Jatengvox.com – Tim KKN-T 74 Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkenalkan program pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot sebagai salah satu penerapan konsep circular economy di Kelurahan Purwosari.
Program yang dilaksanakan pada 24 Juli–5 Agustus 2026 ini bekerja sama dengan perwakilan RT di Kelurahan Purwosari dengan memanfaatkan sampah organik, khususnya sisa makanan, sebagai pakan bagi larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.
Pemanfaatan maggot dalam pengelolaan sampah membantu mengurangi volume sampah organik sekaligus mengubahnya menjadi bagian dari siklus produksi yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Hasil budidaya tidak hanya berupa fresh maggot, tetapi juga dapat diolah menjadi dry maggot yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun ternak.
Sementara itu, sisa media dari proses budidaya dapat dimanfaatkan menjadi kasgot yang berfungsi sebagai bahan pembenah tanah atau pupuk organik bagi tanaman. Dengan demikian, satu jenis sampah organik dapat menghasilkan beberapa bentuk pemanfaatan, mulai dari menjadi pakan maggot hingga menghasilkan produk utama dan produk sampingan.

Melalui program ini, Tim KKN-T 74 UNDIP berupaya memperkenalkan pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga pada pemanfaatan kembali sumber daya serta penciptaan nilai guna dan nilai ekonomi bagi masyarakat Purwosari.
“Menurut saya, program budidaya maggot yang dilakukan teman-teman KKN ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain dapat menjadi alternatif sumber protein untuk pakan ternak, maggot juga membantu memanfaatkan sisa buah dan sayuran yang selama ini masih banyak terbuang. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah tiga kali panen dan hasilnya sangat bagus, dengan kualitas maggot yang baik. Kami sangat mengapresiasi bantuan dan pendampingan yang telah diberikan oleh teman-teman KKN. Terima kasih kepada Universitas Diponegoro yang sudah membantu dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Marzuki, selaku Ketua Kelompok Tani.
Potensi ekonomi yang dihasilkan dari berbagai produk ini menjadi contoh bagaimana konsep circular economy mampu membuka peluang pendapatan baru bagi warga Purwosari. Produk berupa fresh maggot dan dry maggot memiliki pangsa pasar yang luas di sektor perikanan dan peternakan sebagai substitusi pakan alternatif yang bernutrisi tinggi dibandingkan produk pabrikan.
Selain itu, kasgot yang berperan sebagai pupuk organik berkualitas juga menawarkan nilai jual bagi sektor pertanian lokal maupun tanaman hias. Perolehan profit dari produk tersebut menegaskan bahwa manajemen limbah melalui larva BSF bukan hanya gerakan pelestarian alam, namun merupakan sebuah model usaha yang memiliki keberlanjutan.

Dengan adanya rantai pengolahan sampah hingga ke tahap pemasaran produk, siklus ekonomi sirkular di Kelurahan Purwosari dapat berputar secara mandiri. Biaya operasional pengelolaan sampah di TPS3R dapat ditutupi dari hasil penjualan maggot dan kasgot, sehingga sistem pengolahan limbah ini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada subsidi atau dana luar.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat dari yang semula melihat sampah organik sebagai beban lingkungan yang kotor, menjadi komoditas bernilai ekonomis tinggi yang mampu mendorong ekonomi lokal secara jangka panjang.
Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari peran aktif warga dan perwakilan RT yang turut serta dalam setiap tahapan budidaya, mulai dari pengumpulan sampah organik hingga proses panen maggot.
Selama pelaksanaan program pada 24 Juli hingga 5 Agustus 2026, Tim KKN-T 74 Undip secara rutin melakukan pendampingan teknis kepada Kelompok Tani setempat, termasuk edukasi mengenai cara perawatan larva BSF yang tepat agar menghasilkan maggot dengan kualitas optimal.
Pendampingan ini turut mencakup pengenalan teknik pengeringan maggot serta pengolahan kasgot agar dapat langsung dimanfaatkan maupun dipasarkan oleh warga.
Selain aspek teknis, Tim KKN-T 74 Undip juga mendorong warga Purwosari untuk mulai memetakan potensi pasar bagi produk-produk olahan maggot tersebut, baik ke peternak unggas, pembudidaya ikan, maupun petani yang membutuhkan pupuk organik.
Harapannya, setelah masa pelaksanaan KKN berakhir, warga dapat terus melanjutkan dan mengembangkan usaha ini secara mandiri sebagai salah satu sumber pendapatan tambahan bagi Kelurahan Purwosari.
“Program ini juga membuka wawasan kami bahwa sampah bukan lagi sekadar masalah yang harus dibuang, tapi bisa menjadi peluang usaha kalau dikelola dengan benar. Kami berharap kerja sama seperti ini bisa terus berlanjut meski program KKN sudah selesai,” tambah Marzuki mengenai keberlanjutan program ke depan.
Dengan berakhirnya masa pelaksanaan program pada 5 Agustus 2026, Tim KKN-T 74 Undip berharap budidaya maggot berbasis circular economy ini dapat menjadi model pengelolaan sampah organik yang dapat direplikasi di kelurahan lain, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dapat berkontribusi dalam menghadirkan solusi lingkungan yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.
Penulis: Tim Publikasi KKN-T 74 Universitas Diponegoro Kelurahan Purwosari
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar