Jatengvox.com – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 dinilai tidak lepas dari faktor alam yang berpihak.
Curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun membuat produksi padi nasional mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi), Bustanul Arifin, menilai kondisi iklim pada 2025 menjadi salah satu yang paling bersahabat bagi sektor pertanian, khususnya tanaman padi.
Tidak adanya kemarau ekstrem membuat petani bisa menanam dan memanen dengan risiko gagal panen yang lebih rendah.
“Sepanjang 2025 hampir tidak ada kemarau ekstrem. Tuhan mahabaik bagi kita, sehingga luas panen bertambah menjadi sekitar 11,3 juta hektare,” ujar Bustanul dikutip dari laman RRI, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Dengan kondisi tersebut, produksi padi nasional pada 2025 diperkirakan mendekati 60 juta ton gabah kering giling (GKG).
Angka ini menjadi capaian penting dalam upaya menjaga ketersediaan beras nasional dan menekan ketergantungan pada impor.
Namun demikian, Bustanul menegaskan bahwa lonjakan produksi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemajuan dari sisi teknologi pertanian.
Ia menyebut peningkatan hasil panen masih sangat bergantung pada faktor cuaca, bukan pada inovasi sistem produksi yang lebih modern.
“Kita masih harus berjuang untuk melakukan inovasi teknologi. Kalau istilah sekarang, kita perlu masuk ke precision farming atau pertanian presisi,” katanya.
Menurut Bustanul, tanpa transformasi teknologi, capaian swasembada beras berisiko sulit dipertahankan jika kondisi iklim berubah di masa mendatang.
Pandangan senada disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Kusnan.
Ia menilai swasembada beras nasional pada 2025 merupakan capaian yang patut diapresiasi.
Produksi beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 44 juta ton, dengan dukungan iklim yang relatif stabil sepanjang tahun.
Menurut Kusnan, kondisi hujan dan kemarau yang “tidak ekstrem” membuat produktivitas petani tetap terjaga.
“Sepanjang tahun kita mengalami hujan atau kemarau batas. Sehingga produktivitas pertanian, terutama padi, bisa mencapai swasembada pangan,” ujarnya.
Meski begitu, Kusnan mengingatkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak boleh terus bergantung pada faktor alam semata.
Perubahan iklim global berpotensi memicu kekeringan, banjir, maupun anomali cuaca lain yang dapat mengganggu produksi pangan.
Untuk menghadapi tantangan ke depan, Kusnan menekankan pentingnya penerapan teknologi pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah sistem agroekologi yang dikombinasikan dengan pemantauan lahan secara presisi.
Pendekatan agroekologi dinilai mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian lingkungan.
Sistem ini memanfaatkan mikrobiologi tanah, penggunaan air yang lebih efisien, serta pengelolaan lahan berbasis data.
“Teknologi ini membantu petani memahami kondisi lahan secara detail. Penggunaan air dan bumbu organik menjadi jauh lebih efisien,” kata Kusnan.
Editor : Murni A













