Berita  

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 13 Dorong Kelestarian Anyaman Keranjang Buah di Desa Ngelo Kulon

keranjang buah
Mahasiswa KKN saat mempelajari teknik menganyam keranjang dari perajin di Desa Ngelo Kulon, Demak

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 13 melaksanakan kunjungan dan survei ke sejumlah UMKM di Desa Ngelo Kulon, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, (16/5/26).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam mengenali potensi ekonomi lokal serta mempelajari proses produksi yang dilakukan oleh para pelaku usaha di Desa.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengunjungi berbagai UMKM, mulai dari usaha anyaman keranjang buah, sablon kaos, ukir kayu, kerupuk gombal, hingga kue japit.

Salah satu UMKM yang menarik perhatian mahasiswa KKN adalah usaha anyaman keranjang buah yang telah dikelola secara turun-temurun oleh keluarga pengrajin setempat.

Baca juga:  Pemetaan LiDAR Berbasis Drone untuk Perkebunan Sawit Skala Besar

Pada kesempatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga belajar secara langsung mengenai proses pembuatan keranjang buah. Mulai dari pemilihan bahan, teknik menganyam, hingga proses produksi penyelesaian produk yang siap dipasarkan.

Kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa untuk memahami proses produksi kerajinan yang membutuhkan keterampilan khusus.

Pemilik usaha, Siti Nafisah, menjelaskan bahwa usaha anyaman keranjang buah yang dijalankannya merupakan warisan keluarga yang telah diteruskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, keberadaan usaha ini masih bertahan hingga sekarang meskipun menghadapi berbagai tantangan.

“Sekarang kebanyakan orang lebih memilih membeli daripada menganyam sendiri. Selain karena harga jualnya masih terjangkau, proses pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan ketelitian yang tinggi. Tidak semua orang memiliki waktu dan kesabaran untuk mempelajari cara menganyam,” ujar Siti Nafisah.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama Warga Trayu Gelar Kerja Bakti Taman Pulesari

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa keterampilan menganyam tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat. Dibutuhkan latihan yang konsisten agar menghasilkan anyaman yang rapi, kuat, dan memiliki nilai jual yang baik.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Agus selaku suami Siti Nafisah, yang turut terlibat dalam menjalankan usaha tersebut. Ia menceritakan bahwa dirinya harus melalui proses belajar yang cukup panjang sebelum akhirnya mampu membuat anyaman secara mandiri.

“Sebelum bisa membuat anyaman seperti sekarang, saya belajar dari istri selama kurang lebih tiga bulan. Setiap tahap pengerjaan harus dilakukan dengan teliti karena sedikit kesalahan saja bisa memengaruhi hasil anyaman. Dari situlah saya memahami bahwa membuat keranjang buah tidak semudah yang terlihat,” tutur Agus.

Baca juga:  Pembangunan Tol Yogyakarta-Bawen Tembus 80 Persen, Operasi Tahun Depan

Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN Posko 13 memperoleh wawasan mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan UMKM lokal sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat desa.

Selain menjadi sumber mata pencaharian, usaha anyaman keranjang buah juga menjadi warisan keterampilan yang perlu dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

 

Penulis: Tim KKN UIN Walisongo Semarang Posko 13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *