Mahasiswa KKN Tim II Undip program studi Ilmu Ekonomi menunjukkan luaran implementasi program Inklusi Keuangan bersama pelaku UMKM di Desa Depok. Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) dari program studi Ilmu Ekonomi, Pieyo Nasrulloh Abienes, sukses melaksanakan program Inklusi Keuangan dan Spasial UMKM.
Berbeda dengan pendekatan sosialisasi konvensional pada umumnya, intervensi ekonomi ini dilaksanakan melalui pendampingan teknis secara bertahap dan intensif, terhitung sejak Kamis (30/7/2026) hingga Kamis (6/8/2026) di Desa Depok.
Langkah taktis ini merupakan perwujudan konkret dari Sustainable Development Goals (SDGs) pilar ke-8, yakni Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta pilar ke-9 yang berfokus pada penguatan Inovasi dan Infrastruktur digital di tingkat akar rumput.

Inisiatif ini lahir dari diagnosis masalah terkait lambatnya penetrasi ekosistem ekonomi digital pada sektor usaha mikro di desa.
Berbekal disiplin keilmuan dari program studi Ilmu Ekonomi, Pieyo menemukan adanya asimetri informasi dan miskonsepsi yang kuat di kalangan pelaku UMKM lokal.
Sebagian besar pelaku usaha masih enggan mengadopsi sistem pembayaran non-tunai (cashless) akibat ketakutan terhadap tingginya potongan biaya administrasi serta anggapan keliru mengenai sulitnya proses pencairan dana ke rekening pribadi.
Selain itu, kebiasaan pencatatan arus kas (pemasukan dan pengeluaran) masih dilakukan secara acak atau sekadar diingat (mental accounting), yang berdampak pada rentannya kesehatan finansial usaha.

Untuk mengurai hambat struktural tersebut, intervensi difokuskan pada dua instrumen utama.
Pertama, melakukan edukasi sekaligus pelurusan miskonsepsi (debunking) secara langsung (door-to-door) mengenai skema biaya dan mekanisme Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Kedua, perancangan dan pendistribusian templat pembukuan arus kas ganda yang aplikatif, baik dalam format digital (Microsoft Excel) maupun cetak (manual), menyesuaikan dengan tingkat literasi teknologi masing-masing pelaku usaha.
Mba Hana, selaku pemilik usaha Griya Laundry di Desa Depok, mengungkapkan dampak nyata dari pendampingan teknis tersebut terhadap operasional bisnisnya sehari-hari.
” Selama ini kami takut pakai QRIS karena katanya uangnya susah cair dan potongannya besar. Berkat pendampingan dari Mas Pieyo, kami jadi paham cara pakainya. Sekarang pembeli dari luar desa juga lebih gampang kalau mau bayar. Buku kas yang diajarkan juga bikin kami tahu pasti berapa untung bersih tiap hari ” ungkap Mba Hana.
Pada akhir minggu keempat masa pendampingan, program ini mencatatkan tingkat adopsi teknologi yang signifikan. Para pelaku UMKM sasaran kini telah mengimplementasikan QRIS sebagai alternatif pembayaran tanpa adanya lagi kekhawatiran terkait disinformasi biaya admin.
Secara manajerial, intervensi berkelanjutan ini sukses memicu perubahan perilaku yang positif. UMKM mulai terbiasa mencatat arus kas secara rutin, rapi, dan terstruktur.
Transformasi dari tata kelola tradisional menuju sistem pencatatan yang disiplin ini menjadikan kesehatan finansial UMKM Desa Depok jauh lebih transparan, terukur, dan siap untuk naik kelas.
Penulis: Koordinator Desa Depok / Tim KKN II Undip Desa Depok
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar