Jatengvox.com – Dalam upaya mendukung penguatan dan pengembangan usaha masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan kegiatan pendampingan dan pemantauan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Kegiatan ini difokuskan pada penggalian potensi usaha, identifikasi kebutuhan pengembangan, serta penerapan inovasi guna meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal.
Pendampingan tersebut dilaksanakan pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Gempol RT 03/RW 04, Desa Leyangan.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN UPGRIS memberikan pendampingan kepada UMKM souvenir yang dikelola oleh Kelompok Ibu-ibu Cinta dengan fokus pada pengembangan desain kemasan dan penguatan identitas produk.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah penggunaan kemasan saset pouch laser hologram yang dinilai mampu memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan daya tarik produk di pasar.
UMKM souvenir Kelompok Ibu-ibu Cinta berawal dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Pada tahap awal, kelompok ini mengembangkan kegiatan hidroponik, kemudian berlanjut ke usaha merajut, pembuatan tas, hingga produksi busana dan gaun berbahan daur ulang dari bank sampah.
Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut mendapatkan dukungan dari masyarakat dan pihak kelurahan, bahkan berhasil meraih juara pertama dalam kategori gaun daur ulang sampah.
Jumlah anggota yang semula mencapai sepuluh orang kini menjadi empat orang yang aktif berkegiatan dan kerap dipercaya sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Dalam aspek pemasaran, produk souvenir dipasarkan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp.
Harga produk bervariasi, mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per buah untuk produk sederhana, dengan produk terlaris berupa baju dan topi.
Sementara itu, produk dengan tingkat kerumitan karakter memiliki harga yang disesuaikan dengan proses pembuatannya.
Tas ponsel dipasarkan dengan harga sekitar Rp 60.000, sedangkan dompet koin dijual sekitar Rp 50.000 per unit.
Salah satu mahasiswa KKN UPGRIS, M. Syamsul Huda, menyampaikan bahwa pendampingan UMKM ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam menghadirkan pengabdian yang aplikatif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pendampingan tidak hanya berfokus pada proses produksi, tetapi juga pada penguatan identitas produk melalui kemasan dan logo yang lebih representatif.
“Melalui pendampingan ini, kami berupaya membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan nilai jual produk, khususnya melalui inovasi kemasan yang lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Harapannya, UMKM di Desa Leyangan dapat terus berkembang, mandiri, dan memiliki daya saing yang lebih luas,” ujarnya.
Ibu Anik selaku pelaku UMKM sekaligus perwakilan Kelompok Ibu-ibu Cinta menyampaikan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan oleh mahasiswa KKN UPGRIS.
Ia mengaku senang dan bangga karena mendapatkan dukungan dalam pengembangan kemasan dan pembuatan logo produk.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa KKN turut memberikan motivasi dan kepercayaan diri bagi pelaku UMKM di wilayah setempat.
Ia berharap inovasi yang telah dilakukan mampu membantu produk souvenir yang dihasilkan semakin dikenal luas, khususnya di wilayah Gempol dan sekitarnya.
“Kami berharap produk ini dapat terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas. Secara keseluruhan, pendampingan dari mahasiswa KKN sudah sangat baik,” tambahnya.
Melalui kegiatan pendampingan tersebut, mahasiswa KKN UPGRIS berupaya menghadirkan inovasi yang selaras dengan kebutuhan UMKM lokal.
Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku usaha diharapkan mampu memperkuat perekonomian desa sekaligus menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Editor : Murni A















