Mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang Gelar Edukasi Kerukunan dan Lingkungan untuk Siswa SD di Dusun Porot

waktu baca 6 menit
Rabu, 26 Agu 2026 20:30 8 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Modul Memberdayakan Komunitas (KKN MMK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang baru saja menyelesaikan program edukasi bertema kerukunan dan kepedulian lingkungan.

Kegiatan ini menyasar para siswa Sekolah Dasar (SD) di Dusun Porot, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Proses belajar mengajar berlangsung setiap pekan dari hari Senin sampai Rabu, terhitung mulai tanggal 3 hingga 26 Agustus 2026.

Program ini merupakan salah satu rangkaian dari pengabdian mahasiswa yang tersebar di tiga dusun, yaitu Dusun Gletuk yang menjadi lokasi posko sekaligus tempat tinggal para mahasiswa, kemudian Dusun Krecek, dan Dusun Porot. Pemilihan SD 4 Getas yang berada di Porot bukan tanpa alasan.

Sekolah ini menjadi satu-satunya SD yang menampung anak-anak dari ketiga dusun tersebut. Pasalnya, di Gletuk dan Krecek tidak tersedia Sekolah Dasar.

Sementara di Krecek memang ada PAUD, tetapi lembaga itu tidak masuk dalam sasaran program KKN. Dengan begitu, kegiatan ini secara otomatis menyentuh seluruh anak usia sekolah dasar yang berasal dari Gletuk, Krecek, dan Porot.

Mengapa program ini diadakan? Ada dua alasan utama. Pertama, soal keberagaman agama yang cukup unik. Di Gletuk dan Porot, masyarakatnya hidup berdampingan dalam tiga keyakinan, yaitu Buddha, Kristen, dan Islam, dengan jumlah yang relatif berimbang.

Sementara di Krecek, situasinya berbeda. Hampir seluruh warganya—sekitar 99 persen—beragama Buddha, dan hanya ada sekitar tiga kepala keluarga yang beragama Islam.

Kedua, ketiga dusun ini juga menghadapi persoalan lingkungan yang serupa. Tidak ada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di wilayah tersebut. Bahkan, Gletuk kerap dilanda longsor, sehingga edukasi tentang lingkungan dirasa sangat mendesak.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Reguler Angkatan 85 UIN Walisongo Semarang Posko 10 Selenggarakan Workshop Spray Anti Nyamuk dari Serai di Desa Trayu

Menurut penuturan salah satu mahasiswa KKN yang terlibat langsung dalam kegiatan ini, pendekatan yang digunakan dalam program tersebut bersifat bertahap.

Materi kerukunan menjadi fondasi awal yang diberikan terlebih dahulu kepada semua siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Barulah setelah seluruh jenjang menyelesaikan materi tersebut, mereka melanjutkan ke pembahasan tentang lingkungan.

“Menurut kami, pendidikan tentang karakter dan lingkungan itu penting banget diberikan sejak kecil biar nempel terus sampai mereka gede. Kondisi di lapangan juga beragam. Di Gletuk dan Porot, anak-anak udah terbiasa hidup dengan teman-teman yang beda agama, yaitu Buddha, Kristen, dan Islam. Nah di Krecek, mayoritas Buddha, cuma ada sedikit yang Islam. Jadi kami pengen banget nguatin nilai toleransi dulu sebelum ngomongin soal lingkungan. Apalagi Gletuk sering longsor, jadi edukasi lingkungan juga penting buat nyegah hal-hal yang enggak diinginkan,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Sistem pelaksanaan program ini diatur bergiliran. Setiap hari, mahasiswa mendatangi satu jenjang kelas: Senin untuk kelas 1, Selasa kelas 2, Rabu kelas 3, dan seterusnya sampai semua kelas dari 1 sampai 6 mendapat giliran yang sama.

Dalam prosesnya, mereka tidak hanya memberikan materi ceramah, tetapi juga menggunakan berbagai metode lain seperti mendongeng, bermain gim, dan aktivitas interaktif lainnya supaya anak-anak tidak gampang bosan dan pesan yang disampaikan bisa lebih mudah diserap.

Saat membawakan materi kerukunan, para mahasiswa menekankan pentingnya saling menghargai—bukan hanya soal agama, melainkan juga perbedaan pendapat, hobi, atau latar belakang teman.

Intinya, mereka ingin anak-anak sadar bahwa meskipun berbeda keyakinan, mereka tetap satu keluarga besar dan harus saling menyayangi.

Cerita-cerita inspiratif yang dekat dengan keseharian dipilih sebagai alat penyampai pesan. Mereka juga memberikan contoh dari kondisi nyata di dusun masing-masing, baik yang beragama seimbang maupun yang mayoritas, agar anak-anak semakin paham bahwa rukun adalah kunci untuk hidup bertetangga.

Baca juga:  Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Dukung Tradisi Susuk Wangan di Sendang Kali Ngerancah Dusun Jurang Belik Desa Mlilir

Beralih ke materi lingkungan, pembahasannya lebih fokus pada kebersihan dan pengelolaan sampah yang benar.

Mahasiswa mengenalkan prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak SD. Cara ini dipilih agar sesuai dengan kenyataan di tiga dusun yang semuanya tidak memiliki TPS.

Di sinilah fakta menarik muncul. Mahasiswa mendapati bahwa sebenarnya warga di Gletuk, Krecek, dan Porot sudah mempunyai kebiasaan baik dalam mengurus sampah.

Sampah organik biasanya diberikan kepada hewan ternak atau diolah menjadi kompos, sementara sampah nonorganik dibakar di lubang khusus. Akan tetapi, sayangnya masih ada sebagian warga yang mencampur semua sampah ke dalam satu lubang, dan cara tersebut membuat pembakaran kurang efektif serta dapat memicu polusi.

Oleh karena itu, lewat program ini, mahasiswa berusaha menguatkan kebiasaan positif yang sudah berjalan sekaligus meluruskan kebiasaan yang keliru.

Tidak hanya teori, anak-anak juga diajak praktik langsung. Mereka mencoba mengubah sampah plastik bekas menjadi kerajinan seperti celengan dan pot bunga. Tujuannya agar mereka sadar bahwa sampah sebenarnya masih mempunyai nilai dan bisa disulap menjadi barang bermanfaat.

Sepanjang kegiatan, antusiasme siswa benar-benar terlihat. Mereka aktif bertanya, bercerita tentang pengalaman di rumah, serta bersemangat saat sesi gim dimulai. Suasana kelas menjadi hidup, penuh canda dan tawa di setiap pertemuan.

“Kak, aku seneng banget kakak-kakak KKN mau dateng ke sini. Belajarnya seru, ada cerita lucu-lucu, main-main juga. Jadi nggak bosen,” celetuk salah satu siswa kelas 4 dengan muka ceria.

Kepala SD 4 Getas, Ibu Yeni, juga tidak ketinggalan memberikan apresiasi. Menurut beliau, kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu, terutama untuk mengajarkan toleransi antaragama dan edukasi lingkungan yang selama ini belum mendapatkan porsi banyak dalam pelajaran di sekolah.

“Kami sangat berterima kasih sama adik-adik KKN yang udah pilih SD kami buat tempat ngabdi. Anak-anak selalu senang dan antusias kalau ada jadwal KKN. Apalagi mereka bisa belajar tentang kerukunan antaragama yang sangat cocok dengan kondisi sekolah dan dusun sekitar. Perlu diketahui, SD kami ini satu-satunya yang menampung anak-anak dari Gletuk, Krecek, dan Porot. Jadi, program ini bener-bener menyentuh semua anak dari tiga dusun. Semoga ilmu yang didapat bisa mereka terapkan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan masyarakat,” ucap Ibu Yeni.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 95 Beri Edukasi Pengelolaan Minyak Jelantah Bersama Ibu-Ibu PKK Desa Guntur

Program ini adalah salah satu bukti nyata peran mahasiswa dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul sejak dini.

Dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, mereka berhasil menyisipkan nilai-nilai moral dan cinta lingkungan ke dalam kegiatan yang tidak akan gampang dilupakan oleh siswa SD 4 Getas.

Ke depannya, tim KKN berharap anak-anak tidak hanya paham materi, tetapi juga bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih dengan kondisi keberagaman di tiga dusun sasaran, nilai-nilai kerukunan yang sudah ditanamkan diharapkan mampu memperkuat persaudaraan antar-siswa dan warga.

Sementara itu, edukasi lingkungan juga diharapkan dapat menambah kesadaran untuk menjaga alam, termasuk mencegah longsor yang sering terjadi di Gletuk.

“Semoga kebiasaan baik ini terus berlanjut dan memberi pengaruh jangka panjang. Kelihatannya sih kecil, tapi kalau semua orang bergerak bareng, hasilnya pasti besar. Baik buat kerukunan antaragama maupun buat kelestarian lingkungan, termasuk soal longsor yang udah sering terjadi di Gletuk,” pungkas salah satu mahasiswa KKN.

Dengan berakhirnya program pada 26 Agustus 2026, mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang berharap semua kebaikan yang sudah ditanamkan dapat terus dipelihara dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga SD 4 Getas serta masyarakat di tiga dusun—Gletuk, Krecek, dan Porot.

Terlebih lagi, SD ini menjadi satu-satunya sekolah yang mewadahi anak-anak dari ketiga dusun tersebut, sehingga dampak dari program ini benar-benar terasa merata.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA