Jatengvox.com – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan sejarah baru dalam pencapaian investasi.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, realisasi investasi di wilayah ini menembus angka Rp88,50 triliun, tertinggi sepanjang sejarah Jawa Tengah.
Data tersebut dirilis Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 15 Januari 2026.
Capaian ini sekaligus menegaskan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu daerah tujuan investasi paling kompetitif di Indonesia, baik bagi investor dalam negeri maupun asing.
Tak hanya dari sisi nilai, lonjakan investasi tersebut juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi.
Sepanjang 2025, tercatat 105.078 proyek yang terealisasi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.
Dari total realisasi investasi Rp88,50 triliun, porsi terbesar berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp37,64 triliun.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyebut capaian tersebut merupakan buah dari konsistensi pemerintah daerah dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif.
“Kami menempatkan diri sebagai manager marketing investasi. Tugas kami memastikan kepastian hukum, keamanan, dan kemudahan berusaha. Investor harus merasa nyaman ketika menanamkan modalnya di Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi.
Menurutnya, kepercayaan investor tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui stabilitas daerah, pelayanan perizinan yang cepat, serta komunikasi aktif antara pemerintah dan pelaku usaha.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, capaian investasi Jawa Tengah mengalami lonjakan yang cukup tajam.
Pada 2024, realisasi investasi tercatat sebesar Rp68,67 triliun. Angka tersebut melonjak menjadi Rp88,50 triliun pada 2025, atau meningkat Rp19,83 triliun (28,88 persen).
Gubernur Ahmad Luthfi menilai, kenaikan ini tidak lepas dari percepatan perizinan, penguatan kawasan industri, serta sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
“Kami bergerak cepat memangkas hambatan birokrasi dan memastikan proyek berjalan tepat waktu. Itu yang dicari investor,” katanya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan bahwa kontribusi investasi pada 2025 tersebar di sejumlah daerah strategis.
Lima daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah adalah:
Kabupaten Kendal: Rp15,86 triliun
Kota Semarang: Rp11,15 triliun
Kabupaten Demak: Rp9,06 triliun
Kabupaten Batang: Rp6,73 triliun
Kabupaten Semarang: Rp4,38 triliun
Menurut Sakina, pemerataan investasi mulai terlihat, khususnya di wilayah Pantura dan kawasan industri terintegrasi.
“Kendal, Batang, dan Demak menunjukkan bahwa pengembangan kawasan industri yang terencana mampu menarik investor besar sekaligus membuka lapangan kerja,” jelasnya.
Dari sisi sektor usaha, investasi di Jawa Tengah pada 2025 masih didominasi oleh industri pengolahan. Lima sektor terbesar meliputi:
Industri barang dari kulit dan alas kaki: Rp11,37 triliun
Industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi: Rp9,70 triliun
Industri karet dan plastik: Rp8,96 triliun
Industri tekstil: Rp7,97 triliun
Perumahan, kawasan industri, dan perkantoran: Rp7,47 triliun
Dominasi sektor manufaktur ini dinilai memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai basis industri nasional, terutama industri padat karya dan hilirisasi.
“Kami mendorong agar investasi memberi dampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Sakina.
Berdasarkan negara asal PMA, lima penanam modal terbesar di Jawa Tengah pada 2025 berasal dari:
Hong Kong: Rp12,92 triliun
Singapura: Rp11,43 triliun
Republik Rakyat Tiongkok: Rp10,13 triliun
Korea Selatan: Rp4,96 triliun
Samoa Barat: Rp2,96 triliun
Masuknya investor dari berbagai negara tersebut menunjukkan daya saing Jawa Tengah di mata global kian menguat.
Menariknya, pertumbuhan investasi tidak hanya terjadi pada skala besar. Sepanjang 2025, realisasi investasi Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Jawa Tengah mencapai Rp22,143 triliun, meningkat sekitar 12 persen dibandingkan 2024.
Rinciannya, investasi usaha kecil mencapai Rp7,929 triliun, sementara usaha mikro sebesar Rp14,214 triliun.
Menurut Sakina, capaian ini menegaskan bahwa iklim investasi Jawa Tengah inklusif dan memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk tumbuh.
Editor : Murni A














