Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) menginisiasi program pemberdayaan masyarakat multidisiplin di Desa Ketoyan, khususnya Dusun Gagatan, untuk mengatasi permasalahan limbah rumah tangga.
Mereka mentransformasi limbah minyak goreng bekas atau minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomis guna mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Pengelolaan limbah menjadi tantangan krusial di wilayah ini. Kebiasaan masyarakat membuang minyak jelantah sembarangan berisiko merusak struktur tanah dan mencemari sumber air bersih, sementara penggunaan minyak secara berulang demi penghematan dapur dapat memicu risiko kesehatan serius akibat senyawa karsinogenik.

Program yang dijalankan mahasiswa ini menerapkan pendekatan sirkularitas ekonomi melalui integrasi rantai pasok terbalik (reverse logistics), teknologi pemurnian sederhana, edukasi kesehatan, manajemen keuangan mikro, hingga digitalisasi pemasaran bagi kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Dalam aspek teknis, mahasiswa mengajarkan metode pemurnian minyak menggunakan media adsorben arang untuk menghilangkan aroma tengik dan menjernihkan warna minyak yang gelap.
Setelah melalui proses pemurnian, minyak dicampur dengan asam stearat, pewarna, dan essential oil untuk menghasilkan lilin aromaterapi yang menenangkan.
Edukasi komprehensif juga menjadi pilar utama. Masyarakat tidak hanya dilatih teknis pembuatan produk, tetapi juga disadarkan akan bahaya kesehatan penggunaan minyak jelantah berulang serta manfaat terapi komplementer dari lilin aromaterapi untuk meredakan stres.
Untuk menjamin keberlanjutan ekonomi, mahasiswa memberikan pendampingan terkait manajemen usaha, termasuk perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) agar kelompok PKK mampu menentukan harga jual yang kompetitif dan transparan.

Selain itu, aspek legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) turut disosialisasikan agar merek dagang masyarakat terlindungi secara hukum.
Guna menjangkau pasar yang lebih luas, dibentuklah identitas merek komersial bernama “Jelora Ketoyan”.
Mahasiswa mendampingi ibu-ibu PKK dalam pembukaan toko digital di platform Shopee serta mengelola kampanye media sosial melalui akun @jeloraketoyan yang diisi dengan konten edukatif dan branding produk.
Meskipun program berjalan sukses dengan terciptanya produk, toko digital, dan modul edukasi, tim mahasiswa mencatat adanya tantangan dalam pelaksanaannya.
Keterbatasan waktu, disparitas literasi digital dan finansial, serta karakteristik bahan baku yang memerlukan ketelatenan tinggi menjadi hambatan operasional yang dihadapi di lapangan.
Sebagai output akhir, seluruh materi pelatihan telah dikurasi menjadi modul edukasi terpadu berjudul “Potensi Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Menjadi Produk Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomis”.
Dengan adanya aset digital dan modul panduan yang diserahkan, model pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi solusi holistik dalam mewujudkan pembangunan desa yang mandiri secara ekonomi dan berwawasan lingkungan.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar