Jatengvox.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersiap “tinggal landas” menuju target besar swasembada pangan pada 2026. Target ini bukan sekadar ambisi, melainkan bagian dari peran strategis Jawa Tengah sebagai penumpu pangan nasional di tengah tantangan krisis iklim, alih fungsi lahan, dan fluktuasi harga pangan.
Keseriusan itu ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama pencapaian target ketahanan pangan Provinsi Jawa Tengah 2026. Komitmen tersebut diteken langsung Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Tengah, serta instansi vertikal seperti Kodam IV/Diponegoro, Polda Jateng, dan Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng.
Penandatanganan berlangsung di The Sunan Hotel, Kota Surakarta, Rabu (14/1/2026), dan menjadi simbol sinergi lintas sektor untuk mengamankan pangan Jawa Tengah ke depan.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, Pemprov Jawa Tengah telah menyusun peta jalan (roadmap) swasembada pangan 2026 secara terukur. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan target ini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah provinsi.
“Peran bupati dan wali kota sangat penting. Mulai dari kepastian luasan lahan, komoditas unggulan, distribusi, sampai pemasaran hasil panen,” ujar Luthfi usai penandatanganan.
Menurutnya, kolaborasi dengan instansi vertikal seperti TNI dan Polri juga menjadi bagian penting dalam pengawalan program pangan, terutama terkait pendampingan petani dan stabilitas distribusi.
Dalam roadmap tersebut, Pemprov Jawa Tengah menetapkan sejumlah target produksi strategis pada 2026. Produksi padi ditargetkan mencapai sekitar 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat sekitar 12,22 persen dibandingkan realisasi 2025.
Sementara itu, produksi jagung ditargetkan 3,7 juta ton, naik tipis sekitar 0,17 persen, dan komoditas tebu ditargetkan mencapai 4,4 juta ton.
Target ini disusun berdasarkan potensi wilayah, kesiapan lahan, serta dukungan anggaran dan teknologi pertanian.
Untuk memastikan target tersebut tercapai, Pemprov Jawa Tengah menetapkan daerah-daerah prioritas sebagai sentra produksi pangan. Intervensi dilakukan secara langsung, salah satunya melalui bantuan benih dari APBD 2026.
Untuk komoditas padi, intervensi benih difokuskan di 12 kabupaten, yakni Cilacap, Kebumen, Tegal, Brebes, Pemalang, Demak, Grobogan, Sragen, Sukoharjo, Blora, Rembang, dan Pati.
Sedangkan untuk jagung, intervensi dilakukan di delapan kabupaten dengan total luasan sekitar 3.200 hektare, meliputi Blora, Boyolali, Brebes, Cilacap, Karanganyar, Kendal, Pemalang, dan Rembang.
Adapun komoditas tebu juga menjadi perhatian khusus, dengan rencana pengembangan sentra tebu di Kabupaten Blora pada 2026.
Langkah strategis lainnya adalah menyiapkan Jawa Tengah sebagai pusat benih dan bibit nasional. Untuk mendukung hal ini, Gubernur Ahmad Luthfi menginstruksikan optimalisasi 75 balai pertanian dan perkebunan yang tersebar di 35 kabupaten dan kota.
Balai-balai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat produksi benih, tetapi juga pusat inovasi, pendampingan petani, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian.
Dalam arahannya, Luthfi juga menegaskan larangan keras terhadap alih fungsi lahan pertanian dan lahan hijau menjadi kawasan permukiman. Ia menyebut persoalan ini sebagai isu krusial yang bisa mengancam masa depan pangan Jawa Tengah.
“Jangan main-main soal ini. Kalau terbukti melanggar, akan saya tindak,” tegasnya.
Pemprov Jawa Tengah, lanjut Luthfi, telah berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk memastikan perlindungan lahan pertanian produktif tetap terjaga.
Untuk menjaga ketersediaan pangan di dalam daerah, Pemprov Jateng juga menyiapkan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait tata kelola hasil panen. Selama ini, sebagian hasil panen padi Jawa Tengah banyak mengalir ke luar daerah.
Melalui Pergub tersebut, konsolidasi penjualan hasil panen akan diperkuat agar kebutuhan pangan masyarakat Jawa Tengah terpenuhi terlebih dahulu.
“Intinya, kebutuhan Jawa Tengah harus aman dulu, baru bisa dijual ke daerah lain,” ujar Luthfi.
Upaya swasembada pangan Jawa Tengah tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Sektor peternakan juga didorong dengan target produksi susu 942.497 ton, daging 76.570 ton, dan telur 917.863 ton pada 2026.
Sementara di sektor perikanan dan kelautan, Pemprov Jateng menargetkan produksi perikanan tangkap 354.029 ton, perikanan budidaya 600.000 ton, serta produksi garam 541.775 ton.
Penguatan sentra garam rakyat akan dilakukan di sejumlah wilayah pesisir seperti Rembang, Pati, Demak, Jepara, Brebes, Cilacap, dan Purworejo.
Editor : Murni A













