Jatengvox.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro telah memberikan sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga dengan mengadaptasi metode 5S dari budaya Jepang. Kegiatan itu dilaksanakan melalui program multidisiplin di Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang.
Program yang dibawakan oleh M. Salman Raditya, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Bahasa dan Kebudayaan Jepang, tersebut menjadi bagian dari tema Multidisiplin 1, yaitu “Optimalisasi & Inovasi Pengelolaan Sampah Residu untuk Mewujudkan Desa Tegalsari Bersih.”
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai respons terhadap permasalahan pengelolaan sampah yang masih menjadi salah satu perhatian di Desa Tegalsari. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dalam pelaksanaan KKN, pengelolaan sampah di desa belum berjalan secara optimal.
Bank Sampah yang sebelumnya telah dibentuk sempat mengalami kevakuman, sedangkan sebagian masyarakat masih memiliki kebiasaan mencampurkan sampah, membakar sampah rumah tangga secara terbuka, maupun membuang sampah secara tidak teratur. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya edukasi dan pembiasaan dalam pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Melalui program tersebut, Salman memperkenalkan konsep 5S, yaitu Seiri (memilah), Seiton (menata), Seiso (membersihkan), Seiketsu (menjaga kebersihan dan keteraturan), serta Shitsuke (membiasakan dan mendisiplinkan). Konsep yang berasal dari budaya Jepang tersebut diadaptasi menjadi pendekatan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam memilah, menempatkan, menjaga kebersihan, serta membangun kebiasaan pengelolaan sampah secara tertib.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi perlu dikenali berdasarkan jenis dan cara pengelolaannya. Penerapan 5S diarahkan agar masyarakat mulai membangun kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah sesuai jenisnya dan menempatkannya pada tempat yang telah ditentukan.
Pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dengan langkah yang besar. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah dari rumah dan menempatkannya sesuai jenis dapat menjadi langkah awal yang dilakukan masyarakat.
“Melalui metode 5S, kami ingin mengenalkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, seperti memilah dan menempatkan sampah sesuai jenisnya. Harapannya, kebiasaan tersebut dapat diterapkan secara terus-menerus oleh masyarakat Desa Tegalsari,” tutur Salman.
Salah seorang warga yang mengikuti kegiatan tersebut juga menilai bahwa penyampaian materi oleh Mahasiswa KKN cukup mudah dipahami.
“Dengan adanya sosialisasi ini, kami jadi lebih paham bahwa mengelola sampah bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya memilah sampah dari rumah dan membuangnya sesuai jenisnya. Dari kebiasaan kecil itu, kami bisa mulai bergerak dan membiasakannya bersama-sama,” ujar seorang warga peserta kegiatan.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dari bidang Bahasa dan Kebudayaan Jepang dalam mendukung penyelesaian persoalan lingkungan di Desa Tegalsari. Pengetahuan mengenai budaya Jepang tidak hanya diperkenalkan dari sisi bahasa dan kebudayaannya, tetapi juga diadaptasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui edukasi pengelolaan lingkungan.
Pelaksanaan sosialisasi menunjukkan bahwa masyarakat memperoleh pemahaman mengenai penerapan prinsip 5S dalam pengelolaan sampah. Meskipun demikian, masih terdapat hambatan berupa kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya terbiasa memilah sampah. Oleh karena itu, penerapan metode 5S membutuhkan proses pembiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan agar dapat menjadi bagian dari perilaku sehari-hari masyarakat.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya multidisiplin Tim II KKN dalam menangani persoalan sampah di Desa Tegalsari. Selain edukasi 5S, program multidisiplin turut mencakup penyusunan Rencana Anggaran Biaya pembangunan incinerator, penguatan tata kelola Bank Sampah melalui SOP, perancangan skema pengelolaan sampah, psikoedukasi mengenai pengelolaan sampah, pengembangan sistem informasi, pendampingan pencatatan keuangan Bank Sampah, hingga perancangan dan pembuatan insinerator sederhana.
Harapan ke depannya, penerapan 5S diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat dilanjutkan melalui kebiasaan masyarakat dalam memilah dan menempatkan sampah sesuai jenisnya. Edukasi mengenai prinsip 5S juga dapat terus diperkenalkan melalui kegiatan masyarakat maupun materi edukasi yang tersedia di Desa Tegalsari sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih tertib dan berkelanjutan.
Penulis : M. Salman Raditya
Fakultas : Ilmu Budaya
Jurusan : Bahasa dan Kebudayaan Jepang
NIM : 13020223140128
Editor : Uswatun Khasanah
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar