Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menghadirkan inovasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Kali ini, mahasiswa menyelenggarakan program sosial kemasyarakatan rumpun Sosial Humaniora (Soshum) yang bertajuk “KREASI ORIGAMI: Pengembangan Kreativitas dan Interaksi Sosial Anak melalui Seni Melipat Kertas”.
Program ini dirancang dengan sangat terkoordinasi agar pelaksanaannya dapat berjalan secara tertib, aman, serta mampu menjadi ruang yang ramah dan inklusif bagi anak-anak untuk belajar sekaligus berkreasi bersama teman sebayanya.
Di era digital saat ini, kemampuan motorik halus dan kepekaan sosial anak sering kali terabaikan.
Merespons hal tersebut, pelaksanaan program KREASI ORIGAMI ini didesain tidak sekadar untuk mengajarkan keterampilan fisik dan koordinasi tangan, melainkan turut menyisipkan penguatan nilai-nilai sosial yang esensial.

Tim KKN Undip Desa Sonoharjo, didampingi oleh tiga dosen, yaitu Farid Agushybana, S.KM, DEA, Ph.D, Fariz Nurmita Aziz, S.T.P., M.Sc., dan Dewi Setyaningsih, S.IP., M.A., secara aktif memberikan edukasi dan arahan kepada peserta mengenai pentingnya empati dan saling menghargai.
Anak-anak diajarkan untuk menghargai karya teman, menjaga sikap santun selama kegiatan berlangsung, serta menumbuhkan kebiasaan positif untuk tidak mengambil, mengganggu, atau merusak hasil karya orang lain.
Dalam sesi praktik, pendekatan pedagogis yang diterapkan sangat terstruktur.
Peserta diberikan demonstrasi awal yang jelas, dilanjutkan dengan pendampingan tahapan pelipatan kertas secara sistematis dari dasar untuk membuat berbagai bentuk origami sederhana.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi jembatan sarana edukasi lintas kebudayaan (cross-cultural learning).
Instruktur mengambil kesempatan ini untuk memperkenalkan sejarah singkat origami, menjelaskan posisinya sebagai salah satu bentuk seni melipat kertas tradisional yang kini telah berkembang pesat dan diakui secara global sebagai bagian dari kebudayaan Jepang.
Bagi peserta yang mengalami kesulitan saat sesi praktik, tim fasilitator selalu siap memberikan arahan secara bertahap (scaffolding) agar anak-anak tetap merasa percaya diri dan mampu menyelesaikan karyanya secara mandiri hingga akhir.
Lebih dari sekadar menciptakan bentuk dari kertas, kegiatan KREASI ORIGAMI ini pada intinya difokuskan pada penciptaan ekosistem interaksi sosial yang inklusif.
Fasilitator mendorong anak-anak untuk aktif berkomunikasi, bekerja sama, dan saling memberikan dukungan kepada teman di sekitarnya tanpa membedakan tingkat kemampuan individu dalam membuat karya.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam mencairkan suasana. Kegiatan ini berhasil mengundang antusiasme peserta yang luar biasa serta menciptakan atmosfer belajar yang interaktif, ceria, dan sangat positif.
Di balik layar yang semarak, kelancaran acara ini sangat ditunjang oleh manajemen operasional yang rapi dan terstruktur dari tim mahasiswa KKN.
Ketersediaan dan distribusi logistik—seperti kelengkapan kertas origami, alat peraga, dan perlengkapan pendukung lainnya—didata secara teliti serta dikelola secara efisien agar proses praktik tidak mengalami kendala kekurangan bahan.
Selain itu, aspek transparansi juga dijaga melalui penyusunan estimasi biaya di awal dan pencatatan setiap pengeluaran anggaran secara sistematis sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan pengabdian.
Strategi komunikasi juga dijalankan dengan sangat baik. Seluruh informasi mengenai waktu, tempat, dan alur kegiatan berhasil dikomunikasikan secara jelas dan persuasif kepada calon peserta, pihak sekolah, serta pihak terkait lainnya.

Untuk memastikan rekam jejak pengabdian ini terjaga, setiap tahapan kegiatan didokumentasikan secara rinci.
Mulai dari tahap persiapan teknis, penyampaian materi pengenalan budaya, proses dinamika interaksi anak-anak saat melipat, hingga pameran mini hasil karya origami mereka, semuanya telah diabadikan dalam bentuk foto dan video guna keperluan evaluasi komprehensif serta publikasi luaran program KKN.
Melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam program ini, mahasiswa UNDIP membuktikan bahwa pengabdian dapat dilakukan dengan cara yang kreatif.
Peserta tidak hanya berhasil mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya serta memperoleh pengetahuan dasar tentang seni budaya Jepang, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga yang membekas dalam membangun interaksi sosial yang kooperatif dan saling menghormati di tengah komunitas mereka.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar