Jatengvox.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 dipastikan jatuh pada hari Jumat, 5 September 2025.
Hal ini telah ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang hari libur nasional dan cuti bersama.
Ketetapan tersebut tertuang dalam dokumen Nomor 933 Tahun 2025.
Namun, seperti tradisi di Indonesia, penentuan tanggal Maulid Nabi tidak selalu sama antara organisasi besar Islam.
Perbedaan metode hisab (perhitungan astronomis) dan rukyat (pengamatan bulan langsung) membuat penetapan awal bulan Hijriah bisa berbeda. Hal inilah yang terjadi dalam penetapan Maulid Nabi tahun ini.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah menetapkan bahwa 1 Rabiul Awal 1447 H jatuh pada Senin, 25 Agustus 2025.
Dengan demikian, 12 Rabiul Awal yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H jatuh pada Jumat, 5 September 2025.
“Hal ini tercantum dalam Surat Keputusan dengan Nomor 92/PB.08/A.II.01.13/13/08/2025,” demikian keterangan resmi PBNU.
Di sisi lain, Muhammadiyah menetapkan bahwa awal Rabiul Awal 1447 H jatuh sehari lebih awal, yaitu pada Minggu, 24 Agustus 2025.
Dengan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), organisasi ini menetapkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 akan berlangsung pada Kamis, 4 September 2025.
Tradisi perbedaan semacam ini sebenarnya sudah lama terjadi di Indonesia dan bukan hal baru.
NU lebih banyak menggunakan rukyatul hilal atau pengamatan bulan secara langsung, sementara Muhammadiyah mengandalkan hisab hakiki wujudul hilal atau perhitungan astronomis modern.
Perbedaan cara pandang ini justru memperlihatkan keragaman tradisi Islam di Nusantara.
Lebih dari sekadar perbedaan tanggal, Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 memiliki makna spiritual mendalam bagi umat Muslim.
Peringatan kelahiran Rasulullah bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum untuk meneladani akhlak, menguatkan keimanan, serta memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam.
Sejarah mencatat bahwa perayaan Maulid telah dikenal sejak masa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-4 Hijriah.
Bahkan, pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, tradisi ini semakin populer sebagai sarana memperkuat kecintaan umat kepada Rasulullah.
Hingga kini, tradisi tersebut terus hidup dan menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia.
Editor : Hendra