Mahasiswa KKN UNDIP Lakukan Upaya Pencegahan Bullying Sejak Dini melalui Edukasi Psikologis

waktu baca 4 menit
Selasa, 4 Agu 2026 20:30 8 jatengvox

Jatengvox.com – Dalam rangka mendukung upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah, KKN-R Tim II Universitas Diponegoro turut memberikan edukasi psikologis kepada siswa-siswi kelas 6 SD N Watugajah pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi multidisiplin antara mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bullying dari sudut pandang hukum dan psikologi.

Pada kegiatan tersebut, mahasiswa Fakultas Psikologi, Riyaan, memberikan materi mengenai pengenalan emosi sebagai salah satu upaya untuk membantu siswa memahami perasaan diri sendiri maupun orang lain ketika menghadapi situasi bullying.

Pengenalan emosi dipilih karena kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi dapat membantu anak menjadi lebih peka terhadap kondisi dirinya maupun lingkungan di sekitarnya.

Materi diawali dengan pengenalan beberapa emosi dasar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti senang, sedih, marah, takut, dan terkejut.

Siswa diajak untuk memahami bahwa setiap emosi memiliki fungsi dan dapat muncul sebagai respons terhadap suatu kejadian.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Perkuat Literasi Al-Qur’an Melalui Pendampingan BTQ di RW 09 Kelurahan Palebon

Selain mengenali nama emosi, siswa juga diajak memperhatikan tanda-tanda yang dapat muncul ketika seseorang mengalami emosi tertentu, baik melalui ekspresi wajah, nada bicara, maupun perilaku.

Penyampaian materi kemudian dikaitkan dengan situasi bullying yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.

Siswa diberikan pemahaman bahwa satu kejadian dapat menimbulkan emosi yang berbeda pada setiap orang.

Tindakan yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang, misalnya, belum tentu dirasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan oleh orang lain.

Oleh karena itu, siswa perlu memperhatikan perasaan teman dan memahami bahwa emosi yang dirasakan seseorang tetap perlu dihargai.

Agar materi lebih mudah dipahami, kegiatan dilanjutkan dengan roleplay atau bermain peran.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak untuk melihat sebuah situasi bullying dari beberapa sudut pandang, yaitu sebagai korban, pelaku, maupun saksi.

Melalui roleplay, siswa diberikan kesempatan untuk memahami bagaimana perasaan dapat muncul dalam situasi yang berbeda serta bagaimana seseorang dapat merespons keadaan tersebut.

Pada roleplay dari sudut pandang korban, siswa diajak memahami emosi yang mungkin muncul ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang menyakiti atau merendahkan dirinya.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 5 Ikut Serta dalam Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al Mujahidin Kaligawe Kelurahan Susukan

Siswa kemudian diarahkan untuk mengenali bahwa korban dapat merasa sedih, takut, marah, malu, atau tidak nyaman. Sementara itu, dari sudut pandang pelaku, siswa diajak memahami bahwa perilaku yang dilakukan terhadap orang lain juga memiliki konsekuensi dan dapat memengaruhi perasaan orang lain.

Selain korban dan pelaku, siswa juga diajak melihat situasi bullying dari sudut pandang saksi.

Saksi dapat mengalami kebingungan, takut, atau merasa tidak tahu harus melakukan apa ketika melihat temannya mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, siswa diberikan pemahaman bahwa menjadi saksi bukan berarti harus diam, tetapi dapat mengambil tindakan yang aman, seperti membantu korban, mengingatkan apabila memungkinkan, atau melaporkan kejadian kepada guru maupun orang dewasa yang dipercaya.

Roleplay berlangsung secara interaktif dengan melibatkan siswa dalam situasi yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Setelah setiap peran dimainkan, siswa diajak melakukan refleksi sederhana dengan menjawab pertanyaan mengenai emosi yang dirasakan oleh masing-masing tokoh dan alasan munculnya emosi tersebut.

Kegiatan ini membantu siswa tidak hanya menghafalkan jenis-jenis emosi, tetapi juga menghubungkan emosi dengan situasi dan perilaku yang terjadi di sekitar mereka.

Melalui pengenalan emosi tersebut, siswa diharapkan mampu meningkatkan kesadaran terhadap perasaan diri sendiri sekaligus mengembangkan kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Baca juga:  Mathmaji Luncurkan Pilot Program di Sekolah Qur'an Savaty, Indonesia

Kemampuan mengenali emosi juga menjadi salah satu langkah awal dalam membangun perilaku yang lebih empatik, terutama ketika berinteraksi dengan teman sebaya.

Kegiatan ini menjadi pelengkap dalam penyuluhan mengenai pencegahan bullying yang diberikan kepada siswa. Materi hukum memberikan pemahaman mengenai hak anak dan perlindungan dari bullying, sedangkan pendekatan psikologi membantu siswa memahami dampak bullying melalui emosi dan pengalaman dari berbagai pihak yang terlibat.

Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami bahwa bullying merupakan tindakan yang tidak tepat, tetapi juga dapat memahami alasan mengapa tindakan tersebut dapat memberikan dampak terhadap kondisi emosional orang lain.

Melalui kegiatan edukasi psikologis ini, diharapkan siswa-siswi kelas 6 SD N Watugajah mampu mengenali berbagai emosi, memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, serta lebih peka terhadap situasi di lingkungan sekolah.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat, saling menghargai, serta berani mengambil tindakan yang tepat ketika melihat maupun mengalami tindakan bullying.

 

 

Penulis: Riyaan, Mahasiswa Universitas Diponegoro, Fakultas Psikologi.

Editor: Murni Anggita

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA