Jatengvox.com – Persoalan sampah organik rumah tangga menjadi tantangan tersendiri bagi banyak wilayah perkotaan, termasuk di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Menjawab persoalan ini, Tim KKN-T 74 Universitas Diponegoro menginisiasi program budidaya dan edukasi maggot Black Soldier Fly (BSF) yang tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga membangun sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya
Program ini berlangsung selama masa KKN, dengan rangkaian kegiatan budidaya dan monitoring harian yang dilaksanakan sejak 7 hingga 22 Juli 2026.
TPS3R Purwosari dipilih sebagai lokasi kegiatan karena telah memiliki fasilitas pemilahan sampah yang mumpuni, sehingga budidaya maggot dapat langsung diintegrasikan ke dalam sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan.
Melalui integrasi ini, sampah organik yang sebelumnya hanya berakhir sebagai limbah kini dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.
Sebagai bekal pengetahuan sebelum praktik, tim KKN-T 74 lebih dulu melakukan kunjungan belajar kepada pelaku usaha maggot di Ungaran pada 8 Juli 2026.
Dari kunjungan ini, tim memperoleh pemahaman praktis mengenai teknik budidaya, perawatan, hingga potensi pemasaran maggot, yang kemudian diterapkan dalam pendampingan bersama warga.

Konsistensi sebagai Kunci Keberlanjutan
Keberlanjutan budidaya maggot BSF sangat bergantung pada konsistensi perawatan harian. Tim menerapkan sistem monitoring hingga enam kali sehari yang terbagi dalam shift pagi, siang, dan malam.
Setiap shift mencatat jenis dan takaran pakan organik yang diberikan, mulai dari sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG), buah-buahan, sayuran, tahu, tempe, hingga biskuit, serta memantau kondisi media budidaya secara berkala.
Pengendalian kelembapan media menjadi salah satu aspek krusial. Ketika media terlalu lembap, tim menaburkan dedak atau remasan biskuit untuk menyerap kelebihan air.
Sebaliknya, penyemprotan air dilakukan secara rutin untuk menjaga kelembapan udara tetap ideal bagi pertumbuhan maggot.
Perawatan fisik kandang, seperti pembersihan sisa pakan, penyortiran maggot fase prepupa dan pupa, hingga penutupan bagian sangkar yang berlubang, juga dilakukan agar siklus budidaya tetap terjaga dari fase larva hingga menjadi lalat BSF dewasa.
Modul sebagai Warisan Pengetahuan
Agar program tidak berhenti seiring selesainya masa KKN, tim menyusun modul panduan teknis berdasarkan pengalaman perawatan harian selama di lapangan.
Modul ini memuat edukasi jenis-jenis maggot, prosedur perawatan harian, panduan takaran dan jenis pakan pada tiap fase pertumbuhan, hingga tata cara menjaga kualitas media budidaya.
Selain modul, luaran kegiatan turut mencakup panen maggot Batch 1, tempat budidaya yang terintegrasi dengan TPS3R, serta poster pemilahan sampah dan laporan monitoring. Seluruhnya dirancang agar dapat dijadikan acuan keberlanjutan program oleh warga dan pengurus TPS3R.

Dampak yang Dirasakan Warga
Program ini disambut baik oleh masyarakat Purwosari. Pak Marzuki, salah satu warga, menyampaikan bahwa edukasi dari mahasiswa KKN Undip mengubah cara pandang warga terhadap sisa makanan, dari sekadar limbah menjadi bahan yang dapat diolah menjadi pakan maggot bernilai guna.
“Kehadiran mahasiswa KKN Undip di Kelurahan Purwosari memberikan dampak positif nyata bagi kami, khususnya melalui program budidaya maggot. Berkat edukasi ini, masyarakat kini memahami cara mengolah limbah organik, seperti sisa makanan dan buah-buahan yang sebelumnya hanya dibuang, menjadi pakan maggot yang bernilai guna. Kami sangat berterima kasih kepada tim KKN Undip atas kontribusinya, semoga sukses dan berkah selalu,” ujar Pak Marzuki.
Apresiasi serupa disampaikan Ibu Mujiati, Kepala TPS3R Kelurahan Purwosari, yang menilai program ini menghidupkan kembali tata kelola sampah berbasis budidaya maggot, termasuk untuk mengolah limbah rumah tangga dan sisa program MBG.
“Program budidaya maggot ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam mengolah limbah sisa makanan rumah tangga hingga sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa KKN Undip atas inisiasinya. Harapannya, program maggot ini terus berlanjut dan dikembangkan di bawah pengawasan langsung Pak Lurah, meskipun memang ke depannya kita butuh komitmen alokasi biaya dan tenaga operasional agar tetap berjalan optimal,” ujar Ibu Mujiati, Kepala TPS3R Kelurahan Purwosari.
Menuju Pengelolaan Sampah Mandiri
Program budidaya maggot BSF di TPS3R Purwosari menunjukkan bahwa pengelolaan sampah organik berbasis biokonversi dapat menjadi solusi yang aplikatif sekaligus berkelanjutan.
Dengan modul yang telah disusun dan tempat budidaya yang sudah terintegrasi, warga dan pengurus TPS3R kini memiliki modal pengetahuan dan infrastruktur untuk melanjutkan program secara mandiri.
Tantangan selanjutnya terletak pada komitmen jangka panjang, baik dari sisi pendanaan maupun tenaga operasional, agar manfaat program ini terus dirasakan oleh masyarakat Purwosari.
Penulis: Tim KKN-Tematik 74 Universitas Diponegoro
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar