Jatengvox.com – “Prok-prok, byur-byur.” Suara tepuk tangan anak-anak mengiringi Tepuk Banyu dalam kegiatan edukasi lingkungan “Aku Sayang Sendang” yang digelar mahasiswa KKN-T IDBU 52 Universitas Diponegoro di TK Pertiwi 07, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Melalui permainan dan praktik langsung, 15 siswa diajak mengenal sendang sekaligus belajar menghemat air, merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan memilah sampah sejak dini.
Program “Aku Sayang Sendang: Edukasi Interaktif sebagai Upaya Menanamkan Kesadaran Konservasi Air dan Keselamatan Lingkungan Sejak Dini” dilaksanakan pada 22 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini agar materi mengenai air dan lingkungan dapat diterima secara lebih mudah dan menyenangkan.
Kegiatan diawali dengan storytelling mengenai pentingnya menjaga sendang, konservasi air, kebersihan, dan keselamatan lingkungan.

Materi kemudian diperkuat melalui Tepuk Banyu yang menjadi salah satu media untuk membantu anak-anak mengingat pesan mengenai pentingnya menjaga air.
Pembelajaran dilanjutkan melalui maze edukatif berbasis aktivitas langsung. Anak-anak melewati lima pos dengan misi yang berbeda, mulai dari mempraktikkan cara menghemat air, menyiram tanaman, mengambil sampah, memilah sampah organik dan anorganik, hingga mengenal kawasan sendang melalui simulasi sederhana.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk melatih kemampuan motorik melalui gerakan dan aktivitas fisik sederhana yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Guru TK Pertiwi 07, Murochati, mengatakan anak-anak menunjukkan respons yang sangat baik dan antusias selama mengikuti kegiatan.
Menurutnya, edukasi tersebut menjadi pengalaman baru bagi siswa karena sebelumnya mereka belum mendapatkan pengenalan khusus mengenai sendang sebagai salah satu sumber mata air di lingkungan sekitar.
“Anak-anak responsnya sangat baik dan antusias karena mereka pertama kali berkenalan dengan sendang. Apalagi dengan adanya Tepuk Banyu, anak-anak sangat antusias, bahkan sampai sekarang mereka masih spontan dengan Tepuk Banyu,” ujar Murochati.
Ia menilai pengenalan sendang penting dilakukan sejak dini karena keberadaan sumber mata air tersebut semakin kurang dikenal oleh masyarakat.
Selama ini, pengenalan mengenai air di sekolah lebih banyak mencakup air hujan, air laut, dan air keran, sedangkan air sendang belum diperkenalkan secara khusus kepada anak-anak.
“Penting mengenalkan adanya sendang karena makin tahun orang mulai melupakan sendang dan makin ke sini sendang tidak dimanfaatkan dengan baik,” ujar Murochati.
Selain memberikan pengalaman baru bagi siswa, kegiatan tersebut juga menambah pengetahuan guru mengenai keberadaan dan pentingnya menjaga sumber daya air di lingkungan sekitar.
Edukasi mengenai sendang dinilai dapat menjadi salah satu materi yang diperkenalkan kembali kepada anak-anak maupun masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, seluruh siswa mampu mengikuti aturan permainan dan menyelesaikan misi pada setiap pos. Mereka mempraktikkan penghematan air, menyiram tanaman, mengambil sampah, memilah sampah organik dan anorganik, serta mengenal sendang melalui simulasi.
Program ini turut menghasilkan beberapa media edukasi, yaitu poster “Dengan Anggota Tubuhku, Aku Bisa Menjaga Lingkungan”, maskot “Si Banyu”, serta konsep “Penjaga Sendang Cilik”. Media tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kembali oleh sekolah sebagai pendukung pembelajaran mengenai lingkungan.
Kegiatan “Aku Sayang Sendang” juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran interaktif yang mengenalkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan sejak dini.
Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pengenalan konservasi dan pemanfaatan air secara berkelanjutan, serta SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui pembiasaan menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T IDBU 52 berharap pengenalan mengenai sendang dan konservasi air dapat terus diterapkan dalam keseharian anak-anak.
Konsep “Penjaga Sendang Cilik” menjadi bagian dari upaya menanamkan pemahaman bahwa menjaga air dan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan sejak dini.
Penulis: Kamalia Rahila
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar