Jatengvox.com – Tembakau sudah sejak lama menjadi salah satu komoditas utama penghasilan bagi petani, terutama di Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ladang tembakau yang tersebar di berbagai desa di wilayah tersebut.
Festival Lembutan Bansari (FLB) merupakan salah satu upaya pemerintah Kecamatan Bansari untuk melestarikan budaya merajang tembakau yang sudah ada sejak lama.
Kegiatan merajang ini memiliki nilai kesenian tersendiri karena membutuhkan teknik khusus dalam mengolah lembaran-lembaran daun tembakau sebelum dipasarkan.
Sejarah Festival Lembutan Bansari dimulai sejak tahun 2017. Awalnya, festival ini lahir sebagai bentuk protes dari para petani yang mengalami kerugian akibat anjloknya harga tembakau.
Pemerintah kecamatan kemudian memfasilitasi aspirasi tersebut dengan menjadikannya sebuah festival. Rudi Astoto, Camat Bansari (Minggu, 3/8/25), menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah sekaligus momentum penting untuk para petani.
“Festival lembutan ini bahkan sudah menjadi tradisi baru di wilayah Kecamatan Bansari, sekaligus kesempatan untuk promosi wisata, kesenian, dan budaya yang ada di Bansari,” ujar Rudi.
Salah satu budaya yang menjadi fokus utama dalam festival ini adalah kegiatan merajang dan mengenjang tembakau secara manual, tanpa menggunakan mesin.
Menurut Arifin (Minggu, 3/8/25), “Justru rasa tembakau yang dirajang secara manual lebih sip,” jelasnya.
Tak hanya itu, berbagai kesenian lokal juga ditampilkan dalam festival ini, seperti kesenian jaranan, kesenian waro, kesenian dayakan, dan lainnya.
Festival ini juga menjadi ruang bagi para pelaku UMKM dari seluruh desa di Kecamatan Bansari untuk mempromosikan produk mereka.
Rangkaian perlombaan turut meramaikan acara, mulai dari tingkat SD hingga dewasa. Ada lomba montase, menghias tumpeng, senam, hingga lomba utama yakni merajang dan menganjang tembakau.
Antusiasme masyarakat sangat besar terhadap kegiatan ini. Festival Lembutan Bansari bahkan menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Selain itu, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari mahasiswa KKN berbagai universitas, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.