Menanamkan Kebiasaan Baik Sejak Dini, Mahasiswa KKN UNDIP Sosialisasi PHBS dan Pemilahan Sampah melalui Permainan Interaktif

waktu baca 6 menit
Rabu, 29 Jul 2026 20:00 14 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN-Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2026 melaksanakan kegiatan edukasi mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan pemilahan sampah kepada anak-anak kelompok usia 9–10 tahun di SD Negeri 01 Tumbal, (29/7/26).

Kegiatan yang mengangkat tema “Gerakan Duta Cilik Sehat: Edukasi PHBS dan Pemilahan Sampah” ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengenalkan kebiasaan hidup bersih dan pengelolaan sampah sejak usia dini melalui pendekatan edukatif dan menyenangkan.

Kegiatan edukasi diikuti oleh anak-anak usia 9-10 tahun sebagai sasaran utama edukasi yang dilakukan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengajak anak-anak untuk mengenal jenis-jenis sampah, memahami cara memilah sampah dengan benar, mengetahui dampak apabila sampah tidak dikelola dengan baik, serta menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenalkan Sampah dan PHBS melalui Edukasi Interaktif

Kegiatan diawali dengan pengerjaan kuis untuk mengetahui pemahaman awal anak-anak mengenai pemilahan sampah dan PHBS.

Kuis diberikan sebagai gambaran awal mengenai sejauh mana anak-anak telah memahami kebiasaan hidup bersih serta perbedaan jenis sampah yang ada di lingkungan sekitar.

Setelah pengerjaan kuis, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Raisya Syahwalani, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat.

Materi diawali dengan pengenalan mengenai sampah secara umum, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai jenis sampah organik dan anorganik serta cara memilahnya dengan baik.

Anak-anak diajak memahami berbagai akibat yang dapat muncul apabila sampah tidak dipilah dan dikelola dengan baik.

Edukasi kemudian dikaitkan dengan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak-anak tidak hanya memahami cara mengelola sampah, tetapi juga mengenal kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri maupun lingkungan.

Baca juga:  Centang Biru WhatsApp Barantum Bantu Tingkatkan Kepercayaan

Penyampaian materi dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik anak usia 9–10 tahun. Selain menyampaikan materi secara langsung, mahasiswa juga menggunakan media presentasi agar informasi yang diberikan lebih mudah dipahami dan menarik perhatian peserta.

Belajar Memilah Sampah melalui “EcoLand Adventure”

Setelah mendapatkan pemahaman dasar mengenai sampah dan PHBS, anak-anak kemudian diajak mengikuti pembelajaran melalui media permainan edukatif.

Pendekatan ini digunakan untuk membuat proses belajar menjadi lebih interaktif sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Media permainan edukatif “EcoLand Adventure” dirancang dan dikembangkan oleh Syahla Sandiani Assyifa Adam, mahasiswa Program Studi Informatika.

Permainan tersebut dibuat khusus untuk anak-anak kelompok usia 9–10 tahun dengan mengangkat tema pengelolaan sampah dan PHBS Melalui permainan ini, anak-anak dihadapkan pada beberapa misi dengan bentuk aktivitas yang berbeda.

Anak-anak diajak untuk memilih perilaku yang benar, menemukan kebiasaan yang kurang baik, memilah sampah organik dan anorganik, menjawab situasi sehari-hari, serta membuat komitmen untuk menerapkan perilaku baik.

Perancangan permainan dilakukan dengan memperhatikan alur interaksi dan tampilan yang sesuai dengan karakteristik anak.

Syahla bertanggung jawab dalam merancang konsep dan alur permainan, menyusun flow setiap misi, merancang tampilan UI/UX, menyesuaikan aset visual, hingga mengembangkan media permainan menggunakan platform digital.

Permainan juga dilengkapi dengan ilustrasi, kartu pertanyaan, pilihan jawaban, serta umpan balik terhadap jawaban benar dan salah.

Media tersebut kemudian ditampilkan melalui laptop dan Smart TV sehingga dapat digunakan secara bersama-sama selama kegiatan berlangsung.

Melalui permainan EcoLand Adventure, materi yang sebelumnya disampaikan secara langsung kemudian diterapkan dalam bentuk situasi dan pilihan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.

Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Baca juga:  KKN UNDIP Edukasi Siswa SDN 1 Sumub Kid tentang Cegah Kekerasan Seksual lewat Program Tubuhku Milikku

Mengenalkan Pemilahan Sampah melalui Tempat Sampah Pilah

Selain menggunakan media digital, edukasi mengenai pemilahan sampah juga diperkuat melalui media fisik berupa tempat sampah pilah. Kehadiran tempat sampah ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk mengenali perbedaan antara sampah organik dan anorganik secara lebih konkret.

Pembuatan tempat sampah pilah dilakukan oleh Muhammad Kahfi Gilang Ramadhan, mahasiswa Program Studi Teknik Perkapalan. Selain menggunakan media digital, edukasi mengenai pemilahan sampah juga diperkuat melalui media fisik berupa tempat sampah pilah.

Sarana tersebut tidak hanya digunakan untuk mengenalkan perbedaan antara sampah organik dan anorganik kepada anak-anak, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Tempat sampah pilah ini dibuat oleh Muhammad Kahfi Gilang Ramadhan, mahasiswa Program Studi Teknik Perkapalan, dengan memanfaatkan kembali bahan-bahan bekas yang tersedia di lingkungan sekitar.

Tempat sampah dirancang dengan memisahkan dua jenis sampah, yaitu organik dan anorganik, serta dilengkapi penanda yang mudah dikenali oleh anak-anak. Dalam proses pembuatannya, Kahfi terlibat mulai dari menentukan bentuk dan ukuran, mempersiapkan bahan dan peralatan, melakukan pengukuran dan pemotongan, hingga proses perakitan dan penyelesaian akhir.

Aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam pembuatan tempat sampah agar tidak terdapat bagian tajam atau bagian lain yang berpotensi membahayakan anak-anak.

Tempat sampah yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pembuangan sampah, tetapi juga menjadi media pembelajaran sederhana. Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa sampah memiliki jenis yang berbeda dan perlu ditempatkan pada wadah yang sesuai.

Dengan adanya tempat sampah pilah, edukasi yang diberikan tidak berhenti pada pengetahuan. Anak-anak memperoleh sarana untuk mempraktikkan kebiasaan memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.

Membawa Edukasi PHBS hingga ke Rumah

Sebagai bagian dari penguatan materi, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian buku saku interaktif kepada anak-anak. Buku saku tersebut disusun sebagai media yang dapat membantu anak-anak mengingat kembali materi mengenai pemilahan sampah dan PHBS setelah kegiatan selesai.

Baca juga:  Rekayasa Cuaca Kurangi Hujan hingga 70 Persen, Warga Jateng Diminta Tetap Waspada Puncak Musim Basah

Raisya Syahwalani turut menyusun materi buku saku dan menyiapkannya dalam bentuk cetak. Buku saku dilengkapi dengan kuis interaktif berbentuk permainan sehingga anak-anak dapat kembali menguji pemahamannya mengenai materi yang telah diberikan.

Pemberian buku saku diharapkan dapat membuat proses edukasi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Anak-anak dapat membawa media tersebut pulang dan menggunakannya kembali sebagai pengingat untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih dan memilah sampah.

Rangkaian kegiatan tersebut menggabungkan edukasi langsung, permainan digital, media fisik, dan buku saku dalam satu kegiatan pembelajaran.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat materi mengenai pemilahan sampah dan PHBS lebih mudah diterima oleh anak-anak sekaligus mendorong mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun Kebiasaan Bersih Sejak Usia Dini

Kegiatan kemudian ditutup dengan tanya jawab dan dokumentasi bersama. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kembali pemahaman yang telah diperoleh selama kegiatan, khususnya mengenai jenis sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta penerapan PHBS.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN-Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2026 tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kebersihan dan pengelolaan sampah, tetapi juga menghadirkan media pembelajaran yang dapat digunakan anak-anak secara langsung.

Tempat sampah pilah menjadi sarana untuk mempraktikkan pemilahan sampah, EcoLand Adventure menjadi media untuk belajar melalui permainan, sedangkan buku saku menjadi media yang dapat dibawa pulang dan digunakan kembali.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak usia 9–10 tahun mengenali, memahami, dan membiasakan perilaku hidup bersih serta memilah sampah sejak usia dini. Dengan membangun kebiasaan dari lingkungan terdekat, anak-anak diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat di Desa Tumbal.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA