Jatengvox.com – Puluhan anak muda memadati Santrendelik Kampung Tobat, Gunungpati, Semarang, pada Sabtu (14/2/2026) dalam acara “Jeda Bersama AKATA: Kendali Diri Self Development in Quarter Life Crisis”.
Kegiatan yang digagas oleh AISNU Kota Semarang bersama Santrendelik ini menghadirkan dua pembicara inspiratif: Arina Milataka (Penulis dan Aktivis Gender) serta Nabeela Himatus Tsuroya, M.Pd, CPS (Dosen UIN Walisongo & Founder Inspiratif Indonesia).
Dalam sambutan pembukaannya, Nabeela Himatus Tsuroya menyoroti fenomena obsesi anak muda terhadap penilaian eksternal yang kerap memicu kegelisahan di usia seperempat abad. Ia mengutip konsep dari buku Filosofi Teras untuk menjelaskan akar masalah tersebut.
“Bagaimana caranya mengendalikan diri kita yang terobsesi oleh dunia luar? Di dalam buku Filosofi Teras, ternyata hal yang sangat mengganggu kita itu berasal dari pikiran orang lain,” ujar Nabeela di hadapan peserta.
Menurutnya, banyak anak muda terlalu fokus pada ekspektasi sosial sehingga lupa bahwa mereka sendiri memiliki potensi untuk memberi motivasi kepada orang lain.
Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek intelektual dan emosional dalam pengembangan diri.
“Intelektual hanya 20 persen dan emosional 80 persen dari diri kita. Maka dari itu, kita harus menggali dan mengenali diri sendiri untuk menyumbangkan kesuksesan. Padahal, banyak orang di luar sana yang masih membutuhkan motivasi dari diri kita,” ujar opening speech tersebut.
Pernyataan Nabeela mendapat sambutan hangat dari peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, santri dan pekerja muda yang tengah menghadapi kebingungan karier, hubungan, dan identitas diri.
Memasuki sesi utama, Arina Milataka mengajak peserta untuk melihat emosi sebagai sesuatu yang dapat diamati, bukan dikendalikan secara represif.
Ia membuka wawasan baru tentang bagaimana seseorang bisa berdamai dengan gejolak batinnya.
“Kita adalah pengamat dari emosi kita sendiri,” tegas Arina.
Penulis yang aktif dalam isu gender ini menjelaskan bahwa dengan mengambil jarak dari emosi, seseorang dapat lebih bijak merespons tekanan hidup.
“Ketika kita bisa mengamati emosi tanpa larut di dalamnya, kita memiliki kendali penuh atas tindakan kita. Itulah esensi dari kendali diri,” paparnya.
Diskusi berlangsung interaktif. Banyak peserta mengaku lega karena menemukan ruang aman untuk membicarakan kegelisahan mereka tanpa dihakimi.
Salah satu peserta, Khoirunnisa’ mengatakan bahwa acara ini membantunya melihat masalah dari perspektif baru.
“Ternyata selama ini saya terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain. Padahal, yang paling penting adalah bagaimana saya mengelola diri sendiri,” ujarnya.
Acara yang dikemas dalam suasana santai namun mendalam ini diakhiri dengan sesi refleksi. Ketua panitia dari AISNU Kota Semarang berharap kegiatan serupa dapat terus digelar untuk mendampingi generasi muda menghadapi tantangan mental di era modern.
Dengan menggandeng tokoh-tokoh berperspektif segar, AISNU dan Santrendelik kembali menegaskan perannya sebagai ruang tumbuh bagi anak muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara emosional.
Penulis : Aliyya Qothrunnada AS
Editor : Murni A














