Atasi Sampah Organik, Dosen Fakultas Teknik Unimal Latih Warga Padang Sakti Membuat Kompos Takakura dan Lubang Biopori

waktu baca 4 menit
Sabtu, 17 Okt 2026 21:00 2 jatengvox

Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan permukiman di Desa Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Berdasarkan analisis situasi tim dosen Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh (Unimal), sekitar 65 persen timbulan sampah rumah tangga di desa tersebut merupakan sampah organik.

Dengan jumlah penduduk mencapai 3.084 jiwa atau 787 kepala keluarga, keterbatasan sarana pengelolaan sampah serta kebiasaan membuang dan membakar sampah menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Menjawab permasalahan tersebut, tim dosen Universitas Malikussaleh melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penerapan Takakura Eco Village Berbasis Circular Economy untuk Reduksi Sampah Organik Permukiman di Desa Padang Sakti”.

Program ini memperkenalkan pengelolaan sampah organik melalui pembuatan kompos Takakura skala rumah tangga, komposter komunal menggunakan drum, serta pembuatan 10 lubang resapan biopori sebagai upaya mendukung lingkungan permukiman yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Skema Pengabdian Pembinaan Desa Lingkungan yang didanai melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam DIPA Universitas Malikussaleh Tahun Anggaran 2026.

Program ini diketuai oleh Dr. Ir. Abdul Jalil, S.T., M.T., dosen Teknik Sipil, dengan melibatkan tim dosen lintas program studi, yakni Lusyana Eka Wardani, S.P.W.K., M.P.W.K. dari Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), serta Dewi Fitria Marlisa, S.T., M.T., Maisarah, S.Si., M.T., dan Aisyah Protonia Tanjung, S.T., M.R.E. dari Teknik Lingkungan.

Baca juga:  Menteri PPPA Arifah Fauzi Tegaskan Pentingnya SIMFONI PPA Versi 3 dalam Penanganan Kekerasan

 

Rangkaian kegiatan Takakura Eco Village mulai dilaksanakan dari Tanggal 26 September 2026 yaitu sosialisasi dan praktik pembuatan kompos. Kegiatan Sosialisasi mengundang M. Nazaruddin, S.P., M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh, yang memaparkan pentingnya pengolahan sampah organik menjadi kompos serta manfaatnya dalam mendukung konsep circular economy atau ekonomi sirkular.

Melalui konsep tersebut, sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran dan kulit buah dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos yang berguna bagi tanaman, sekaligus mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke lingkungan.

Baca juga:  Jawa Tengah Tancap Gas Menuju Swasembada Pangan 2026, Ini Strategi Besarnya

Selanjutnya, Lusyana Eka Wardani, S.P.W.K., M.P.W.K., memandu demonstrasi pembuatan kompos Takakura melalui dua pendekatan, yaitu pengomposan skala rumah tangga menggunakan keranjang sederhana dan pengomposan komunal menggunakan drum berkapasitas lebih besar.

Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan bahan lokal seperti sekam padi dan dedak, penyiapan media pengomposan, hingga cara pengoperasian dan perawatan komposter.

Pada besok harinya, 27 September 2026 dilaksanakan pembuatan kompos komunal Takakura. Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan kompos Takakura dengan pendampingan tim dosen serta mahasiswa Program Studi Teknik Sipil dan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Malikussaleh.

Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan mampu mengolah sampah organik secara mandiri, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun melalui pengelolaan bersama pada tingkat komunal.

“Baru kali ini ada kegiatan yang benar-benar bermanfaat bagi kami, bukan hanya teori tetapi juga membuatnya langsung, sehingga kami bisa bawa pulang komposnya dan kami lanjutkan untuk membuat kompos harian”, ujar salah satu warga, Ibu Halimatus Sakdiah.

Hingga bulan Oktober tim terus memonitoring kondisi kompos. Selain pelatihan pengomposan, bulan oktober tim PKM juga melaksanakan pembuatan 10 lubang resapan biopori sebagai salah satu upaya mendukung pengelolaan lingkungan permukiman.

Baca juga:  Dorong Kemandirian Ekonomi, Tim KKN-T 74 UNDIP Susun Model Bisnis Boemi Maggot melalui Business Model Canvas

Penerapan teknologi sederhana ini bertujuan membantu meningkatkan peresapan air hujan ke dalam tanah pada lokasi yang sesuai sekaligus memperkenalkan alternatif penguraian sampah organik di lingkungan masyarakat.

Ketua tim PKM, Dr. Ir. Abdul Jalil, S.T., M.T., bersama tim pelaksana berharap kegiatan ini dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Melalui pemanfaatan teknologi Takakura dan lubang biopori, sampah organik yang sebelumnya dibuang diharapkan dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan.

“Melalui program Takakura Eco Village, Universitas Malikussaleh berharap masyarakat Desa Padang Sakti dapat mengembangkan pengelolaan sampah organik yang lebih mandiri dan berkelanjutan” kata Bapak , Dr. Ir. Abdul Jalil, S.T., M.T., selaku Ketua pelaksana.

Kegiatan ini menjadi wujud pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi melalui penerapan teknologi tepat guna untuk mendorong terwujudnya lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat, dan produktif berbasis ekonomi sirkular.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA