Jatengvox.com – Indonesia kembali dihadapkan pada tingginya risiko bencana sepanjang 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga 24 Desember 2025 telah terjadi 3.176 kejadian bencana di berbagai wilayah Tanah Air. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor.
Kepala BNPB Suharyanto menyebut, tingginya angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kesiapan dan kesiapsiagaan bencana perlu diperkuat secara serius, tidak hanya oleh pemerintah pusat, tetapi juga oleh pemerintah daerah.
“Tingginya jumlah bencana hidrometeorologi basah menunjukkan perlunya kesiapan dan kesiapsiagaan yang lebih serius di seluruh daerah,” ujar Suharyanto dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Menurut Suharyanto, tren bencana yang terjadi sejalan dengan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait dinamika cuaca dan iklim. Peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah disebut menjadi pemicu utama meningkatnya kejadian banjir dan longsor.
Kondisi ini, lanjutnya, menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa lagi bersifat reaktif. Upaya mitigasi harus dilakukan sejak dini, terutama di daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
BNPB menilai, selama ini masih terdapat ketergantungan besar kepada pemerintah pusat dalam penanganan bencana. Padahal, kesiapsiagaan di tingkat daerah justru menjadi kunci dalam mengurangi dampak dan korban saat bencana terjadi.
“Penanggulangan bencana sudah tidak bisa lagi hanya menjadi urusan pemerintah pusat. Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota harus memperkuat kesiapan di wilayah masing-masing,” tegas Suharyanto.
Sebagai langkah antisipasi, BNPB bersama sejumlah kementerian dan lembaga terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Fokusnya adalah memastikan kesiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga awal 2026.
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, Indonesia saat ini masih berada dalam fase La Nina lemah yang diprediksi berlangsung hingga awal 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah.
“Kondisi tersebut membuat uap air mudah terbentuk dan memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif,” jelas Faisal.
BMKG bahkan menyebut perairan Indonesia saat ini berperan layaknya mesin uap pembentuk awan hujan. Dampaknya, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2026, dengan intensitas hujan yang bisa tergolong sangat tinggi di beberapa daerah.
Meski demikian, BMKG memprediksi mulai Februari 2026, sebagian wilayah Indonesia akan mengalami penurunan curah hujan. Wilayah tersebut antara lain pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, Riau, serta sebagian Jambi.
Namun, BMKG tetap mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lengah. Pola cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim global membuat potensi bencana tetap perlu diwaspadai.
Editor : Murni A














situs toto