Cuaca Bersahabat Jadi Kunci Swasembada Beras 2025, Pakar Ingatkan Pentingnya Inovasi Teknologi

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 dinilai tidak lepas dari faktor alam yang berpihak.

Curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun membuat produksi padi nasional mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian (Perhepi), Bustanul Arifin, menilai kondisi iklim pada 2025 menjadi salah satu yang paling bersahabat bagi sektor pertanian, khususnya tanaman padi.

Tidak adanya kemarau ekstrem membuat petani bisa menanam dan memanen dengan risiko gagal panen yang lebih rendah.

“Sepanjang 2025 hampir tidak ada kemarau ekstrem. Tuhan mahabaik bagi kita, sehingga luas panen bertambah menjadi sekitar 11,3 juta hektare,” ujar Bustanul dikutip dari laman RRI, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Baca juga:  Mahasiswa dari 18 Negara Belajar Budaya Jawa di Semarang, MEJIC 2025 Jadi Ajang Diplomasi Budaya

Dengan kondisi tersebut, produksi padi nasional pada 2025 diperkirakan mendekati 60 juta ton gabah kering giling (GKG).

Angka ini menjadi capaian penting dalam upaya menjaga ketersediaan beras nasional dan menekan ketergantungan pada impor.

Namun demikian, Bustanul menegaskan bahwa lonjakan produksi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemajuan dari sisi teknologi pertanian.

Ia menyebut peningkatan hasil panen masih sangat bergantung pada faktor cuaca, bukan pada inovasi sistem produksi yang lebih modern.

“Kita masih harus berjuang untuk melakukan inovasi teknologi. Kalau istilah sekarang, kita perlu masuk ke precision farming atau pertanian presisi,” katanya.

Menurut Bustanul, tanpa transformasi teknologi, capaian swasembada beras berisiko sulit dipertahankan jika kondisi iklim berubah di masa mendatang.

Baca juga:  Pemerintah Dukung Inisiatif Lembaga HAM Bentuk Tim Independen Usut Demo Agustus 2025

Pandangan senada disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Kusnan.

Ia menilai swasembada beras nasional pada 2025 merupakan capaian yang patut diapresiasi.

Produksi beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 44 juta ton, dengan dukungan iklim yang relatif stabil sepanjang tahun.

Menurut Kusnan, kondisi hujan dan kemarau yang “tidak ekstrem” membuat produktivitas petani tetap terjaga.

“Sepanjang tahun kita mengalami hujan atau kemarau batas. Sehingga produktivitas pertanian, terutama padi, bisa mencapai swasembada pangan,” ujarnya.

Meski begitu, Kusnan mengingatkan bahwa ketahanan pangan nasional tidak boleh terus bergantung pada faktor alam semata.

Baca juga:  Kementerian PKP Pimpin Pemulihan Permukiman Pascabencana di Sumatra

Perubahan iklim global berpotensi memicu kekeringan, banjir, maupun anomali cuaca lain yang dapat mengganggu produksi pangan.

Untuk menghadapi tantangan ke depan, Kusnan menekankan pentingnya penerapan teknologi pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.

Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah sistem agroekologi yang dikombinasikan dengan pemantauan lahan secara presisi.

Pendekatan agroekologi dinilai mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian lingkungan.

Sistem ini memanfaatkan mikrobiologi tanah, penggunaan air yang lebih efisien, serta pengelolaan lahan berbasis data.

“Teknologi ini membantu petani memahami kondisi lahan secara detail. Penggunaan air dan bumbu organik menjadi jauh lebih efisien,” kata Kusnan.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

PBB Ingatkan Krisis Gaza Masih Berat Meski Fase Kedua Gencatan Senjata Dimulai
Cuaca Ekstrem Dini Hari, Jalur Kereta Pantura Sempat Terganggu
Kementerian PKP Pimpin Pemulihan Permukiman Pascabencana di Sumatra
Isra Mikraj 1447 H, Menag Tekankan Salat sebagai Pondasi Akhlak dan Kesadaran Ekologis
KPK Ingatkan Risiko Korupsi Penugasan Khusus Pertamina dalam Kerja Sama Energi dengan AS
RUU Penanggulangan Disinformasi Disorot DPR, Komisi I Minta Pemerintah Lebih Terbuka
Kemenhut Gandeng Yayasan Pertamina, Optimalisasi KHDTK Dorong Hutan Berkelanjutan dan Tangguh Bencana
Jawa Tengah Tancap Gas Menuju Swasembada Pangan 2026, Ini Strategi Besarnya

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 16:02 WIB

PBB Ingatkan Krisis Gaza Masih Berat Meski Fase Kedua Gencatan Senjata Dimulai

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:28 WIB

Cuaca Ekstrem Dini Hari, Jalur Kereta Pantura Sempat Terganggu

Jumat, 16 Januari 2026 - 10:18 WIB

Kementerian PKP Pimpin Pemulihan Permukiman Pascabencana di Sumatra

Jumat, 16 Januari 2026 - 08:42 WIB

Isra Mikraj 1447 H, Menag Tekankan Salat sebagai Pondasi Akhlak dan Kesadaran Ekologis

Kamis, 15 Januari 2026 - 14:35 WIB

RUU Penanggulangan Disinformasi Disorot DPR, Komisi I Minta Pemerintah Lebih Terbuka

Berita Terbaru