Mahasiswa KKN Tim II UNDIP 2026 Kenalkan Eco-Enzyme, Ubah Sampah Dapur Jadi Solusi Bernilai Guna di Tegalontar

waktu baca 2 menit
Rabu, 12 Agu 2026 02:00 6 jatengvox

Jatengvox.com – Sampah dapur seringkali berakhir begitu saja di tempat sampah padahal kulit buah dan sisa sayuran dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai guna.

Melalui program Tegalontar Resik, KKN Tim II UNDIP Harsa Tegalontar Tahun 2026 mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah, dari sekadar sesuatu yang harus dibuang menjadi sumber daya yang dapat diolah.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah eco-enzyme, hasil fermentasi bahan organik seperti sisa buah dan sayuran.

Baca juga:  Tim II KKN Tematik IDBU 30 Undip Terjun ke Desa Sriwulan, Hadirkan Solusi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kawasan Pesisir Demak

Kegiatan ini tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga dilengkapi demonstrasi dan praktik bersama yang melibatkan masyarakat, khususnya ibu-ibu kader PKK.

Melalui praktik tersebut, peserta diajak memahami pentingnya memilah sampah organik sejak dari rumah serta mengetahui bagaimana proses pengolahannya.

Pengelolaan sampah juga dikaitkan dengan kehidupan ekonomi keluarga. Masyarakat diajak melihat kembali berbagai pengeluaran rumah tangga, termasuk kebutuhan produk pembersih.

Melalui simulasi sederhana, peserta diperkenalkan pada potensi pemanfaatan eco-enzyme untuk kebutuhan tertentu sebagai salah satu upaya efisiensi rumah tangga.

Baca juga:  Ancaman Bencana Meningkat, Ketahanan Nonmiliter Jateng Jadi Prioritas Nasional

Program ini menjadi bagian dari GAMPIL (Gerakan Mandiri Pemilahan Sampah). Sebelum sampah diolah, langkah utama yang perlu dilakukan adalah pemilahan.

Melalui edukasi, jurnal GAMPIL, dan monitoring, masyarakat didorong membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten.

Mahasiswa juga melakukan pengumpulan data sederhana mengenai perilaku dan volume sampah rumah tangga sebagai gambaran awal potensi pengurangan sampah di Desa Tegalontar.

Tegalontar Resik merupakan program multidisiplin yang memadukan berbagai perspektif, mulai dari ekonomi, hukum, psikologi, hingga lingkungan.

Pendekatan tersebut menjadikan persoalan sampah tidak hanya dipandang sebagai masalah kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan masyarakat, ekonomi rumah tangga, dan tata kelola lingkungan desa.

Baca juga:  KAI Bandara Layani 78.226 Penumpang Selama Libur May Day 2025, Ajak Masyarakat Tertib Saat Melintas Perlintasan

Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari jumlah eco-enzyme yang dihasilkan, tetapi dari tumbuhnya kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan sampah.

Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana: dari dapur sendiri, dari satu sampah yang dipilah, hingga satu keluarga yang mulai peduli.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA