Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Angkatan 85 UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam Posko 10 melaksanakan salah satu program kerja utama berupa pembuatan plang jalan di 15 titik strategis yang tersebar di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.
Program ini menjadi salah satu kontribusi nyata mahasiswa dalam memperbaiki tata lingkungan desa serta memberikan kemudahan navigasi bagi masyarakat dan pengunjung.
Inisiatif ini lahir dari hasil observasi mahasiswa sejak awal berada di Desa Trayu. Ditemukan bahwa banyak gang di desa belum memiliki plang penunjuk jalan yang permanen, sehingga menyulitkan warga, tamu desa, maupun wisatawan yang berkunjung.
Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat Desa Trayu merupakan salah satu desa wisata yang cukup sering dikunjungi pendatang dari luar daerah.
Melihat kebutuhan tersebut, mahasiswa Posko 10 menjadikan pembuatan plang jalan sebagai program kerja prioritas yang langsung disambut baik oleh Kepala Desa serta perangkat desa.
Tahap awal kegiatan dimulai dengan pendataan nama gang bersama para Ketua RT, tokoh masyarakat, dan ibu-ibu PKK.
Dari hasil pendataan, ditemukan sejumlah gang yang telah memiliki nama lama dan dikenal masyarakat, seperti Gang Segadung, Gang Masjid, Gang Makam, dan Gang Sarodin.
Nama-nama ini memiliki nilai historis dan kedekatan emosional yang kuat, sehingga mahasiswa menilai penting untuk mempertahankannya.
Selain itu, terdapat beberapa gang baru yang belum memiliki nama resmi. Setelah diskusi dengan perangkat desa, disepakati beberapa nama baru seperti Gang Arimbi, Gang Anjani, dan Gang Walsong, yang dipilih berdasarkan kesesuaian dengan identitas budaya lokal.
Khusus bagi wilayah RT 04, nama penanda tetap mempertahankan ciri khas berupa “RT 04”, sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi yang telah dijalankan warga sejak lama.
Proses pembuatan plang dilakukan sepenuhnya oleh mahasiswa KKN. Mulai dari pembelian bahan kayu jati, pembuatan pola huruf, pengecatan pilox, hingga perakitan dan pemasangan dilakukan secara mandiri dengan penuh komitmen.

Pengerjaan berlangsung di Posko KKN dalam suasana kebersamaan yang menggambarkan semangat gotong-royong yang kuat.
Salah satu mahasiswa KKN yang terlibat langsung, Muhammad Faiq Nabilul Fikri, menyampaikan bahwa program ini memiliki makna lebih dari sekadar pemasangan penanda jalan.
“Bagi kami, plang ini bukan hanya penunjuk arah, tetapi simbol kepedulian. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat dan bertahan lama bagi warga Desa Trayu. Kami berharap plang ini benar-benar membantu mobilitas warga dan memperkuat identitas desa,” ujarnya.
Tahap pemasangan plang di 15 titik desa juga berjalan lancar. Meskipun perangkat desa tidak dapat mendampingi seluruh proses karena kesibukan, warga tetap menunjukkan dukungan melalui peminjaman perkakas seperti palu dan tang, serta membantu memastikan plang berdiri kokoh.
Dukungan sederhana namun bermakna ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Trayu sangat terbuka terhadap program-program mahasiswa KKN.
Sebagai bentuk dukungan pemerintah desa, Sekretaris Desa Trayu, Mahfud Hanafi Afri, turut memberikan pernyataan mengenai pentingnya program ini bagi desa.
“Pembuatan plang jalan ini sangat membantu desa dalam menata lingkungan dan memudahkan akses, terutama bagi tamu dan wisatawan. Kami mengapresiasi kerja keras mahasiswa KKN yang tidak hanya datang mengabdi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkapnya.
Kini, seluruh plang yang telah dipasang berdiri dengan rapi dan berfungsi sebagai penunjuk arah yang mudah dibaca.
Selain manfaat praktis, keberadaan plang-plang ini turut memperindah tampilan desa dan mempertegas identitas tiap gang yang sebelumnya belum terdokumentasi dengan baik.
Program ini menjadi salah satu jejak pengabdian mahasiswa Posko 10 yang diyakini akan terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar bahwa kontribusi kecil yang dilakukan dengan ketulusan sering kali memberikan dampak besar bagi masyarakat.
Pembuatan plang jalan menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat dapat diwujudkan melalui langkah sederhana namun penuh makna, sekaligus menjadi pengingat bahwa kebersamaan dan kolaborasi adalah kunci dari pembangunan desa yang berkelanjutan.
Editor : Murni A














