Jatengvox.com – Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) mulai terasa di pasar global. Namun, pemerintah memastikan kondisi tersebut belum menjadi ancaman serius bagi keuangan negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih dalam posisi terkendali meskipun harga minyak dunia merangkak naik hingga menyentuh 80 dolar AS per barel.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3). Ia menilai, pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup fleksibel untuk menghadapi fluktuasi harga energi global.
Menurut Purbaya, lonjakan harga minyak memang menjadi salah satu kanal utama dampak konflik geopolitik terhadap ekonomi Indonesia. Namun, selama harga minyak masih dalam rentang tertentu, APBN tetap dapat dikelola.
“Harga minyak sudah ke 80 dolar AS per barel. Saya hitung sampai 92 dolar AS pun kita masih bisa kendalikan anggarannya, jadi tidak masalah,” ujarnya.
Artinya, pemerintah telah mengantisipasi potensi kenaikan harga minyak dalam perhitungan fiskal. Selama tidak melampaui batas toleransi tersebut, tekanan terhadap subsidi energi maupun defisit anggaran dinilai masih bisa diredam.
Purbaya juga menegaskan dirinya tidak terlalu khawatir terhadap gejolak harga dalam jangka pendek. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan global sebelum menentukan langkah lanjutan.
Salah satu strategi utama untuk menjaga stabilitas fiskal adalah memperkuat penerimaan negara. Purbaya menekankan pentingnya memastikan tidak ada kebocoran dalam pengumpulan pajak dan cukai.
Menurutnya, optimalisasi penerimaan bisa menjadi bantalan untuk menekan potensi pelebaran defisit akibat kenaikan harga minyak.
“Pengumpulan pajak kita dan cukai tidak ada yang bocor. Jadi bisa kurangi tekanan ke defisit. Kalau sudah bagus nanti kita lihat dampaknya seperti apa, baru kita hitung langkah-langkah yang perlu kita lakukan,” jelasnya.
Dalam konteks APBN, kenaikan harga minyak memang bisa berdampak ganda. Di satu sisi, penerimaan negara dari sektor energi berpotensi naik. Namun di sisi lain, beban subsidi dan kompensasi energi juga bisa meningkat jika harga global terus melonjak.
Karena itu, keseimbangan antara pendapatan dan belanja menjadi kunci.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Israel melancarkan serangan yang disebut sebagai “operasi tempur besar” terhadap Iran pada Sabtu (28/2). Sejak itu, kedua pihak terlibat aksi saling serang yang memicu kekhawatiran pasar global.
Kawasan regional ikut terdampak. Jalur pelayaran di sekitar Teluk dilaporkan mengalami gangguan. Sejumlah kapal niaga tertahan, sementara beberapa perusahaan pelayaran global memilih menghentikan operasional demi alasan keselamatan awak dan kargo.
Di pasar Asia, harga minyak mentah Brent pada Senin (2/3/2026) melonjak ke kisaran 80–81,5 dolar AS per barel. Dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp1,35–1,37 juta per barel.
Lonjakan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Editor : Murni A














