Dorong Inovasi Pertanian Digital, Mahasiswa KKN-T IDBU 15 Universitas Diponegoro Perkenalkan Alat Pengukur Kelembapan Tanah Berbasis Arduino

waktu baca 5 menit
Senin, 27 Jul 2026 20:50 6 jatengvox

Jatengvox.com – Teknologi digital kini membuka peluang baru bagi petani pedesaan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Menjawab tantangan manajemen irigasi yang efisien, Tim Mahasiswa KKN-T IDBU 15 Universitas Diponegoro (Undip) merancang dan memperkenalkan Alat Pengukur Kelembapan Tanah Berbasis Arduino kepada petani di Desa Banyudono.

Inisiatif pengabdian masyarakat ini diselenggarakan melalui serangkaian workshop dan demonstrasi langsung di lahan pertanian Desa Banyudono, Kecamatan Banyudono, Boyolali.

Puluhan petani lokal memadati lokasi acara dengan minat tinggi terhadap inovasi teknologi pertanian yang ramah kantong dan mudah dioperasikan.

Solusi Teknologi untuk Petani Pedesaan

Sektor pertanian di tingkat desa menghadapi tantangan nyata dalam manajemen air irigasi. Banyak petani masih mengandalkan estimasi kasat mata untuk menentukan kapan tanah membutuhkan air, padahal hal ini sering kali tidak akurat dan menyebabkan pemborosan air atau bahkan kekeringan yang merugikan panen.

Latar belakang ini mendorong Tim Mahasiswa KKN-T IDBU 15 Universitas Diponegoro untuk mengembangkan solusi teknologi yang terjangkau dan mudah digunakan.

Perwakilan tim mahasiswa mengungkapkan bahwa pemilihan teknologi Arduino didasarkan pada biaya yang efisien dan kemudahan dalam perawatan dan modifikasi di masa depan.

Fitur Teknis dan Pelatihan Hands-On

Program yang dibuat ini tidak hanya mempresentasikan teori, melainkan juga melakukan pelatihan teknis langsung (hands-on training) dan instalasi alat di beberapa lahan percobaan milik petani setempat. Dalam pemaparannya, tim mengupas detail alat yang mencakup :

Baca juga:  Dewaweb Hadirkan SCALECON 2026 di Surabaya: Gerakan Nyata untuk Implementasi AI bagi Pebisnis

1. Komponen Utama & Spesifikasi: Arduino Uno — Board mikrokontroler berbasis chip ATmega328P yang berfungsi sebagai otak sistem, memproses data sensor dan mengontrol tampilan LCD. Sensor Soil Moisture LM393 — Sensor yang mendeteksi tingkat kelembapan tanah dengan mengukur konduktivitas listrik melalui dua probe logam yang ditancapkan ke tanah. LCD I2C 16×2 — Layar yang menampilkan hasil pembacaan persentase kelembapan tanah secara real-time, hanya membutuhkan 4 pin (VCC, GND, SDA, SCL). Kabel Jumper — Kabel penghubung pendek untuk menyambungkan komponen elektronik ke Arduino tanpa perlu disolder. Panel Box — Wadah pelindung untuk membungkus dan menata seluruh komponen elektronik agar rapi dan terlindung dari debu, benturan, serta kelembapan berlebih. Saklar DC 2 Kaki — Komponen untuk memutus dan menyambungkan aliran arus listrik DC, berfungsi sebagai tombol on/off alat. Holder Baterai 9V — Tempat dudukan baterai 9V yang dilengkapi konektor snap dan kabel untuk disambungkan ke rangkaian Arduino. Baterai 9V — Sumber daya listrik portabel yang menyalakan Arduino dan seluruh komponen tanpa perlu terhubung ke stopkontak. Kabel Data USB — Kabel penghubung Arduino ke komputer, digunakan untuk mengunggah program dan sebagai sumber daya sementara saat pengujian. Software Arduino IDE — Perangkat lunak untuk menulis, mengedit, meng-compile, dan mengunggah program ke Arduino Uno, serta menampilkan data sensor lewat Serial Monitor.

Baca juga:  Tingkatkan Akuntabilitas dan Kelola Kas Tanpa Ribet, KKN-T 74 Undip Dampingi Ibu-Ibu PKK Purwosari Lewat Pembukuan Digital Praktis

2. Cara Kerja Sistem: Prinsip kerja alat ini sendiri didasarkan pada pengukuran konduktivitas listrik tanah melalui dua elektroda atau probe logam yang ditancapkan ke tanah. Ketika tanah dalam kondisi basah, tanah tersebut menghantarkan listrik lebih baik sehingga hambatannya menjadi kecil dan tegangan output analog yang dihasilkan menjadi rendah. Sebaliknya, ketika tanah kering, hantaran listriknya buruk sehingga hambatan menjadi besar dan tegangan output analognya menjadi tinggi. Modul LM393 berperan sebagai komparator yang mengubah sinyal analog ini menjadi dua jenis output, yaitu AO (Analog Output) berupa nilai mentah dari 0 sampai 1023 yang digunakan pada alat ini untuk menghitung persentase kelembapan, dan DO (Digital Output) berupa sinyal ON/OFF.

3. Perawatan & Troubleshooting:

Perawatan Alat : Simpan alat di tempat yang kering dan tidak lembap agar komponen elektronik di dalam panel box tidak berjamur atau berkarat. Bersihkan probe sensor secara rutin dari sisa tanah, kotoran, atau karat setelah digunakan agar hasil pembacaan tetap akurat. Periksa kondisi baterai 9V secara berkala dan segera ganti jika daya sudah lemah, serta pastikan sambungan kabel jumper tidak longgar atau kendor akibat sering dipindah-pindah.

4. Troubleshooting: LCD tidak menyala/blank — Cek alamat I2C (biasanya 0x27 atau 0x3F) menggunakan sketch I2C Scanner, dan pastikan kabel SDA/SCL tersambung dengan benar. LCD menyala tapi kelembapan selalu 0% atau 100% — Lakukan kalibrasi ulang nilai dryValue dan wetValue sesuai kondisi sensor yang sebenarnya melalui Serial Monitor. Nilai sensor tidak berubah/stuck — Periksa apakah kabel AO sensor benar-benar terhubung ke pin A0 Arduino, dan pastikan probe sensor tidak berkarat atau kotor. Arduino tidak terdeteksi saat upload program — Cek port yang dipilih di Tools → Port pada Arduino IDE, pastikan kabel data USB terpasang dengan baik, dan cek driver CH340 jika menggunakan board clone. Alat mati mendadak saat digunakan — Periksa kondisi baterai 9V dan pastikan saklar dalam posisi ON serta sambungan ke holder baterai tidak longgar.

Baca juga:  Daftar Indeks Saham Dunia: Asia, Amerika, dan Eropa

Respons Positif dan Rencana Keberlanjutan

Perangkat Desa Banyudono menyampaikan apresiasi atas kehadiran program yang dianggap sangat relevan dengan kebutuhan petani lokal dan mendukung pertanian berkelanjutan.

Untuk memastikan keberlanjutan program, mahasiswa KKNT IDBU 15 Universitas Diponegoro menyerahkan luaran berupa:

1. Unit alat pengukur kelembapan tanah yang dapat dipasang di lahan percobaan kelompok tani

2. Panduan lengkap dalam bentuk modul untuk memandu operasional dan perawatan alat.

3. Komitmen pendampingan berkelanjutan selama periode tertentu untuk memastikan petani dapat mengoperasikan alat dengan optimal

Sinergi antara kampus dan komunitas petani ini diharapkan mampu membuka jalan bagi modernisasi pertanian di tingkat pedesaan, meningkatkan efisiensi sumber daya air, dan mendorong pertumbuhan ekonomi pertanian yang berkelanjutan.

 

 

Penulis: Rasyid Rijal Ahmadi

Editor: Murni Anggita

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA