Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 143 Kenalkan QRIS ke UMKM Desa Werdoyo Demak

waktu baca 3 menit
Rabu, 26 Agu 2026 20:38 13 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN kelompok Desa Werdoyo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, berhasil membawa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat melangkah masuk ke dalam ekosistem keuangan non-tunai.

Langkah transformatif ini terwujud berkat inisiatif sosialisasi serta pendampingan intensif untuk pembuatan akun Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) bagi para pedagang lokal, yang menjadi angin segar bagi modernisasi ekonomi kerakyatan di tingkat desa.

Tim Humas kelompok KKN bersama anggota lainnya memilih metode jemput bola dengan mendatangi langsung tempat usaha warga. Cara ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan harus mengumpulkan para pedagang di satu tempat seperti aula balai desa.

“Untuk efisiensi waktu, kami tidak mengumpulkan para pelaku UMKM di aula desa, tetapi kami melakukan sosialisasi dan pendampingan langsung secara door-to-door ke tempat usaha warga supaya lebih efektif. Kami bantu mulai dari penyiapan dokumen, pendaftaran, hingga verifikasi akun merchant ke penyedia jasa pembayaran resmi,” ujar tim humas KKN.

Penerapan QRIS ini membawa segudang dampak positif bagi operasional UMKM sehari-hari. Pembayaran non-tunai dinilai mampu mempermudah pencatatan keuangan harian secara otomatis lewat aplikasi, menghemat waktu karena pedagang tidak perlu repot mencari uang kembalian receh, menghilangkan kebiasaan membacakan nomor rekening yang kerap salah, serta meminimalisir risiko peredaran uang palsu yang merugikan.

Baca juga:  Kemenhub Siapkan 326 Pesawat untuk Puncak Libur Natal dan Tahun Baru 2026

Manfaat nyata ini langsung dirasakan oleh warga yang telah bergabung. “Sekarang pakai QRIS kelihatan semua uang yang masuk mas, sudah tidak bingung keliling kesana-kesini nyari kembalian, tidak perlu ngafalin nomor rekening lagi, pokoknya enak deh mas,” kata Bayu Wicaksono pelaku UMKM angkringan Lenggah Teras di Desa Werdoyo yang akun QRIS-nya berhasil diaktifkan.

Meski kini menuai hasil manis, perjalanan sosialisasi dan pendampingan QRIS tersebut tidak berjalan mulus sejak awal.

Banyak hambatan psikologis dan teknis yang harus dihadapi oleh para mahasiswa di lapangan, terutama terkait minimnya pemahaman teknologi dan ketiadaan rekening bank yang sudah mengakar di kalangan masyarakat pedesaan.

Baca juga:  Libur Panjang Idul Adha, KAI Daop 1 Jakarta: Tiket KA Masih Tersedia Hingga Akhir Periode Liburan

Ketua kelompok KKN mengungkapkan bahwa pada awal program, pihaknya sempat menemui jalan buntu dan penolakan beruntun dari para pemilik warung.

“Kami melakukan sosialisasi sejak pertama kali memasuki desa ini, tetapi beberapa kali mendapatkan penolakan karena pelaku UMKM tersebut sudah berusia lanjut, tidak paham teknologi sama sekali terutama smartphone, dan kebanyakan dari mereka bahkan belum memiliki rekening bank,” ujar ketua kelompok KKN menceritakan tantangan awal mereka.

Keadaan semakin menantang ketika ritme transaksi di desa mulai berbenturan dengan kebiasaan para pendatang, termasuk rekan-rekan sesama mahasiswa yang terbiasa hidup praktis tanpa uang tunai.

Mahasiswa KKN kerap mendatangi toko-toko kelontong dan warung kopi di Desa Werdoyo sambil menanyakan ketersediaan pembayaran digital.

Para pemilik warung sempat merasa kesulitan karena kehilangan potensi pembeli muda yang enggan membawa uang tunai, sementara opsi transfer manual dinilai terlalu lama dan ribet untuk transaksi kecil.

Baca juga:  Produk Lokal Jateng Ramaikan Inacraft 2025 dengan Inovasi Berkelas

Berkat kesabaran dan pendekatan persuasif tanpa lelah dari para mahasiswa, tembok keraguan itu akhirnya runtuh perlahan. Setelah melihat sendiri kerugian kecil akibat metode pembayaran manual yang merepotkan, dua perintis lokal yakni pemilik toko kelontong di dekat area sekolah dan seorang pengelola angkringan akhirnya melunak dan menyetujui pembuatan QRIS.

 

Kini keberhasilan dua titik percontohan tersebut menjadi magnet tersendiri. Para pelaku UMKM lain di Desa Werdoyo yang tadinya merasa “gaptek” dan antipati terhadap teknologi, mulai membuka diri. Digitalisasi warung desa bukan lagi sekadar angan-angan, melainkan sebuah keniscayaan yang berhasil diwujudkan berkat kolaborasi erat antara generasi muda dan masyarakat lokal, dan sampai saat ini kami dari tim mahasiswa KKN masih mencari pelaku UMKM yang mau dibantu dibuatkan QRIS untuk usahanya.

 

 

Penulis: Tim KKN UIN Walisongo

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA