Jatengvox.com – Menjelang bulan Ramadan, Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mengingatkan pemerintah pusat dan daerah untuk mewaspadai lonjakan harga sejumlah komoditas pangan.
Berdasarkan pola tahunan, momen awal Ramadan kerap menjadi periode rawan inflasi, terutama pada bahan pangan yang konsumsi masyarakatnya meningkat signifikan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, menyebutkan bahwa ada beberapa komoditas yang hampir selalu menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan tiba.
Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit.
Puji menjelaskan, kenaikan harga pada komoditas tersebut bukan fenomena baru. Polanya muncul berulang setiap tahun,
terutama pada fase awal Ramadan ketika permintaan masyarakat meningkat, sementara pasokan belum sepenuhnya menyesuaikan.
“Ini komoditas-komoditas yang sebenarnya bisa kita antisipasi sejak awal. Kita sudah mulai memasuki bulan Ramadan di bulan depan,” kata Puji dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Menurut BPS, memahami pola inflasi musiman ini menjadi kunci utama pengendalian harga. Dengan prediksi yang lebih presisi, intervensi dapat dilakukan lebih dini sebelum lonjakan harga membebani masyarakat.
BPS mencatat, pada Ramadan 2025 lalu, bawang merah menjadi komoditas dengan andil inflasi tertinggi. Setelah itu disusul ikan segar, cabai rawit, daging ayam ras, dan beras.
Menariknya, tidak semua komoditas memicu inflasi. Sejumlah produk hortikultura justru memberikan andil deflasi, atau menahan laju kenaikan harga.
Beberapa di antaranya adalah cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan tomat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan sangat menentukan arah pergerakan harga. Saat distribusi lancar dan produksi mencukupi, tekanan inflasi dapat ditekan meski permintaan meningkat.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), Tomsi Tohir, mengingatkan bahwa inflasi menjelang Lebaran merupakan hal yang hampir selalu terjadi.
Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan yang terlalu tinggi tidak bisa dianggap wajar.
“Kita sudah mengalami tahun ke tahun setiap mau Lebaran inflasi naik. Kalau naik saja tidak apa-apa, tapi ini naiknya tinggi,” ujarnya.
Tomsi menjelaskan, inflasi bulanan yang normal biasanya berada di kisaran 0,3 persen.
Namun, pada periode Lebaran 2025, inflasi melonjak hingga 1,6 persen, atau lebih dari lima kali lipat kondisi normal.
Lonjakan tersebut, menurutnya, terjadi hampir di seluruh komoditas dan tidak sedikit harga yang naik secara ekstrem.
Tomsi menyoroti kenaikan harga yang dinilai sudah tidak masuk akal. Dalam beberapa kasus, harga barang melonjak hingga tiga sampai empat kali lipat.
Ia mencontohkan harga yang semula Rp30 ribu melonjak menjadi Rp120 ribu. Kenaikan semacam ini dinilai merugikan masyarakat, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah.
“Kenaikan harga masih bisa ditoleransi kalau persentasenya terkendali. Tapi kalau naik berlipat-lipat, itu sudah tidak wajar,” tegasnya.
Editor : Murni A














