Dorong InJourney Punya Visi Besar, DPR Nilai Indonesia Berpeluang Jadi Hub Pariwisata Global

Minggu, 18 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menegaskan pentingnya dorongan strategis dan visi jangka panjang dalam pengelolaan ekosistem pariwisata nasional.

Hal itu ia sampaikan kepada PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) sebagai BUMN yang kini memegang peran sentral dalam pengembangan sektor aviasi dan pariwisata Indonesia.

Menurut Novita, Indonesia memiliki modal geografis dan sumber daya yang sangat besar untuk menjadi hub pariwisata global, setara bahkan melampaui negara-negara seperti Singapura dan Abu Dhabi.

Namun, potensi tersebut dinilai belum dikelola secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Politikus PDI Perjuangan itu menyoroti posisi Indonesia yang berada di jalur perdagangan internasional serta menjadi penghubung kawasan Asia-Pasifik dan Asia-Australia.

Secara geopolitik dan geostrategis, kondisi tersebut seharusnya menjadikan Indonesia unggul dalam pengembangan konektivitas dan pariwisata internasional.

“Singapura dan Abu Dhabi membangun hub pariwisatanya dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi. Pertanyaannya, visi besar InJourney ke depan itu apa? Bagaimana Indonesia bisa benar-benar diposisikan sebagai hub pariwisata global di masa depan,” ujar Novita dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026.

Baca juga:  Kreatif dan Edukatif: Mahasiswa KKN Gelar Pelatihan Ganci dari Tutup Botol di SDN Puguh

Ia menilai, jika potensi tersebut dikelola secara serius dan menyeluruh, Indonesia seharusnya memiliki daya saing yang jauh lebih kuat dibanding negara-negara tetangga yang wilayahnya relatif lebih kecil.

Meski memiliki peluang besar, Novita menilai keinginan menjadikan Indonesia sebagai pusat pariwisata dunia masih terkendala oleh kesenjangan konektivitas.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur fisik, tetapi juga integrasi antarmoda transportasi dan kenyamanan wisatawan.

“Sampai sekarang, ekosistem pariwisata kita belum dipandang sebagai satu kesatuan utuh. Masih terfragmentasi dan berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya.

Ia mencontohkan kondisi transportasi bandara dan kereta bandara yang dinilai belum ramah bagi wisatawan mancanegara.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Mengadakan Revitalisasi Taman dengan Konsep Ramah Lingkungan Bersama Ibu-ibu PKK RW 05 Kaligawe, Susukan

Minimnya informasi multibahasa, kurangnya petunjuk rute yang jelas, hingga belum optimalnya integrasi dengan transportasi publik seperti TransJakarta menjadi catatan penting.

“Hal-hal seperti ini kelihatannya sepele, tapi sangat menentukan pengalaman wisatawan. Kalau sejak tiba di bandara saja mereka sudah bingung, maka sulit bicara soal pariwisata kelas dunia,” katanya.

Novita juga menyinggung hasil Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke InJourney yang dilakukan pada Kamis, 15 Januari 2026.

Dalam pertemuan tersebut, DPR dan InJourney membahas konsep Smart Airport dan Smart Logistic sebagai fondasi utama pariwisata modern.

Menurutnya, pengembangan bandara tidak boleh hanya berorientasi pada fisik bangunan, tetapi juga pada sistem, layanan, dan teknologi yang terintegrasi dengan kebutuhan wisatawan global.

Baca juga:  Kemenag Gelar MHQ Internasional Pertama Khusus Disabilitas Netra di Jakarta, Peserta Datang dari 12 Negara

“Smart Airport seharusnya bukan sekadar digitalisasi, tapi bagaimana bandara menjadi simpul pariwisata yang nyaman, informatif, dan terhubung dengan destinasi, transportasi, serta layanan publik lainnya,” jelas Novita.

Lebih jauh, Novita menekankan bahwa pengelolaan pariwisata nasional membutuhkan visi besar lintas sektor, mulai dari aviasi, transportasi, ekonomi kreatif, hingga tata kota dan budaya.

Tanpa arah yang jelas dan konsisten, pengembangan pariwisata berisiko berjalan parsial dan tidak berkelanjutan.

Ia berharap InJourney tidak hanya berperan sebagai operator, tetapi juga menjadi arsitek utama ekosistem pariwisata nasional yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Indonesia punya segalanya: alam, budaya, posisi strategis, dan pasar. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk punya visi besar dan komitmen menjalankannya secara konsisten,” pungkasnya.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Infrastruktur Dinilai Jadi Kunci Pariwisata Nasional, DPR Minta Kemenpar Evaluasi Strategi Promosi
Pembangunan Rusun Subsidi Meikarta Dapat Lampu Hijau, KPK Tegaskan Status Hukum Bersih
Risma Ardhi Chandra Resmi Jalankan Tugas sebagai Plt Bupati Pati
Polri Perluas Direktorat PPA-PPO di Daerah, Fokus Lindungi Korban Kekerasan dan Perdagangan Orang
Tingkatkan Higienitas Peserta Didik, Mahasiswa KKN UPGRIS Gelar Praktik Edukasi Cuci Tangan di TK Al-Hidayah 7 Palebon
Prabowo Tegaskan Pendidikan Kunci Sukses Bangsa di Era Teknologi
Pelayanan Publik di Pati Dipastikan Tetap Berjalan Usai OTT KPK, Wagub Jateng Minta Kepala Daerah Jaga Integritas
Mahasiswa KKN UPGRIS Ajak Siswa SDN Beji 01 Belajar Coding Lewat Permainan Seru

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 09:57 WIB

Infrastruktur Dinilai Jadi Kunci Pariwisata Nasional, DPR Minta Kemenpar Evaluasi Strategi Promosi

Kamis, 22 Januari 2026 - 07:31 WIB

Pembangunan Rusun Subsidi Meikarta Dapat Lampu Hijau, KPK Tegaskan Status Hukum Bersih

Rabu, 21 Januari 2026 - 16:26 WIB

Polri Perluas Direktorat PPA-PPO di Daerah, Fokus Lindungi Korban Kekerasan dan Perdagangan Orang

Rabu, 21 Januari 2026 - 14:17 WIB

Tingkatkan Higienitas Peserta Didik, Mahasiswa KKN UPGRIS Gelar Praktik Edukasi Cuci Tangan di TK Al-Hidayah 7 Palebon

Rabu, 21 Januari 2026 - 09:51 WIB

Prabowo Tegaskan Pendidikan Kunci Sukses Bangsa di Era Teknologi

Berita Terbaru