Jatengvox.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) akan menurunkan tim ahli ke lokasi longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Langkah ini dilakukan untuk melakukan kajian mendalam terhadap kondisi lingkungan pascabencana, sekaligus menjadi dasar penyusunan langkah penanganan yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, penanganan bencana lingkungan tidak bisa dilakukan secara serampangan.
Menurutnya, setiap keputusan harus berbasis data ilmiah dan analisis saintifik yang komprehensif.
“Kalau bicara lingkungan, pendekatannya harus saintis. Tidak bisa main kira-kira. Karena dari situlah nanti ditentukan langkah-langkah penanganan lanjutan,” ujar Hanif dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Hanif menjelaskan, kajian yang akan dilakukan tim ahli tidak hanya berfokus pada dampak fisik longsor semata.
Lebih dari itu, analisis akan mencakup perubahan lanskap, kondisi tanah, tutupan vegetasi, hingga potensi risiko bencana susulan di wilayah tersebut.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat kawasan Cisarua memiliki karakter geografis yang sensitif terhadap perubahan tata guna lahan.
Kesalahan dalam pengelolaan pascabencana justru berpotensi memicu masalah lingkungan baru di kemudian hari.
“Kita ingin melihat dampaknya secara menyeluruh, bukan hanya apa yang tampak di permukaan,” kata Hanif.
Dalam kesempatan yang sama, Hanif turut menyoroti masifnya urbanisasi yang terjadi di kawasan perkotaan dan sekitarnya.
Perubahan pola konsumsi masyarakat, menurutnya, ikut mendorong perubahan tata guna lahan, termasuk di daerah pegunungan.
Ia menyebut, berkembangnya pertanian komoditas seperti kentang, kol, dan paprika menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
“Pola makan kita berubah. Komoditas seperti kentang, kol, paprika itu sebenarnya tanaman subtropis yang tumbuh di ketinggian tertentu. Ini kemudian mendorong pembukaan lahan pertanian sampai ke wilayah gunung,” ujarnya.
Tanaman-tanaman tersebut umumnya dibudidayakan di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Padahal, karakter wilayah Indonesia memiliki kondisi ekologis yang berbeda dengan daerah asal tanaman tersebut.
“Dulu tidak semasif sekarang. Akibatnya, lahan-lahan di kawasan pegunungan ikut dibuka, dan ini berdampak pada keseimbangan lingkungan,” lanjut Hanif.
Untuk memastikan kajian berjalan optimal, tim ahli KLH akan segera bergabung dengan pemerintah kabupaten setempat di bawah koordinasi bupati. Proses pendalaman lanskap direncanakan berlangsung selama satu hingga dua minggu.
Dalam pelaksanaannya, kajian ini juga akan melibatkan akademisi serta lembaga riset guna memastikan hasil analisis benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Kita akan melakukan pendalaman landscape secara sangat detail. Dari situ baru ditentukan langkah-langkah penanganan berikutnya,” tegas Hanif.
Editor : Murni A














