Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang, Posko 143, mengadakan kegiatan sinema edukatif bersama siswa kelas 5 MI Sunan Kalijaga di Desa Werdoyo, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak pada tanggal 22 Agustus 2026.
Kegiatan ini menggunakan film animasi Jumbo sebagai alat pembelajaran dengan tema utama perundungan atau ejekan.
Kegiatan ini bukan hanya tentang menonton film: tetapi juga bertujuan untuk memberi anak-anak ruang untuk mengenali, berbagi, dan memahami pengalaman mereka sendiri tentang perundungan yang pernah mereka alami.
Film Jumbo dipilih sebagai film edukatif karena cerita yang disajikan dekat dengan kehidupan anak – anak. Film ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki bernama Don yang menghadapi banyak kesulitan dalam hidupnya, termasuk perlakuan tidak baik dari teman-temannya.
Melalui kisah Don, anak -anak belajar bahwa mengejek, mengucilkan, memberi label, memberi julukan yang menyakitkan, atau menyakiti teman secara fisik bukanlah sesuatu yang dapat dianggap hanya sebagai lelucon biasa.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film Jumbo. Anak-anak tampak gembira saat mengikuti cerita dan karakter dalam film tersebut.
Setelah itu Setelah film berakhir, para mahasiswa KKN meminta anak – anak untuk mendiskusikan pesan -pesan yang dapat mereka ambil dari film tersebut. Anak-anak diberi kesempatan untuk berbagi pendapat mereka tentang apa yang dilakukan karakter dalam film.
Bagaimana perasaan seseorang ketika diperlakukan dengan buruk, dan tindakan apa yang harus diambil ketika melihat seorang teman diintimidasi.
Jadi mereka berhenti berdiskusi sepanjang waktu, dan kemudian para mahasiswa KKN memberi anak -anak kesempatan untuk merenung dengan melakukan kegiatan menulis.
Setiap anak diminta untuk menulis tentang pengalaman atau bentuk intimidasi apa pun yang pernah mereka hadapi, tanpa harus menyebutkan nama orang yang melakukannya.
Mereka juga diminta untuk menulis tentang bagaimana perasaan mereka ketika mengalami perlakuan tersebut.
Kegiatan ini penting karena memberi anak -anak ruang aman untuk mengekspresikan perasaan mereka yang mungkin belum pernah mereka bagikan dengan orang lain sebelumnya.
Berbagai pengalaman yang ditulis oleh anak-anak menunjukkan bahwa intimidasi tidak selalu melibatkan kekerasan fisik. Ada juga pengalaman seperti dipanggil dengan nama – nama yang tidak disukai seseorang, dan hal – hal yang menyakitkan lainnya.
Melalui kegiatan ini, anak-anak mulai memahami bahwa setiap orang perlu merasa dihargai dan tidak ada alasan untuk menyakiti orang lain.

Suasana kegiatan kemudian menjadi lebih menyentuh ketika mahasiswa KKN mengajak anak – anak untuk berpartisipasi dalam sesi Pelukan Kupu-Kupu.
Dalam sesi ini, anak -anak diminta untuk menyilangkan tangan di depan dada dan memeluk diri mereka sendiri dengan lembut, bergantian sisi. Kegiatan ini disertai dengan kalimat – kalimat penegasan yang diucapkan perlahan dan dengan perasaan yang mendalam.
Anggota Divisi Pendidikan dan Keagamaan, Khoirun Nisa, menyampaikan bahwa kegiatan ini disusun agar anak-anak memahami bahaya bullying, berani mengungkapkan perasaan, menghargai diri sendiri, dan saling menghargai satu sama lain.
“Kami mengingatkan anak-anak bahwa mereka berharga, tidak sendirian, berhak mendapatkan perlakuan yang baik, serta tidak perlu merasa rendah diri karena perkataan atau perlakuan buruk dari orang lain. Anak-anak juga diajak untuk mengingat kembali pengalaman yang pernah membuat mereka sedih, kemudian menerima perasaan tersebut tanpa harus menyalahkan diri sendiri,” ujar Nisa
Salah satu siswa kelas 5 MI Sunan Kalijaga Mujib, mengaku merasa senang dapat mengikuti kegiatan Sinema Edukasi film Jumbo yang mengangkat tema bullying.
Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut membuatnya lebih memahami pentingnya menghargai teman dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
“Saya senang mengikuti kegiatan ini karena bisa belajar tentang bullying dan bagaimana cara kita memperlakukan teman dengan baik. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi tahu bahwa mengejek atau membuat teman sedih itu tidak baik. Saya juga ingin menjadi teman yang bisa saling membantu dan tidak membully teman,” ungkap Mujib.
Kegiatan Sinema Edukasi tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai bahaya bullying, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk berbicara ketika mengalami atau melihat tindakan perundungan. Melalui kegiatan menonton, berdiskusi, menulis pengalaman, hingga sesi afirmasi, anak-anak diajak untuk memahami bahwa setiap perasaan mereka berharga dan layak untuk didengarkan.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 143 berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman yang berkesan bagi siswa-siswi MI Sunan Kalijaga. Pesan yang disampaikan melalui film dan kegiatan refleksi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Anak-anak diharapkan mampu membangun pertemanan yang lebih positif, saling mendukung, menghargai perbedaan, serta berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk bullying.

Melalui Sinema Edukasi ini, mahasiswa KKN Posko 143 tidak hanya mengajak anak-anak untuk memahami bullying, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menyadari bahwa luka yang pernah dialami bukanlah sesuatu yang harus disimpan sendiri.
Dengan dukungan dan lingkungan yang positif, setiap anak dapat belajar menerima dirinya, bangkit dari pengalaman yang menyakitkan, dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai kekuatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri serta peduli terhadap sesama.
Penulis: Tim KKN Posko 143 UIN WALISONGO SEMARANG (Divisi Pendidikan dan Keagamaan)
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar