Mahasiswa KKN Undip Rancang Sistem Basis Data Digital untuk Lestarikan Kearifan Lokal Desa Sobokerto

waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Jul 2026 20:01 4 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN Tim II IDBU-07 Universitas Diponegoro (Undip) merancang struktur backend dan basis data untuk sistem informasi digital bernama KALOKA (Kearifan Lokal dan Literasi Desa) di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, pada Sabtu (18/7/2026).

Program ini merupakan bagian dari Program Kerja Multidisiplin 1 yang bertujuan mendigitalkan data kearifan lokal, potensi wisata, dan UMKM desa agar lebih mudah dikelola dan diakses masyarakat luas.

Selama ini, informasi mengenai kearifan lokal, destinasi wisata, dan pelaku UMKM di Desa Sobokerto masih tersebar dan dikelola secara manual, sehingga sulit diperbarui maupun diakses oleh masyarakat luas.

Melihat kondisi tersebut, Para TIM IT berinisiatif membangun sistem informasi berbasis web yang memungkinkan Pengelola Perpustakaan Desa menginput dan memperbarui data secara mandiri, sementara masyarakat dapat mengaksesnya kapan saja melalui portal publik.

Perancangan sistem ini diawali dengan penyusunan Data Flow Diagram (DFD) Level 0 dan Level 1 sebagai peta alur data sebelum masuk ke tahap pengembangan kode program.

Pendekatan ini dipilih agar struktur data dan hak akses setiap pengguna sistem terdefinisi jelas sejak awal, sehingga proses pengembangan aplikasi dapat berjalan lebih terarah dan meminimalkan kesalahan struktur di kemudian hari.

Baca juga:  Mahasiswa KKN-T UNDIP Angkat Identitas Desa Sobokerto Melalui Narasi Kearifan Lokal di Website KALOKA

Pada DFD Level 0, sistem KALOKA digambarkan berinteraksi dengan tiga entitas utama, yaitu Pengelola yang menginput data entri kearifan lokal, wisata, dan UMKM; Admin yang bertugas melakukan kurasi status serta pengaturan situs; dan Pengunjung Publik yang mengakses konten melalui portal.

Ketiga entitas ini saling terhubung melalui satu proses inti bernama Sistem KALOKA, yang berfungsi sebagai penghubung antara data yang dimasukkan pengelola dengan konten yang akhirnya ditampilkan ke publik.

Alur tersebut kemudian diperinci pada DFD Level 1 menjadi lima proses utama: Input dan Validasi Data Entri, Kurasi Konten, Penyediaan Data melalui RESTful API, Kelola Pengaturan Situs, dan Manajemen Pengguna.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UNDIP Dorong Pengelolaan Sampah Organik melalui Inovasi Eco Enzyme dan Sabun Ramah Lingkungan di Desa Karangrejo

Setiap proses saling terhubung dengan tiga basis data, yaitu Basis Data Entri Konten, Basis Data Pengaturan, dan Basis Data Pengguna, sebelum akhirnya data yang telah dikurasi ditampilkan ke pengunjung publik melalui frontend berbasis React dalam format response JSON.

Proses Input dan Validasi Data Entri berperan memastikan setiap data yang dimasukkan Pengelola telah sesuai format sebelum disimpan ke Basis Data Entri Konten.

Selanjutnya, proses Kurasi Konten memberi kewenangan kepada Admin untuk menentukan status setiap entri, apakah masih berupa draf atau sudah layak diterbitkan ke publik.

Setelah status entri ditetapkan sebagai terbit dan bersifat umum, data tersebut baru dapat diakses melalui proses Penyediaan Data via RESTful API yang menjembatani basis data dengan tampilan antarmuka pengguna.

“Tantangan terbesar dalam proses ini adalah memastikan setiap data yang diinput oleh Pengelola benar-benar tervalidasi dan tersimpan dengan struktur yang konsisten sebelum ditampilkan ke publik. Makanya, sebelum coding, saya susun dulu DFD Level 0 dan Level 1 supaya alur datanya jelas, siapa yang boleh input, siapa yang kurasi, dan bagaimana data itu akhirnya sampai ke masyarakat,” ujar Fawnia saat ditemui di sela-sela pengerjaan program.

Baca juga:  Bitcoin Pizza Day 2026: Dari Dua Loyang Pizza Menjadi Simbol Pertumbuhan Aset Digital Global dan Indonesia

TIM IT menambahkan, proses pengembangan sistem ini tidak lepas dari berbagai kendala teknis, mulai dari penyesuaian struktur data yang berubah seiring kebutuhan lapangan, hingga proses sinkronisasi kode program antaranggota tim menggunakan Git yang membutuhkan ketelitian ekstra agar tidak ada perubahan yang saling tertimpa.

Dengan adanya sistem basis data yang terstruktur ini, Pengelola Perpustakaan Desa Sobokerto dapat menambahkan dan memperbarui data secara mandiri melalui dashboard, tanpa perlu bergantung pada pihak ketiga untuk mengubah tampilan situs.

Sementara itu, Admin memiliki kendali penuh atas status publikasi setiap entri sebelum tampil ke publik, termasuk menjaga agar data yang bersifat sakral atau tidak layak dipublikasikan secara luas tetap tersimpan namun tidak ditampilkan di portal umum.

 

Penulis: Fawnia Belvandrya Naira Aqla, KKN Tim II IDBU-07 Universitas Diponegoro — Desa Sobokerto

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA