Berita  

Danantara Bahas Indonesia Open Network, Dorong Fondasi Baru Ekonomi Digital yang Lebih Inklusif

Jakarta — Upaya Indonesia dalam memperkuat fondasi ekonomi digital nasional terus bergerak ke arah yang lebih inklusif dan terbuka. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa (12/5/2026), sejumlah pemangku kepentingan membahas potensi pengembangan Indonesia Open Network (ION), sebuah konsep infrastruktur digital publik terbuka yang dinilai dapat menjadi landasan baru bagi ekosistem ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Pertemuan tersebut mempertemukan CEO Danantara Rosan Roeslani dengan Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty serta Steering Committee ION dan CEO Indonesia Economic Forum, Sachin V Gopalan. Diskusi berfokus pada bagaimana pendekatan open digital public infrastructure atau infrastruktur publik digital terbuka dapat membantu membangun sistem ekonomi digital yang lebih efisien, lebih terhubung, dan mampu diakses lebih banyak pelaku usaha.

Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital nasional, pembahasan mengenai infrastruktur digital terbuka muncul sebagai pendekatan baru yang dinilai dapat memperluas partisipasi dalam ekosistem digital. Alih-alih membangun sistem yang tertutup dan terfragmentasi, model ini menawarkan fondasi bersama yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pelaku, mulai dari perusahaan besar hingga usaha skala kecil dan menengah.

Rosan Roeslani menilai Indonesia saat ini sedang memasuki fase penting dalam pembangunan ekonomi digital generasi berikutnya. Menurutnya, transformasi digital tidak lagi hanya berbicara mengenai penggunaan teknologi terbaru, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut dapat menghadirkan manfaat yang lebih merata.

Baca juga:  Penanganan Tanah Bergerak di Tegal Berlanjut hingga Relokasi, Gubernur Jateng Tegaskan Negara Hadir untuk Warga

“Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi digital generasi berikutnya yang lebih efisien, terbuka, dan mampu menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Melalui Indonesia Open Network, kami melihat peluang menghadirkan fondasi baru bagi ekonomi digital nasional yang dapat dimanfaatkan secara lebih luas,” ujar Rosan.

Ia menjelaskan bahwa pembahasan ION tidak sekadar berkaitan dengan pengembangan teknologi baru. Di balik konsep tersebut terdapat tujuan yang lebih besar, yakni memastikan pembangunan ekonomi digital tidak hanya dinikmati oleh segelintir pihak.

“Yang ingin dicapai bukan sekadar percepatan adopsi teknologi. Kami ingin memastikan ekonomi digital Indonesia dapat bekerja untuk semua,” tambahnya.

Belajar dari Infrastruktur Digital Terbuka

Dalam beberapa tahun terakhir, konsep digital public infrastructure atau DPI semakin banyak mendapat perhatian di berbagai negara. Berbeda dari platform digital tertutup yang biasanya dikendalikan oleh satu perusahaan atau ekosistem tertentu, DPI dirancang sebagai lapisan dasar yang terbuka dan dapat digunakan bersama.

Model seperti ini dinilai mampu menciptakan interoperabilitas yang lebih baik antar layanan digital sekaligus mendorong inovasi lebih luas. India menjadi salah satu negara yang kerap dijadikan contoh penerapan model tersebut melalui berbagai layanan digital berskala nasional yang menghubungkan masyarakat dengan sistem pembayaran, identitas digital, hingga layanan publik.

Baca juga:  Wujudkan Berkah Ramadan, BRI BO Jakarta Tanjung Priok Sukses Gelar Layanan Penukaran Uang SERAMBI 2026

Dalam konteks Indonesia, Indonesia Open Network hadir sebagai salah satu gagasan yang mencoba mengadaptasi pendekatan tersebut ke dalam ekosistem perdagangan dan layanan digital nasional. Konsep ini berupaya membangun jaringan terbuka yang memungkinkan lebih banyak pelaku usaha terhubung dalam satu sistem yang saling terintegrasi.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, mengatakan pihaknya memaparkan potensi Indonesia Open Network kepada Danantara, termasuk sejumlah implementasi awal yang tengah disiapkan.

“Kami menjelaskan konsep Indonesia Open Network sebagai jaringan perdagangan digital berbasis open source, termasuk Indonesia One, aplikasi mobilitas berbasis ION yang tengah dipersiapkan untuk hadir di Indonesia melalui Nammayatri,” kata Chakravorty.

Indonesia One disebut menjadi salah satu contoh implementasi yang dibangun di atas ekosistem ION. Aplikasi tersebut dikembangkan sebagai platform mobilitas yang terhubung dengan jaringan terbuka, sehingga memungkinkan kolaborasi lintas penyedia layanan dalam satu ekosistem yang lebih fleksibel.

Peluang Baru bagi Ekonomi Digital Indonesia

Pembahasan mengenai ION muncul pada saat ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Indonesia masih menjadi salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara, didukung pertumbuhan pengguna internet, transaksi digital, dan meningkatnya adopsi layanan daring.

Baca juga:  Optimalkan AI, MiiTel Ubah Percakapan Bisnis Jadi Data Strategis

Di sisi lain, perkembangan tersebut juga memunculkan tantangan baru. Banyak pelaku usaha kecil masih menghadapi hambatan untuk masuk ke ekosistem digital yang lebih besar. Faktor biaya, akses teknologi, serta keterbatasan integrasi kerap menjadi kendala utama.

Model jaringan terbuka seperti ION dipandang berpotensi membuka peluang partisipasi yang lebih luas. Dengan fondasi yang dapat digunakan bersama, pelaku usaha memiliki kesempatan lebih besar untuk terhubung dan berkembang dalam ekosistem digital nasional.

Sandeep mengatakan respons awal yang diterima dari Danantara menunjukkan ketertarikan terhadap potensi pengembangan model tersebut.

“Danantara melihat banyak kemungkinan yang dapat dikembangkan dari inisiatif ini,” ujarnya.

Meski pembahasan masih berada pada tahap awal, pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana Indonesia mulai menjajaki pendekatan baru dalam membangun fondasi ekonomi digital jangka panjang. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, sistem yang lebih terbuka dan inklusif dinilai dapat menjadi salah satu kunci untuk memastikan transformasi digital berjalan lebih merata dan berkelanjutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES