Ubah Sampah Dapur Jadi Fermentasi Eco Enzyme, KKN-T IDBU 52 Wujudkan SDGs 11, 12, dan 13

waktu baca 4 menit
Sabtu, 15 Agu 2026 20:00 3 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Diponegoro kelompok 2 IDBU 52 Mijen mengadakan program edukasi lingkungan tentang fermentasi eco enzyme bagi warga RT 07 RW 07, Kelurahan Mijen, Kota Semarang. Program ini merupakan bagian dari Program Kampung Iklim (Proklim) yang dijalankan tim selama masa pengabdian, dengan sasaran utama ibu-ibu rumah tangga di wilayah tersebut.

Melalui leaflet berjudul “Eco Enzyme: Fermentasi Cerdas dari Rumah”, mahasiswa memperkenalkan eco enzyme sebagai cairan serbaguna hasil fermentasi limbah dapur organik, seperti sisa sayuran dan kulit buah, yang dicampur dengan gula merah atau molase dan air. Materi ini disusun agar mudah dipahami dan langsung dipraktikkan oleh warga di rumah masing-masing.

Dalam leaflet dijelaskan sejumlah alasan mengapa metode ini layak dicoba oleh ibu-ibu rumah tangga: bahan baku yang digunakan berasal dari sisa dapur sehingga hampir tidak memerlukan modal, cara pembuatannya sederhana, hasilnya dapat langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah, dan sekaligus membantu mengurangi sampah organik yang biasa dibuang setiap hari.

Komposisi bahan yang digunakan mengikuti rasio 1:3:10, yaitu 1 bagian gula merah atau molase, 3 bagian sisa buah dan sayur, serta 10 bagian air, dengan volume yang diisikan ke wadah sekitar 60 persen dari kapasitas botol atau wadah yang dipakai.

Leaflet turut memuat tahapan pembuatan eco enzyme secara berurutan. Proses diawali dengan membersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia, lalu mengukur volume wadah dan mengisinya dengan air bersih maksimal 60 persen dari volumenya. Selanjutnya, gula dimasukkan sesuai takaran 10 persen dari berat air, diikuti potongan sisa buah dan sayuran sebanyak 30 persen dari berat air, kemudian diaduk rata.

Wadah kemudian ditutup rapat hingga masa panen tiba. Khusus penggunaan botol 1,5 liter, tutup botol disarankan dibuka setiap 10 hari sekali untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Wadah juga perlu diberi label tanggal pembuatan dan perkiraan tanggal panen agar mudah dipantau.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Sosialisasikan Pencegahan Penipuan Transaksi QRIS melalui GoPay Merchant kepada Pelaku UMKM

Proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Hasil akhirnya berupa cairan berwarna cokelat dengan aroma asam segar khas fermentasi, dan aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di rumah.

Leaflet turut mencantumkan sejumlah tips agar fermentasi berhasil, di antaranya menggunakan wadah plastik tertutup, menyisakan ruang udara sekitar sepertiga bagian wadah, serta membuka tutup wadah secara berkala selama sepuluh hari pertama di bulan pertama fermentasi.

Sebaliknya, warga diimbau menghindari penggunaan wadah berbahan kaca atau logam, serta tidak memanen hasil fermentasi sebelum genap tiga bulan.

Baca juga:  Sulap Daun Kering Jadi Briket, Mahasiswa KKN-T IDBU Undip Ajak Warga Wujudkan SDGs 8, 12, 15

Beberapa pertanyaan yang kerap muncul di kalangan warga turut dijawab dalam leaflet ini. Bau asam pada cairan dinyatakan normal jika proses fermentasi berhasil, kulit jeruk juga diperbolehkan sebagai bahan tambahan, dan munculnya lapisan putih pada permukaan cairan umumnya merupakan ragi alami yang masih tergolong wajar. Sebaliknya, munculnya jamur berwarna hitam menjadi tanda bahwa proses fermentasi kemungkinan gagal.

Manfaat untuk Kebutuhan Rumah Tangga

Eco enzyme yang telah jadi dapat dimanfaatkan sebagai pembersih serbaguna, mulai dari pel lantai, cuci piring, hingga membersihkan kamar mandi. Selain itu, cairan ini juga dapat digunakan sebagai pupuk cair alami pengganti bahan kimia berbahaya untuk menyuburkan tanaman sekaligus mengusir hama.

Penyerahan Leaflet Panduan fermentasi eco enzyme
bersama Ibu Ketua RT 07 Kelurahan Mijen

Leaflet turut mencantumkan dosis pemakaian untuk masing-masing kebutuhan, yaitu 1 bagian eco enzyme berbanding 10 bagian air untuk pel lantai, 1 berbanding 5 untuk pembersih kamar mandi, 1 berbanding 65 untuk pupuk tanaman, serta 1 berbanding 100 untuk pengusir hama.

Baca juga:  Semarak Hari Lahir Pancasila, KKN UIN Walisongo Semarang Gelar Lomba Edukatif di SDN Ngegot

Tidak hanya cairannya, ampas hasil fermentasi eco enzyme juga disebutkan memiliki sejumlah manfaat. Ampas yang diblender halus dapat digunakan untuk membersihkan saluran kloset, sementara ampas yang dikeringkan bisa dimanfaatkan untuk mengharumkan mobil maupun sebagai pupuk tanaman organik, dengan catatan bukan untuk tanaman dalam pot.

Melalui program edukasi ini, mahasiswa KKN-T IDBU 52 Mijen berharap warga RT 07 RW 07 dapat mempraktikkan pembuatan eco enzyme secara mandiri di rumah masing-masing.

Selain menghemat pengeluaran untuk bahan pembersih dan pupuk, kebiasaan ini juga diharapkan dapat mengurangi volume sampah organik yang dibuang setiap hari, sekaligus membantu menjernihkan air selokan di lingkungan sekitar.

Program ini turut sejalan dengan upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, melalui pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.

 

 

Penulis: Marisa Jala Kusumawati, mahasiswa Program Studi Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.

Editor: Murni Anggita

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA