Mahasiswa KKN UNDIP Melakukan Sesi Dokumentasi dengan Pak Sumito dan Istrinya pada Sabtu (25/7/2026) Jatengvox.com – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) membawa angin segar bagi perkembangan ekonomi lokal di Desa Tumbal. Melalui tajuk “Optimalisasi Sektor UMKM Keripik Singkong dan Penguatan Legalitas Usaha Berkelanjutan,” sebuah tim yang terdiri dari sebelas mahasiswa lintas disiplin ilmu bahu-membahu merumuskan solusi inovatif untuk memajukan usaha keripik singkong milik Bapak Sumito.
Program yang diusung tidak sekadar teori, melainkan aksi nyata yang menyentuh seluruh denyut nadi usaha—mulai dari wajah produk, tata kelola mesin, hingga administrasi keuangan dan pajak.
Langkah transformasi diawali oleh Alya Rizqina Rahmadyani (Ilmu Komunikasi) yang meremajakan wajah produk melalui rebranding identitas visual.
Alya merancang logo baru yang sarat makna dan menghadirkan stempel custom packaging, sebuah solusi cerdas yang membuat proses pelabelan kemasan menjadi jauh lebih praktis dan menarik secara visual.
Tak berhenti pada kemasan, visibilitas usaha di dunia nyata dan maya turut diperkuat. Annisa Shafania Putri (Manajemen dan Administrasi Logistik) mengambil inisiatif strategis dengan mendaftarkan lokasi rumah produksi ke dalam Google Business Profile agar mudah dilacak melalui sistem GPS.
Pada 25 Juli 2026, ia juga memasang banner identitas di area depan tempat usaha guna mempermudah akses bagi armada kurir maupun distributor logistik.
Menyasar efisiensi operasional harian, Maria Claretha Arliene (Bahasa dan Kebudayaan Jepang) menanamkan prinsip budaya kerja 5S asal Jepang (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke).
Melalui pemberian modul panduan interaktif, pemilik usaha diajak untuk konsisten menjaga kebersihan dan penataan ruang produksi, yang pada akhirnya akan mendongkrak produktivitas serta mutu produk.
Untuk memetakan arah bisnis yang lebih menjanjikan, Rajwa Rakan Riansyah (Administrasi Bisnis) turun tangan menyusun Business Model Canvas (BMC).
Pendampingan ini membantu pemilik usaha menstrukturkan target pasar, saluran distribusi, hingga arus pendapatan, yang semuanya dirangkum dalam modul pengembangan bisnis berkelanjutan.
Guna mengoptimalkan daya tahan produk di pasaran, Muhammad Kahfi Gilang Ramadhan (Teknik Perkapalan) mengedukasi teknik penggunaan mesin impulse sealer secara presisi.
Pemilik UMKM dilatih langsung untuk mengontrol waktu penyegelan agar kemasan keripik menjadi lebih kedap udara, konsisten, dan memenuhi aspek keselamatan kerja.
Kualitas kemasan tersebut juga diimbangi dengan jaminan kebersihan oleh Raisya Syahwalani (Kesehatan Masyarakat), yang menyoroti pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta keamanan pangan.
Edukasi komprehensif terkait sanitasi ruang produksi, kebersihan diri pekerja, hingga mitigasi kontaminasi bahan kimia dirangkum apik dalam sebuah buku saku operasional.
Tak hanya fokus pada ranah teknis, payung hukum usaha pun ikut diperkokoh. Rafi Akbar Pradana (Hukum) mengawal penuh proses penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui platform Online Single Submission (OSS).
Dokumen legalitas ini diserahkan langsung kepada pelaku usaha sebagai “tiket” untuk mengakses berbagai program pembinaan dari pemerintah.
Melengkapi urusan kepatuhan bernegara, Ega Ratanika (Akuntansi Perpajakan) memberikan pendampingan pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) secara daring melalui sistem Coretax DJP, membekali pemilik UMKM dengan modul agar siap mengurus urusan pajaknya secara mandiri.
Membedah urusan dapur finansial, Amanda Nasywa Zahira (Akuntansi) hadir membenahi sistem tata kelola uang yang sebelumnya masih bercampur baur.
Ia menanamkan kebiasaan memisahkan uang pribadi dan hasil dagang melalui penggunaan dompet fisik yang berbeda, memberikan buku kas, serta melatih perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) agar margin keuntungan bersih dapat diketahui secara pasti dan logis.
Inovasi berkelanjutan turut diprakarsai oleh M. Mufid Kelvin (Agroekoteknologi) yang berhasil menyulap limbah kulit singkong menjadi “emas baru”.
Kulit yang biasanya menjadi residu produksi kini difermentasi menjadi pupuk organik cair, sementara bagian lainnya diolah sedemikian rupa menjadi varian keripik alternatif yang memiliki nilai jual tersendiri.
Sebagai gerbang informasi di era serba digital, Syahla Sandiani Assyifa Adam (Informatika) merancang profil UMKM menggunakan platform Linktree.
Lewat satu tautan serbaguna ini, seluruh informasi mulai dari kelengkapan profil, katalog produk, dokumentasi, lokasi peta, hingga kontak pemilik kini dapat diakses dengan sangat mudah oleh calon pelanggan di dunia maya.
Integrasi dari kesebelas program gagasan mahasiswa ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan multidisiplin mampu mengurai kompleksitas kendala di lapangan. UMKM keripik singkong di Desa Tumbal kini memiliki bekal yang mumpuni untuk terus melesat menjadi usaha yang mandiri, tertata, taat hukum, dan siap bersaing di era digital.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar