Jatengvox.com – Asap pembakaran sampah sudah lama jadi pemandangan biasa di Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Layanan truk pengangkut sampah sebenarnya tersedia, tetapi hanya dimanfaatkan segelintir rumah. Sebagian besar warga memilih cara yang paling cepat yaitu sampah dikumpulkan di pekarangan, lalu dibakar.
Kebiasaan itulah yang coba diputus oleh Tim II KKN Reguler Universitas Diponegoro tahun 2026. Sepanjang Juli, sepuluh mahasiswa yang ditempatkan di desa tersebut menjalankan lima kegiatan berurutan: pemaparan program kerja, membangun bak kompos, mengisinya dengan limbah rumah tangga, menyiramnya dengan bioaktivator, lalu menutup rangkaian program dengan edukasi eco-enzyme dan bank sampah.
Bak kompos berukuran satu kali tiga meter berdiri pada 15 Juli di depan pos ronda Norogo. Bahannya bambu, dikerjakan bersama-sama dengan warga. Baru satu unit yang terbangun, tetapi rencananya setiap RT akan memiliki bak sendiri dengan pengelola dari lingkungan masing-masing.
Sepekan kemudian, tepatnya 22 Juli, bak itu mulai diisi. Daun kering dan sisa makanan rumah tangga dimasukkan berlapis, lalu disiram bioaktivator EM4 untuk mempercepat penguraian.
Sekitar 30 hari berjalan, sebagian isi bak sudah berubah menjadi kompos, sementara sisanya masih dalam proses.
Panen pertama tidak langsung dijual. Warga akan memakainya lebih dulu untuk tanaman di pekarangan, baru dipasarkan setelah kualitasnya terbukti.
“Program ini kami pilih karena memang inilah yang dibutuhkan warga,” kata Raffandi Rizqy P., ketua Tim II KKN Reguler Undip 2026 di Desa Pokoh Kidul. “Sampah dibakar setiap hari, padahal masih bisa diolah menjadi produk yang punya nilai tambah. Sayang sekali kalau berhenti jadi asap.”
Rangkaian program berlanjut pada 27 Juli dalam bentuk edukasi yang dihadiri 30 warga. Materi dibagi ke tiga pemateri dari tim KKN.
Na’ilah membuka dengan pemilahan sampah organik dan anorganik, Tamara Wilhelmina melanjutkan ke pengomposan dan pembuatan eco-enzyme, lalu Raffandi menutup dengan mekanisme bank sampah.
“Daun kering dan sisa makanan kami susun berlapis, lalu disiram EM4 supaya penguraiannya lebih cepat,” kata Tamara Wilhelmina.
“Bak dari bambu kami pilih justru karena berpori dan kami beri jarak juga, jadi udara tetap masuk dan tumpukan tidak membusuk berbau.”
Eco-enzyme diperkenalkan sebagai cara memanfaatkan sisa kulit buah dan potongan sayur yang biasanya ikut terbakar.
Bahan organik dicampur molase dan air dengan perbandingan tiga banding satu banding sepuluh, dimasukkan ke wadah tertutup, lalu difermentasi selama 90 hari. Karena baru dimulai akhir Juli, cairan tersebut belum bisa dipanen.
Hasil akhirnya nanti diarahkan untuk pembersih lantai dan meja, dan berpeluang dijual bila produksinya stabil.
Sesi bank sampah menyasar sisa yang tidak bisa dikompos. Warga diperkenalkan pada sistem tabungan sampah, mulai dari pemilahan jenis, penimbangan, sampai pencatatan nilai setoran.
Pembentukannya sudah dirapatkan bersama warga, dan kesepakatan tertulis dengan pemerintah desa direncanakan menyusul.

Persoalan yang mendasari program ini bukan semata soal kebiasaan. Tempat pembuangan akhir yang melayani wilayah tersebut sudah kelebihan kapasitas, sehingga mengurangi sampah dari sumber menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Tim KKN menyebut kesimpulan itu diambil setelah melakukan observasi lapangan dan wawancara dengan warga pada awal masa penempatan.
Kendala terbesar justru bukan teknis. Tim mengakui resistensi terhadap kebiasaan lama menjadi hambatan utama, karena membakar sampah jauh lebih ringkas dibanding memilah dan menunggu proses fermentasi.
Karena itu, program tidak berhenti pada pelatihan. Pengelolaan selanjutnya diserahkan kepada kelompok ibu-ibu PKK dan Karang Taruna, dengan modul panduan yang ditinggalkan tim sebagai rujukan. Uji coba pemakaian kompos dan eco-enzyme akan dilakukan lebih dulu, sebelum keduanya dijual sebagai produk dusun.
Pendekatan bertahap semacam ini yang dibutuhkan di tingkat dusun. Warga perlu melihat hasilnya dulu, bukan sekadar mendengar teorinya. “Apabila komposnya benar-benar dipakai dan ecoenzyme-nya benar-benar bisa dipakai bersih-bersih rumah, kebiasaan lama akan berkurang dengan sendirinya.
–
Penulis: TIM II KKN UNDIP DESA POKOH KIDUL
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar