Jatengvox.com – Perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Jawa Tengah. Data sepanjang 2024 menunjukkan 7.903 kasus, mayoritas dialami anak perempuan.
Angka ini membuat berbagai pihak semakin waspada, termasuk Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin.
Melalui program Pandu Cinta (Pelayanan Terpadu Pencegahan dan Penanganan Perkawinan Anak), PKK Jateng kini mengambil langkah lebih terstruktur untuk menekan praktik pernikahan di usia belia.
Dalam kegiatan Sosialisasi Pandu Cinta di Gedung TP PKK Jawa Tengah, Senin (24/11/2025), Nawal menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kampanye sesaat.
Pandu Cinta merupakan turunan dari program nasional Cepak (Cegah Perkawinan Anak), yang kini diperkuat lewat kerja sama lintas lembaga.
Menurut Nawal, keberhasilan pencegahan perkawinan anak tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak.
Karena itu, program ini melibatkan berbagai lembaga—Mulai dari MUI, Pengadilan Agama, Baznas, hingga organisasi pegiat isu perempuan dan anak.
Kolaborasi ini penting, terutama mengingat sebagian anak yang terpaksa menikah mengajukan dispensasi ke Pengadilan Agama.
PKK Jateng berkomitmen mengawal proses tersebut agar setiap kasus ditangani hati-hati dan tetap mengutamakan perlindungan anak.
Selain itu, PKK juga menggandeng Kementerian Agama untuk memberikan bimbingan pranikah bagi pasangan muda yang terlanjur menikah atau mendapatkan dispensasi.
Tujuannya, agar mereka tetap memiliki bekal pengetahuan dasar tentang keluarga, kesehatan, hingga kesiapan mental.
Fenomena perkawinan anak, ujar Nawal, bukan terjadi tanpa sebab. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat anak lebih rentan memasuki perkawinan dini.
Kemiskinan menjadi penyumbang terbesar. Dalam beberapa keluarga, menikahkan anak dianggap jalan keluar dari tekanan ekonomi.
Pendidikan yang rendah, kehamilan di luar nikah, dan minimnya pemahaman tentang risiko pernikahan di usia anak juga memperparah situasi. Padahal, dampaknya sangat panjang.
Anak berpotensi putus sekolah, rentan mengalami KDRT, sulit bangkit dari jerat kemiskinan, bahkan menghadapi ancaman perceraian lebih tinggi.
“Jika tidak ada intervensi yang tepat, anak kehilangan kesempatan membangun masa depan,” kata Nawal.
Selain fokus pada pencegahan, PKK Jateng juga menggerakkan Forum Anak dan Forum Generasi Berencana (Genre) untuk mendorong anak-anak mengembangkan potensi diri.
Aktivitas positif di forum tersebut diyakini mampu mengurangi risiko pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, maupun hubungan seksual pranikah—faktor-faktor yang sering berujung pada perkawinan anak.














