Mahasiswa KKN UNDIP Terapkan Teknologi Tepat Guna untuk Optimalisasi Pengelolaan Limbah Padi Berbasis Filosofi Jepang Mottainai

waktu baca 6 menit
Jumat, 31 Jul 2026 20:00 2 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN-Reguler Tim II Universitas Diponegoro 2026 melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada para kelompok tani dan beberapa perwakilan perangkat desa di Desa Tumbal, Kecamatan Comal.

Kegiatan yang mengangkat tema “Implementasi Teknologi Tepat Guna untuk Optimalisasi Pengelolaan Limbah Padi Berbasis Filosofi Jepang Mottainai sebagai Upaya Mendukung Pertanian Berkelanjutan” tersebut dilaksanakan di Kantor Balai Desa Tumbal.

Kegiatan sosialisasi ini diikuti ketua kelompok tani, beberapa anggota kelompok tani, serta beberapa perwakilan perangkat desa. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman baru mengenai pentingnya pengelolaan limbah jerami sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna.

Pak Teguh selaku Sekretaris Desa Tumbal memberikan pesan sebelum pelaksanaan sosialiasi yang dilakukan oleh mahasiswa KKN, “Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru bagi kelompok tani dan diharapkan dapat menjadi masukan untuk mengurangi kebiasaan membakar jerami serta mendorong pemanfaatannya agar lebih berguna bagi pertanian di Desa Tumbal,” ujar Pak Teguh.

Kegiatan sosialisasi diawali dengan penyampaian materi yang disampaikan oleh Raisya Syahwalani, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat terkait dengan bahaya pembakaran jerami terhadap risiko Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).

Mahasiswa menjelaskan bahwa asap dan partikulat yang dihasilkan dari pembakaran jerami dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernafasan. Selain membahas terkait dampak kesehatan dan lingkungan yang disebabkan oleh pembakaran jerami, mahasiswa juga mengajak kelompok tani dalam memahami aspek hukum dan praktik pembakaran.

Materi yang disampaikan oleh Rafi Akbar Pradana, selaku mahasiswa Program Studi Hukum bahwa kondisi pembakaran tumpukan jerami yang dilakukan di Desa Tumbal, tidak secara otomatis dapat disamakan dengan pembakaran lahan. Sehingga, penerapan ketentuan hukum tetap bergantung dengan keadaan di lapangan.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UNDIP Gelar Senam Bersama dan Bagikan Doorprize untuk Warga Desa Karangrejo

Kegiatan berlanjut dalam pengenalan filosofi Mottainai. Pemaparan materi disampaikan oleh Maria Claretha Arliene, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang yang menjelaskan terkait dengan prinsip untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu yang masih memiliki nilai guna.

Penerapan filosofi Mottainai yang diterapkan di Jepang, dikaitkan dengan kondisi limbah jerami yang ada di Desa Tumbal. Melalui pendekatan ini, mahasiswa mengajak kelompok tani untuk mengubah cara pandang terhadap limbah jerami, dari sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Dari Jerami Menjadi Produk Bernilai Guna

Berkaitan dengan konsep Mottainai, peserta diajak untuk dapat melihat bahwa upaya untuk tidak menyia-nyiakan limbah jerami bukan hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka potensi nilai ekonomi. Jerami padi yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna, salah satunya adalah Pupuk Organik Cair (POC).

Potensi tersebut kemudian diperkenalkan oleh Amanda Nasywa Zahira, selaku mahasiswa Program Studi Akuntansi dengan menunjukkan bahwa pemanfaatan jerami dapat dihitung dari sisi biaya produksi hingga potensi keuntungan dari produk.

Mahasiswa KKN Melakukan Sesi Dokumentasi Bersama Kelompok Tani dan Perwakilan Perangkat Desa di Balai Desa Tumbal pada Jumat (31/7/2026)

Namun, untuk dapat mengolah jerami menjadi produk yang bernilai, diperlukan tahapan awal berupa pengolahan bahan baku. Jerami yang masih berukuran besar akan lebih sulit untuk diproses dalam tahap fermentasi. Sebelum memperkenalkan alat pencacah jerami, tentu diperlukan pengadaan barang-barang yang dibutuhkan dalam tahap pembuatan.

Proses ini dilakukan oleh Annisa Shafania Putri, selaku mahasiswa Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik. Dalam pembuatan alat pencacah jerami, mahasiswa terlebih dahulu menjelaskan terkait dengan Rancangan Anggaran Biaya sebagai gambaran kebutuhan investasi dalam pemanfaatan jerami.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Undip Edukasi Pelaku UMKM Sumub Kidul soal Pemisahan Keuangan Usaha dan Pribadi

Sebagai upaya dalam memberikan gambaran lebih jelas kepada kelompok tani, Ega Ratanika selaku mahasiswa Program Studi Akuntansi dan Perpajakan menyajikan perbandingan antara pembakaran jerami secara langsung dan penggunaan alat pencacah.

Berlanjut dari hasil perhitungan tersebut, Muhammad Kahfi Gilang Ramadhan selaku mahasiswa Program Studi Teknik Perkapalan membawa pembahasan dari angka ke demonstrasi penggunaan alat pencacah jerami.

Alat pencacah dijadikan sebagai alternatif pengelolaan limbah jerami yang berfungsi sebagai tahap awal untuk mengolah jerami sebelum dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan baku Pupuk Organik Cair.

Mendorong Keberlanjutan Produk Bernilai Guna

Setelah diperkenalkan kepada kelompok tani, alat pencacah jerami tidak hanya dipandang sebagai sebuah teknologi tepat guna untuk membantu proses pengolahan limbah jerami, Keberadaan alat tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pengolahan limbah jerami yang terus berjalan dan memberikan manfaat bagi kelompok tani.

Berdasarkan hal tersebut, Rajwa Rakan Riansyah selaku mahasiswa Program Studi Administrasi Bisnis membahas terkait aspek keberlanjutan (sustainability) dari penggunaan alat pencacah. Dalam melihat kesiapan dan potensi pengembangan alat secara lebih menyeluruh, pembahasan dilanjutkan dengan analisis SWOT.

Melalui analisis tersebut, dapat diidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan. Hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah pengelolaan alat agar tidak berhenti.

Mengolah Jerami menjadi Pupuk Organik Cair (POC)

Kegiatan kemudian diarahkan pada pemanfaatan hasil cacahan jerami secara langsung. Alat pencacah yang sebelumnya diperkenalkan menjadi tahapan awal dari proses pengolahan jerami menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Baca juga:  Tim II KKN Tematik IDBU 30 Undip Tingkatkan Kepercayaan Diri Siswa SDN 4 Sriwulan melalui Public Speaking dan Edukasi Cita-cita

Salah satu bentuk pemanfaatan yang diperkenalkan kepada kelompok tani adalah Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar jerami padi. M. Mufid Kelvin selaku mahasiswa Agroekoteknologi menjelaskan bahwa jerami yang telah dicacah menjadi bahan utama dalam proses fermentasi.

Jerami dicacah hingga berukuran sekitar 2–5 cm untuk memperbesar luas permukaan bahan sehingga mikroorganisme lebih mudah menguraikan jaringan tanaman dan proses fermentasi dapat berlangsung lebih optimal.

Dalam memperluas pemahaman kelompok tani terhadap pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), Alya Rizqina Rahmadyani selaku mahasiswa Ilmu Komunikasi membuat panduan terkait dengan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) secara bertahap.

Panduan yang dibuat bertujuan agar kelompok tani memahami proses mulai dari persiapan hingga tahap penyimpanan Pupuk Organik Cair (POC). Secara umum, pelaksanaan kegiatan membutuhkan media publikasi yang telah dibuat oleh Syahla Sandiani Assyifa Adam selaku mahasiswa Program Studi Informatika dalam mendukung penyampaian informasi selama kegiatan berlangsung.

Dengan demikian, kelompok tani tidak hanya mengetahui bahwa jerami dapat dimanfaatkan, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai bagaimana limbah dapat dimanfaatkan menjadi Pupuk Organik Cair yang dapat dimanfaatkan kembali dalam kegiatan pertanian.

Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi bersama dan penyerahan beberapa luaran, diantaranya adalah leaflet mengenai PHBS untuk petani dan konsep mottainai; Modul mengenai sanksi hukum pembakaran limbah jerami, analisis potensi nilai ekonomis dan HPP POC, rancangan anggaran dana alat pencacah padi, analisis SWOT dan sustainability alat pencacah padi; Alat pencacah padi dan Pupuk Organik Cair yang telah difermentasikan selama kurang lebih dua minggu; Poster panduan praktis mengenai pembuatan Pupuk Organik Cair.

Luaran-luaran tersebut diharapkan dapat menjadi media edukasi berkelanjutan yang dapat disebarluaskan kepada anggota kelompok tani lainnya, serta dapat menjadi dasar bagi pengembangan kegiatan lanjutan terkait pengelolaan limbah pertanian dan penerapan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan guna mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Desa Tumbal.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA