Jatengvox.com – Suasana syahdu dan penuh kehangatan Dusun Kemiri, Desa Boto, Kecamatan Bancak, saat masyarakat setempat menggelar tradisi tahunan Merti Dusun.
Bertempat di kediaman Kepala Dusun Kemiri, acara yang berlangsung pada Kamis, 17 Juli 2025 (20.00) ini menjadi wujud syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus momentum untuk mempererat kebersamaan seluruh generasi.
Dihadiri oleh Ibu Kepala Desa Boto, Kepala Dusun Kemiri, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat, serta mahasiswa KKN MIT Posko 86 dari UIN Walisongo, acara ini terasa semarak sekaligus khidmat.
Tradisi yang digelar setahun sekali setiap musim panen—biasanya bertepatan setelah bulan Dzulhijjah—menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Dusun Kemiri.
“Merti Dusun atau Sedekah Bumi ini bukan sekedar bentuk syukur, tapi juga simbol kebersamaan dan gotong royong yang sudah turun-temurun,” ujar Kepala Dusun Kemiri dalam Perayaannya.
Ia juga berharap agar Dusun Kemiri senantiasa dilimpahi rezeki, masyarakat hidup sejahtera, dan hubungan antar warga terus harmonis, dari yang muda hingga para lansia.
Yang istimewa dari Merti Dusun ini adalah bentuk sedekah yang diberikan dari hasil panen masyarakat dikembalikan lagi ke masyarakat dalam wujud makanan, minuman, dan jajanan.
Hidangan panjang penuh dengan aneka sajian lokal, menjadi bukti nyata bagaimana bumi yang memberi diperlakukan dengan hormat oleh mereka yang menggantungkan hidup padanya.
Para mahasiswa KKN UIN Walisongo juga ikut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Mereka tidak hanya membantu dalam persiapan dan pelaksanaan acara, tetapi juga belajar langsung tentang nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi kekuatan masyarakat pedesaan.
“Kami merasa terhormat bisa ikut tradisi ini. Ini bukan hanya tentang merasakan budaya, tapi juga tentang spiritualitas dan sosialitas masyarakat,” ujar salah satu mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 86.
Merti Dusun di Dusun Kemiri bukan sekedar ritual tahunan, tapi juga cermin dari filosofi hidup masyarakat yang menghargai alam, bersyukur atas keluhurannya, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Di tengah modernisasi yang kian cepat, tradisi ini menjadi pengingat bahwa akar kebudayaan tetap kuat, selama dirawat bersama.
Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa tradisi bukan sekedar warisan masa lalu, tetapi juga pedoman hidup masa kini dan masa depan.
Tradisi ini perlu dilestarikan selamanya agar tidak terputus oleh perkembangan zaman yang semakin modern ini.
Tradisi ini juga adalah wujud asli masyarakat dusun kemiri bersyukur kepada Allah SWT. atas limpahan rezeki yang diberikan kepada masyarakat dusun kemiri.
Editor : Murni A