Jatengvox.com — Pemahaman mengenai jaminan kesehatan menjadi hal penting bagi masyarakat, terutama ketika keluarga menghadapi kebutuhan pengobatan yang tidak terduga. Namun, masih terdapat masyarakat yang merasa bingung atau enggan menggunakan BPJS Kesehatan karena menganggap prosedurnya rumit.
Persoalan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 51 Universitas Diponegoro (Undip) melalui kegiatan edukasi mengenai BPJS Kesehatan kepada masyarakat Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
Kegiatan dilaksanakan oleh Faris Tsani Adhira, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Undip, pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan berlangsung secara interaktif di sela kegiatan arisan ibu-ibu PKK RT 01 Dusun Karanglo, Desa Kenteng.
Edukasi diawali dengan cerita mengenai sebuah keluarga yang menghadapi kondisi sakit berat tanpa memiliki perlindungan jaminan kesehatan. Cerita tersebut digunakan untuk mengajak peserta melihat dampak ekonomi yang dapat muncul ketika salah satu anggota keluarga membutuhkan biaya pengobatan dalam jumlah besar.
“Tujuan saya bukan untuk membuat ibu-ibu takut dengan penyakit atau biaya berobat. Justru saya ingin menunjukkan bahwa risiko seperti ini bisa terjadi pada siapa saja, sehingga kita perlu memahami perlindungan yang sebenarnya sudah disediakan,” tutur Faris.
Setelah cerita pembuka, peserta diajak berdiskusi mengenai pengalaman mereka menggunakan BPJS Kesehatan. Sejumlah peserta menyampaikan pengalaman dan kendala yang pernah dihadapi, terutama terkait proses administrasi dan birokrasi yang dinilai masih terasa rumit.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai BPJS Kesehatan, mulai dari kepesertaan, pembayaran iuran, alur penggunaan layanan, hingga beberapa kesalahpahaman yang umum terjadi di masyarakat. Faris menekankan bahwa BPJS Kesehatan perlu dipahami sebagai bagian dari sistem jaminan sosial dengan prinsip gotong royong.
“Kalau kita melihat BPJS hanya sebagai tempat berobat, kita mungkin bertanya kenapa harus membayar ketika sedang sehat. Padahal konsepnya adalah gotong royong. Ada masyarakat yang sedang membutuhkan layanan, sementara masyarakat lain mungkin sedang sehat dan ikut menopang sistem tersebut,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diarahkan untuk memanfaatkan kanal resmi BPJS Kesehatan ketika menghadapi persoalan teknis. Faris menjelaskan bahwa dirinya sebagai mahasiswa ekonomi tidak bermaksud menggantikan peran tenaga kesehatan maupun petugas BPJS, melainkan membantu masyarakat memahami gambaran umum dan mengetahui tempat mencari informasi yang tepat.
Kegiatan ditutup dengan harapan peserta agar generasi muda, termasuk mahasiswa, suatu saat dapat ikut mendorong perbaikan birokrasi dan pelayanan publik sehingga masyarakat kecil di desa tidak merasa takut atau kesulitan ketika menggunakan layanan BPJS Kesehatan.
Penulis: Faris Tsani Adhira
Editor : Uswatun Khasanah
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar