Jatengvox.com — Puluhan gulungan benang warna-warni, kain-kain shibori setengah jadi, hingga peralatan pewarnaan bercampur menjadi satu di sudut ruang produksi Batik Shibori Sidomaju, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kondisi ini bukan hal asing bagi usaha kerajinan rumahan yang aktivitas produksinya berjalan setiap hari, di mana urusan menata ulang ruang kerja kerap kalah prioritas dibanding mengejar target pesanan.
Kondisi tersebut yang kemudian mendorong Farhan Alfurqoni, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Diponegoro (Undip), turun langsung mendampingi pelaku usaha Batik Shibori Sidomaju menata ulang area kerja mereka. Pendampingan digelar pada Selasa (4/8/2026) dengan mengangkat metode 5S, yakni Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, sebuah pendekatan manajemen tempat kerja yang lazim diterapkan di industri namun belum banyak dikenal pelaku usaha rumahan seperti Batik Shibori Sidomaju.
Farhan lebih dulu mengajak para pengrajin berdiskusi santai mengenai makna lima prinsip tersebut sebelum turun ke praktik. Seiri diartikan sebagai langkah memilah barang berdasarkan kebutuhan, Seiton berarti menata barang yang telah dipilah agar mudah dijangkau, Seiso adalah membersihkan area kerja, Seiketsu menjaga standar kerapian itu agar konsisten, dan Shitsuke membiasakan seluruh proses tersebut menjadi budaya kerja sehari-hari.
Dari diskusi itu, kegiatan berlanjut ke praktik langsung. Bersama para pengrajin, Farhan mulai memeriksa satu per satu barang di area produksi, mana yang benar-benar terpakai dalam proses produksi di shibori dan mana yang hanya menumpuk tanpa fungsi jelas. Barang yang jarang dipakai disisihkan sementara peralatan yang rutin digunakan justru dipindahkan lebih dekat ke tangan para pengrajin agar tidak perlu mencari-cari saat proses produksi berlangsung.

Rak penyimpanan benang menjadi salah satu titik yang paling terasa perubahannya. Puluhan gulungan benang berbagai warna yang sebelumnya diletakkan tanpa pengelompokan, kini disusun berdasarkan warna dan jenis pada rak bertingkat, sehingga pengrajin bisa langsung mengambil warna yang dibutuhkan tanpa harus membongkar tumpukan.
Sisa bahan dan kotoran yang menumpuk di sela-sela area kerja turut dibersihkan pada sesi yang sama. Farhan menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar bersih-bersih satu kali, melainkan perlu terus dijalankan seusai jam produksi agar area kerja tidak kembali berantakan keesokan harinya.
Untuk melihat sejauh mana perubahan yang terjadi, dokumentasi kondisi area kerja sebelum dan sesudah penataan pun dibandingkan. Hasilnya cukup terlihat: ruang yang semula sesak oleh barang bertumpuk serta berantakan kini punya jalur yang lebih lega dan rapih, dan pengrajin tidak perlu lagi menyingkirkan barang lain hanya untuk menjangkau alat yang mereka butuhkan.
Menjelang akhir pendampingan, perhatian dialihkan pada bagaimana kondisi rapi ini bisa bertahan, bukan hanya berlaku sesaat setelah mahasiswa datang. Farhan membagikan sejumlah kebiasaan sederhana kepada pengrajin, seperti selalu mengembalikan alat ke tempat semula setiap selesai dipakai dan meluangkan waktu singkat untuk mengecek kerapian area kerja secara berkala.
Kebiasaan itu yang diharapkan terus dijalankan meski masa pendampingan mahasiswa KKN telah selesai. Bagi Batik Shibori Sidomaju, penerapan 5S bukan hanya soal ruang kerja yang lebih ringkas dan bersih, tetapi juga bagian dari upaya menjaga proses produksi tetap efisien di tengah rutinitas usaha yang padat setiap harinya.
Penulis : Farhan Alfurqoni
Editor : Uswatun Khasanah
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar