Jatengvox.com – Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi warga RT 02 RW 04, Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, untuk mengembangkan usaha produktif.
Di tengah permukiman warga, sebuah usaha budidaya jamur tiram tumbuh dari pekarangan rumah dan menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.
Potensi usaha tersebut menarik perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 3 UIN Walisongo Semarang. Pada Selasa (4/8/2026), mahasiswa KKN melakukan wawancara dan observasi langsung ke lokasi budidaya jamur tiram milik warga.
Kegiatan tersebut dilakukan atas arahan Lurah Kalirejo yang merekomendasikan usaha tersebut sebagai salah satu potensi UMKM warga yang perlu digali dan dikembangkan.
“Saya menyarankan kalian mahasiswa KKN bisa mendatangi KWT petani jamur di RW 04 RT 02. Kalian bisa belajar dan menggali informasi dari mereka,” tutur Lurah Kalirejo.
Dalam wawancara bersama Ibu Mudawamah dan suaminya selaku pendiri usaha, diketahui bahwa perjalanan mereka dalam membangun budidaya jamur tiram tidaklah mudah. Sebelum menjalankan usaha tersebut, pasangan ini terlebih dahulu menggeluti usaha peternakan ayam.
Namun, usaha peternakan yang berada di dekat permukiman warga menimbulkan persoalan lingkungan karena bau yang ditimbulkan dianggap mengganggu masyarakat sekitar.
Kondisi tersebut membuat mereka harus menghentikan usaha peternakan dan kehilangan salah satu sumber mata pencaharian utama.
Memasuki 2009, pasangan tersebut sempat kebingungan menentukan usaha baru. Harapan untuk kembali bangkit muncul setelah seorang tetangga menyarankan mereka mencoba budidaya jamur tiram.
Berbekal keberanian untuk memulai kembali, Ibu Mudawamah dan suaminya kemudian memesan 5.000 baglog sebagai media tanam pertama dan memanfaatkannya di pekarangan rumah.
Budidaya jamur tiram dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari menyiapkan baglog, mengatur suhu dan kelembapan ruangan, hingga melakukan perawatan secara rutin. Setelah jamur tumbuh, panen dilakukan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan warga sekitar.
Untuk hambatan dan masalah yang dihadapi oleh Ibu Mudawamah dan suami saat ini adalah karena naiknya harga plastik sehingga harga baglog ikut naik, sedangkan harga pasar tidak bisa dinaikan karena keadaan pasar sedang sepi, masyarakat ekonomi lesu, sehingga keuntungan petani jamur yang berkurang.
Meski demikian, usaha tersebut tidak langsung menghasilkan keuntungan. Pada panen perdana, sebanyak 8 kilogram jamur tiram berhasil dipanen.
Namun, hasil tersebut tidak habis terjual karena masyarakat sekitar belum terbiasa dengan komoditas jamur tiram. Bahkan, selama kurang lebih satu tahun, pasangan tersebut belum memperoleh pemasukan yang pasti dari usaha tersebut. Kondisi itu sempat membuat mereka merasa putus asa.
Ketekunan akhirnya mulai membuahkan hasil. Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin mengenal dan menyukai jamur tiram yang mereka budidayakan.
Saat ini sudah ada 16.000 baglog yang dibudidayakan, usaha tersebut mampu menghasilkan jamur tiram segar secara rutin setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan warga sekitar.
Untuk membudidayakan jamur para petani jamur tidak perlu khawatir dengan limbah baglog, karena banyak orang-orang yang memanfaatkan untuk memelihara cacing.
Ibu Mudawamah berharap kehadiran mahasiswa KKN dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan usaha tersebut.
Ia juga berharap masyarakat dapat melihat pekarangan rumah sebagai lahan produktif yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi maupun ketahanan pangan keluarga.
“Harapan saya dengan adanya anak-anak KKN di sini, semoga bisa ikut mengembangkan usaha ini dan mengedukasi masyarakat agar dapat memanfaatkan halaman atau pekarangan rumah yang masih kosong. Walaupun hasilnya mungkin tidak seberapa, usaha seperti ini sangat penting untuk mendukung ketahanan pangan keluarga,” ujar Ibu Mudawamah.
Sementara itu, mahasiswa KKN Posko 3 UIN Walisongo Semarang mengumpulkan informasi mengenai kendala produksi, pemasaran, dan pengelolaan pascapanen.

Selanjutnya, mahasiswa berencana memberikan pendampingan melalui inovasi optimalisasi pemasaran digital untuk membantu memperluas jangkauan pasar jamur tiram dari Kelurahan Kalirejo.
Kisah budidaya jamur tiram tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan tidak selalu menjadi hambatan untuk berusaha.
Dengan ketekunan, pemanfaatan potensi lokal, serta pendampingan yang tepat, pekarangan rumah dapat dikembangkan menjadi ruang produktif yang mendukung perekonomian keluarga dan masyarakat.
Penulis: Tim KKN Posko 03 UIN Walisongo Semarang
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar