Jatengvox.com – Ucapan bela sungkawa tersahut-sahut atas insiden meninggalnya pengemudi ojek online (Ojol) yang diakibatkan oleh kendaraan taktis (Rantis) milik Brimob dengan menabrak dan melindas korban.
Affan Kurniawan (21) merupakan seorang anak sekaligus tulang punggung keluarganya yang mengalami nasib tragis ini. Kejadian tersebut menambah catatan kelam brutalitas aparat yang dinilai gagal menjalankan amanat reformasi, di mana seharusnya negara berpihak kepada rakyat.
Rasa sakit dan duka turut dirasakan Perisai Demokrasi Bangsa selaku salah satu agen demokrasi yang memiliki visi kebebasan berekspresi dan pengawasan publik.
Rikza Hasbala, Ketua Perisai Demokrasi Bangsa, menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus kritik atas kejadian ini dengan menekankan pentingnya penggunaan langkah persuasif dan penghentian brutalitas aparat.
“Kami sangat berduka atas kabar yang menimpa korban. Tindakan kekerasan dan brutalitas aparat menambah rapor merah serta stigma institusi yang seharusnya bisa ditekan bahkan dihilangkan. Usaha preventif persuasif sepatutnya menjadi sandaran utama aparat,” ucap Rikza Hasbala (Jumat, 29/8/2025).
Selain insiden meninggalnya korban, Rikza juga menyoroti cara pengendalian massa yang dilakukan aparat dengan menggunakan gas air mata dan kendaraan berat.
Informasi yang didapat, terdapat puluhan korban akibat paparan gas air mata dan tindakan represif aparat, yang menyebabkan sesak napas, iritasi mata, serta trauma fisik yang cukup parah.
Dalam hal ini, Perisai Demokrasi Bangsa mengingatkan bahwa hak demonstrasi dijamin melalui Pasal 28E ayat (3) UUD 1945, serta pedoman pengendalian massa oleh aparat yang diatur dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri.
Pengendalian massa harus berpegang teguh pada prinsip humanis. Pemerintah juga harus mengambil sikap dan bertanggung jawab atas insiden ini, sementara DPR RI sebagai sumber dari adanya aksi massa harus membuka ruang dialog dan transparansi penyelesaian.
Pernyataan Sikap Perisai Demokrasi Bangsa:
Mengecam keras tindakan brutal aparat Brimob yang mengakibatkan seorang ojol meninggal dunia akibat ditabrak mobil taktis.
Menuntut Kepolisian Republik Indonesia bertanggung jawab secara penuh, baik secara hukum maupun moral.
Mendesak DPR RI untuk introspeksi diri dan menghargai rakyat dengan menemui massa aksi secara persuasif.
Mengajak seluruh elemen bangsa agar kekerasan aparat tidak menjadi wajah demokrasi Indonesia.
Meminta Presiden RI turun tangan untuk mengusut kasus ini secara transparan dan mencegah bentrokan lanjutan.
Situasi demokrasi yang sedang tidak baik-baik saja ini harus segera dikembalikan pada marwahnya dengan penyelesaian yang sesuai oleh seluruh pihak: kepolisian, pemerintah eksekutif, dan legislatif. Diharapkan insiden ini menjadi penutup catatan kelam demokrasi Indonesia.
Editor : Hendra