Dorong Kemandirian Ekonomi, Tim KKN-T 74 UNDIP Susun Model Bisnis Boemi Maggot melalui Business Model Canvas

waktu baca 6 menit
Rabu, 1 Jul 2026 20:30 6 jatengvox

Jatengvox.com – Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 74 Universitas Diponegoro (UNDIP) melaksanakan kegiatan pengembangan model bisnis Boemi Maggot melalui penyusunan Business Model Canvas (BMC) di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang pada Senin (1/7).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Multidisiplin 2 yang bertujuan untuk memperkuat pengelolaan usaha berbasis circular economy sekaligus mendorong pemanfaatan potensi sampah organik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa bersama pengelola Boemi Maggot berupaya menyusun model bisnis yang dapat menjadi dasar dalam mengembangkan kegiatan budidaya maggot secara lebih terarah, mulai dari pengelolaan sumber daya, pengembangan produk, pemasaran, hingga penguatan kerja sama dengan mitra.

Pengembangan model bisnis dilakukan karena kegiatan budidaya maggot yang telah berjalan di Kelurahan Purwosari memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi unit usaha yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Budidaya maggot memanfaatkan sampah organik sebagai bahan baku sehingga tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang, tetapi juga menghasilkan produk yang berpotensi untuk dipasarkan.

Namun, dalam pelaksanaannya, pengelolaan usaha masih dilakukan secara sederhana dan belum sepenuhnya memiliki perencanaan bisnis yang terstruktur.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemetaan usaha yang dapat membantu pengelola memahami kondisi bisnis secara menyeluruh serta menentukan arah pengembangan Boemi Maggot agar dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan observasi dan pengumpulan informasi mengenai kondisi Boemi Maggot yang dilakukan oleh Tim KKN-T 74 UNDIP.

Informasi yang digali meliputi proses budidaya maggot, jenis produk yang dihasilkan, sumber bahan baku, potensi konsumen, kegiatan pemasaran, kebutuhan sumber daya, serta peluang kerja sama dengan pihak lain.

Selain melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang telah berjalan, mahasiswa juga berdiskusi bersama pengelola untuk mengetahui pengalaman, kebutuhan, kendala, serta potensi yang dimiliki dalam mengembangkan usaha.

Baca juga:  Kolaborasi KKN Posko 10 dan Warga Pongangan: Ciptakan Sabun Ramah Lingkungan dari Eco Enzyme

Informasi tersebut kemudian menjadi dasar bagi mahasiswa dan pengelola untuk menentukan aspek-aspek bisnis yang perlu diperkuat melalui penyusunan model bisnis.

Setelah memperoleh gambaran mengenai kondisi usaha, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan penyusunan Business Model Canvas secara partisipatif bersama pengelola Boemi Maggot.

BMC digunakan sebagai alat untuk memetakan sembilan komponen utama dalam sebuah model bisnis, yaitu customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, dan cost structure.

Melalui pemetaan tersebut, mahasiswa dan pengelola bersama-sama mengidentifikasi siapa konsumen yang menjadi sasaran, nilai yang ditawarkan melalui produk Boemi Maggot, bagaimana produk dapat dipasarkan, bentuk hubungan dengan konsumen, sumber pendapatan, sumber daya dan aktivitas utama, kebutuhan mitra, serta struktur biaya yang perlu diperhatikan dalam menjalankan usaha.

Dalam proses penyusunan BMC, pembahasan juga diarahkan pada pengembangan produk dan peluang pasar Boemi Maggot.

Produk yang dihasilkan dari budidaya maggot memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi sekaligus menjadi bagian dari pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Oleh karena itu, pengelola bersama mahasiswa melakukan pemetaan terhadap calon konsumen dan kebutuhan pasar yang dapat menjadi sasaran pemasaran.

Pembahasan tersebut diharapkan dapat membantu pengelola untuk tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana produk dapat memenuhi kebutuhan konsumen, memiliki nilai jual, serta dipasarkan melalui saluran yang sesuai.

Selain penyusunan BMC, Tim KKN-T 74 juga melakukan penguatan identitas Boemi Maggot sebagai bagian dari pengembangan usaha. Identitas merek diperlukan agar produk yang dihasilkan memiliki ciri khas dan lebih mudah dikenali oleh masyarakat maupun calon konsumen.

Penguatan branding juga menjadi bagian penting dalam mendukung strategi pemasaran karena identitas usaha dapat digunakan pada kemasan, media promosi, maupun kanal pemasaran digital.

Dengan adanya identitas Boemi Maggot, pengelola diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat dalam memperkenalkan produk dan membangun citra usaha yang berkaitan dengan pemanfaatan sampah organik dan budidaya maggot.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Tertib Kearsipan Perangkat Desa Srinahan Pekalongan

“Boemi Maggot tidak hanya kami lihat sebagai kegiatan budidaya maggot, tapi juga sebagai upaya mengubah sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui BMC, kami mencoba memastikan bahwa kegiatan ini memiliki pasar, sistem operasional, dan peluang pendapatan yang jelas sehingga dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Purwosari setelah program KKN kami selesai,” ujar Qonita, Ketua Tim KKN-T 74 UNDIP.

Menurut Qonita, penyusunan BMC tidak hanya membantu tim dalam memetakan potensi usaha, tetapi juga memberikan gambaran mengenai aspek-aspek yang perlu dipersiapkan agar Boemi Maggot dapat berkembang secara berkelanjutan.

Dengan demikian, pengembangan Boemi Maggot tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana produk dapat dipasarkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Manfaat kegiatan juga dirasakan dari sisi pengembangan kelembagaan dan keberlanjutan usaha. Pak Marzuki, selaku Ketua Kelompok Tani, menyampaikan bahwa adanya perencanaan bisnis dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan Boemi Maggot agar memiliki arah usaha yang lebih jelas.

“Alhamdulillah, adanya KKN dari UNDIP ini banyak sekali membawa kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah dan terusannya,” tuturnya.

Menurut Pak Marzuki, pengembangan Boemi Maggot tidak hanya memberikan manfaat dalam pemanfaatan sampah organik, tetapi juga memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat apabila dikelola dengan baik dan didukung oleh strategi pemasaran serta kerja sama yang berkelanjutan.

Penyusunan BMC memberikan manfaat bagi pengelola dalam memahami hubungan antara berbagai aspek yang terdapat dalam kegiatan usaha. Sebelum dilakukan pemetaan, beberapa aspek usaha masih berjalan secara sederhana dan belum tersusun dalam satu kerangka yang utuh.

Melalui BMC, pengelola dapat melihat potensi usaha sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu diperkuat, seperti penentuan target konsumen, strategi pemasaran, pengembangan produk, perluasan jaringan kemitraan, serta pengelolaan sumber pendapatan dan biaya.

Dengan demikian, hasil kegiatan tidak hanya berupa dokumen, tetapi juga memberikan pemahaman baru bagi pengelola mengenai pentingnya perencanaan bisnis dalam mendukung keberlanjutan usaha.

Baca juga:  Kementerian PU Salurkan Donasi Rp600 Juta bagi ASN Terdampak Banjir di Sumatera dan Aceh

Hasil kegiatan berupa satu dokumen Business Model Canvas Boemi Maggot yang memuat sembilan komponen utama model bisnis.

Dokumen tersebut menjadi salah satu acuan bagi pengelola dalam menentukan arah pengembangan usaha, mulai dari mengenali target konsumen, merumuskan nilai produk, menentukan saluran pemasaran, membangun hubungan dengan konsumen, hingga mengidentifikasi sumber pendapatan, sumber daya, aktivitas utama, mitra, dan struktur biaya.

Selain itu, kegiatan juga menghasilkan pengembangan identitas merek Boemi Maggot yang dapat mendukung pengenalan produk kepada masyarakat dan calon konsumen. Capaian tersebut menjadi langkah awal dalam membangun model bisnis yang lebih terstruktur dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi usaha.

Melalui kegiatan ini, Tim KKN-T 74 UNDIP turut mendorong perubahan cara pandang terhadap pengelolaan sampah organik di Kelurahan Purwosari. Sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi melalui budidaya maggot.

Pengembangan Boemi Maggot melalui model bisnis juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam mengurangi sampah organik maupun membuka peluang pengembangan usaha bagi masyarakat.

Dengan adanya model bisnis yang lebih terarah, pengelola memiliki dasar untuk mengembangkan produk, memperluas pemasaran, membangun kemitraan, dan meningkatkan keberlanjutan kegiatan usaha.

Kegiatan pengembangan model bisnis Boemi Maggot melalui Business Model Canvas menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara mahasiswa KKN-T 74 UNDIP dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi lokal.

Penyusunan BMC diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan usaha pada tahap selanjutnya. Melalui pemanfaatan sampah organik, pengembangan produk, penguatan identitas merek, serta perencanaan bisnis yang lebih sistematis, Boemi Maggot diharapkan dapat berkembang menjadi unit usaha berbasis circular economy yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus mendukung kemandirian ekonomi masyarakat Kelurahan Purwosari.

 

 

Penulis: Tim KKN-Tematik 74 Universitas Diponegoro

Editor: Murni Anggita

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA