Mahasiswa KKN Undip Perkuat Peran Kader Posyandu Desa Tawangsari Melalui Modul Penanganan Stunting Berbasis Pola Asuh Keluarga

waktu baca 3 menit
Senin, 20 Jul 2026 21:40 5 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Kelompok 3 Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, melaksanakan program kerja unggulan berupa penyusunan dan diseminasi Modul Penanganan Stunting Berbasis Pola Asuh Keluarga kepada kader kesehatan pada Senin (20/7/2026) pukul 09.00 – 12.00 WIB di Balai Desa Tawangsari.

Program ini merupakan implementasi program kerja Multidisiplin 1 yang berfokus pada penguatan literasi kesehatan masyarakat melalui Perpustakaan Desa Tawangsari dan Pondok Bersalin Desa (Polindes).

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang memerlukan penanganan komprehensif.

Selain dipengaruhi oleh faktor gizi, stunting juga berkaitan erat dengan pola asuh, praktik pemberian makan, kebersihan lingkungan, hingga pengetahuan keluarga dalam merawat anak.

Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN menyusun sebuah modul edukasi yang mengupas akar penyebab stunting dari sisi pola pengasuhan orang tua maupun kakek dan nenek yang turut berperan dalam pengasuhan anak di lingkungan keluarga.

Modul setebal 12 halaman tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan sebagai media edukasi lapangan oleh kader kesehatan.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UNDIP Dorong UMKM Unggulan Naik Kelas Lewat Literasi Digital dan Penguatan Usaha

Penyusunannya dilakukan berdasarkan referensi ilmiah dan pedoman resmi Kementerian Kesehatan sehingga materi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan serta mudah dipahami oleh masyarakat.

Kegiatan diseminasi dihadiri oleh seluruh kader kesehatan Desa Tawangsari yang berasal dari Posyandu Marsudi 1 hingga Marsudi 10.

Posyandu Marsudi 1 – 6 merupakan posyandu bayi dan balita, sedangkan Posyandu Marsudi 7 – 10 melayani kelompok lanjut usia.

Setiap posyandu terdiri atas tiga hingga lima kader kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan promotif dan preventif di masyarakat.

Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan faktor-faktor penyebab stunting, pentingnya pola asuh yang responsif, praktik pemberian makan sesuai usia anak, pemenuhan gizi seimbang, kebersihan lingkungan, serta strategi komunikasi yang dapat diterapkan kader saat memberikan edukasi kepada keluarga sasaran. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengansesi diskusi dan tanya jawab mengenai berbagai permasalahan yang sering ditemui kader selama pendampingan balita di lapangan.

Baca juga:  Mahasiswa Fakultas Hukum UNDIP Kawal Transformasi Legalitas UMKM Parfum Branjang melalui Penguatan Perpajakan dan Standardisasi Produk

Ibu Kader ILP setempat menyatakan bahwa “Kader kesehatan disini udah kaya jadi perpanjangan tangan puskesmas mbak, karena mereka yang memang paling paham kondisi masyarakat setempat. Ya. kami harapannya modul mbak bisa jadi bahan edukasi kalo kader mau ngasih edukasi ke masyarakat.” ujarnya.

Selain memaparkan modul, mahasiswa juga menyerahkan berbagai luaran pendukung berupa infografis kesehatan yang dipasang di Perpustakaan Desa Tawangsari, media Grow Chart untuk pemantauan pertumbuhan balita, serta membantu mencetak lima buku terbitan Kementerian Kesehatan yang kemudian diserahkan kepada kader Integrasi Layanan Primer (ILP) dan bidan desa untuk disimpan di Polindes sebagai referensi edukasi masyarakat.

Baca juga:  Mahasiswa KKN-T IDBU 15 UNDIP Selenggarakan Program Perkuat Literasi Digital dan Budaya Membaca Siswa SMP Al-Hikam di Desa Banyudono

Antusiasme kader kesehatan terlihat selama kegiatan berlangsung. Bahkan setelah sesi pemaparan selesai, kader ILP Polindes Desa Tawangsari mengajukan permintaan agar modul tersebut diperbanyak menjadi enam eksemplar sehingga masing-masing Posyandu Marsudi 1 hingga Marsudi 6 memiliki satu modul sebagai pegangan dalam melaksanakan penyuluhan dan edukasi kepada keluarga balita di wilayah kerjanya.

Permintaan tersebut menjadi indikator bahwa modul yang disusun tidak hanya diterima dengan baik, tetapi juga dinilai memiliki manfaat praktis dan relevan dengan kebutuhan kader di lapangan.

Kehadiran modul diharapkan mampu memperkuat kapasitas kader kesehatan sebagai agen perubahan dalam meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai pencegahan stunting sehingga upaya promotif dan preventif di Desa Tawangsari dapat berjalan secara lebih optimal dan berkelanjutan.

 

Penulis: Vika Nooriska Melyawati

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA