembali Tertekan Ke-level Terendah Rp17.300 per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC di Bittime Melonjak dalam 24 Jam

Kamis, 23 April 2026 - 20:03 WIB

Perkuat Konektivitas Menuju Kawasan Wisata Unggulan, Jasa Marga Pastikan Kesiapan Akses Ratu Boko Jalan Tol Jogja-Solo

Kamis, 23 April 2026 - 20:03 WIB

Tunjukkan Kiprah Nyata melalui Inovasi Berkelanjutan Terobosan Pertama di Indonesia, Srikandi Jasa Marga Raih Anugerah Kartini Infrastruktur 2026

Kamis, 23 April 2026 - 19:03 WIB

KAI Terapkan Sistem Kelistrikan Berlapis untuk Menjamin Keandalan Operasional LRT Jabodebek

Berita Terbaru